news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM) di Bogor pada Kamis (15/5/2026)..
Sumber :
  • Eko Hadi/tvOne

KDM Dorong Naskah Akademik Cagar Budaya untuk Cegah 'Missing Link' Sejarah

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), menekankan pentingnya pendokumentasian sejarah melalui karya ilmiah untuk menjaga kelestarian peradaban budaya Sunda.
Jumat, 15 Mei 2026 - 07:59 WIB
Reporter:
Editor :

Bogor, tvOnenews.com - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), menekankan pentingnya pendokumentasian sejarah melalui karya ilmiah untuk menjaga kelestarian peradaban budaya Sunda.

Ia mendorong agar seluruh benda cagar budaya, khususnya di kawasan Batu Tulis, dituangkan ke dalam naskah akademik yang komprehensif. Hal ini disampaikan KDM saat mengunjungi Museum Pajajaran, Kota Bogor, pada Kamis (14/5/2026).

Menurutnya, naskah akademik sangat krusial untuk memastikan tidak ada mata rantai yang terputus (missing link) antara kegemilangan masa lalu dengan arah pembangunan di masa depan.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM) di Bogor pada Kamis (15/5/2026).
Sumber :
  • Eko Hadi/tvOne

"Kita butuh buku atau naskah akademik yang menjelaskan secara komprehensif setiap peninggalan yang ada. Misalnya Prasasti Batu Tulis, harus ada kajian akademis mengenai tanggal pembuatan, bahan, hingga arti tulisannya. Begitu juga Mahkota Binokasih," ujar KDM.

KDM menyoroti fenomena masyarakat yang sering kali melihat benda cagar budaya hanya dari sudut pandang mistis. Ia ingin mengubah paradigma tersebut menjadi cara pandang yang teknokratis dan berbasis peradaban.

"Kegiatan ini bertujuan mengubah cara pandang kita, dari yang semula bersifat klenik menjadi teknokratis. Kita harus menyadari bahwa leluhur kita sudah memiliki kecerdasan peradaban yang luar biasa, baik dalam cara berpikir maupun bertindak," tegasnya.

Lebih jauh, KDM menjelaskan bahwa naskah akademik bukan sekadar dokumen di atas kertas. Nantinya, kajian tersebut harus menjadi kompas bagi pemerintah dalam menentukan kebijakan tata ruang dan pembangunan fisik.

Ia mengkritik kondisi saat ini di mana pembangunan sering kali mengabaikan lanskap sejarah, yang berujung pada kerusakan lingkungan.

"Naskah akademik ini nantinya harus diturunkan menjadi kebijakan tata ruang dan bangunan. Jujur saja, konsepsi pembangunan kita hari ini masih berantakan. Contohnya di Batu Tulis, daerah yang harusnya jadi kawasan hijau atau serapan justru dijadikan jalan, akhirnya terjadi longsor. Itu tandanya ada yang salah dengan lanskapnya," jelas KDM.

Dalam kunjungannya KDM juga menyinggung rencana alokasi anggaran Rp9 miliar untuk pengembangan Museum Pajajaran. 

Ia menegaskan anggaran tersebut akan difokuskan untuk memperbaiki spesifikasi museum agar sesuai standar internasional, termasuk pengaturan sirkulasi udara dan keamanan benda purbakala.

"Pembangunan jalan, jembatan, irigasi, dan gedung di masa depan harus melihat aspek lanskap dan tata letak sejarah sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan," pungkasnya. (ehl/muu)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:32
02:45
01:32
01:18
01:32
01:58

Viral