news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi Rokok.
Sumber :
  • ANTARA

Miris! Pengeluaran Keluarga Indonesia untuk Rokok Lebih Tinggi Dibanding Beli Telur dan Ayam

Angka tersebut lebih tinggi dibanding pengeluaran untuk telur ayam ras yang tercatat sebesar 4,30 persen.
Minggu, 24 Mei 2026 - 11:02 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Sekretaris Jenderal Komnas Pengendalian Tembakau, Tulus Abadi, menilai tingginya pengeluaran masyarakat untuk membeli rokok menjadi salah satu faktor yang memperburuk kondisi ekonomi rumah tangga di Indonesia.

Menurut Tulus, belanja rokok di banyak keluarga bahkan lebih besar dibanding pengeluaran untuk kebutuhan makanan bergizi yang penting bagi kesehatan anggota keluarga.

"Pengeluaran untuk rokok sering kali lebih tinggi dibanding kebutuhan pangan bergizi, seperti telur, susu, buah, dan sayur," kata Tulus Abadi, Minggu (24/5/2026).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang disampaikan Kementerian Kesehatan (Kemenke) menunjukkan pengeluaran rumah tangga di wilayah perkotaan untuk rokok kretek filter mencapai 11,30 persen dari total pengeluaran per kapita. 

Angka tersebut lebih tinggi dibanding pengeluaran untuk telur ayam ras yang tercatat sebesar 4,30 persen.

Sementara itu di wilayah pedesaan, alokasi belanja untuk rokok berada di angka 10,78 persen. Adapun pengeluaran untuk telur ayam ras hanya sebesar 3,69 persen.

Tulus menilai tingginya konsumsi rokok berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat, terutama kelompok rentan. 

Menurutnya, besarnya uang yang digunakan membeli rokok membuat kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan penting lain menjadi berkurang.

Ia menyebut kondisi tersebut turut memengaruhi penurunan kelas menengah di Indonesia karena masyarakat semakin kesulitan memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan bergizi, layanan kesehatan, hingga biaya pendidikan.

“Pengendalian konsumsi rokok harus menjadi prioritas utama, karena dampaknya sangat luas, bukan hanya pada kesehatan tetapi juga ekonomi dan kualitas sumber daya manusia,” ujar Tulus Abadi.

Selain menyoroti pola konsumsi masyarakat, Tulus juga mempertanyakan arah kebijakan cukai rokok tahun 2026. Ia menilai masih muncul keraguan apakah kebijakan tersebut benar-benar ditujukan untuk menekan konsumsi rokok atau justru mengakomodasi kepentingan industri tembakau.

Dalam materi yang dipaparkan pada lokakarya itu dijelaskan bahwa dampak rokok tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga menyentuh berbagai sektor lain.

Nikotin yang terdapat pada rokok maupun vape disebut dapat memengaruhi perkembangan otak anak dan remaja secara permanen karena otak masih berada dalam masa pertumbuhan.

Selain itu, konsumsi rokok juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko berbagai penyakit kronis, mulai dari kanker, stroke, penyakit jantung, PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis), hingga diabetes.

Berita Terkait

1
2 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

06:17
12:40
03:47
02:02
05:02
04:25

Viral