- istimewa - antaranews
Bayang-Bayang Perang Air Dunia, Wamenlu Tata Bongkar Ancaman Baru Krisis Air Karena AI
“Jika kita gagal mengaturnya secara strategis, krisis berikutnya tidak akan diperjuangkan karena minyak atau tanah, mereka akan diperjuangkan karena air,” tegas Tata.
Pernyataan tersebut menjadi sorotan karena menggambarkan potensi meningkatnya perebutan sumber daya air di tengah pertumbuhan industri digital dan kebutuhan energi dunia.
Tata Kritik Sistem Multilateral Global
Selain membahas ancaman air dari industri digital, Arrmanatha Nasir juga menyoroti kondisi sistem multilateral global yang dinilai semakin melemah.
Ia menilai lembaga internasional saat ini sedang menghadapi tantangan besar dalam merespons berbagai krisis global, termasuk persoalan air.
“Selain itu, dengan sistem multilateral yang kita andalkan untuk menghadapi krisis ini, itu sendiri sedang dalam krisis,” ujarnya.
Menurut Tata, reformasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kini menjadi kebutuhan mendesak dan bukan lagi sekadar perdebatan birokrasi internasional.
Tata Soroti Reformasi PBB
Dalam pidatonya, Tata menegaskan:
-
Reformasi PBB berkaitan langsung dengan krisis air dunia
-
Ketahanan air menjadi ujian sistem internasional
-
PBB dipertaruhkan jika gagal menjawab persoalan air global
-
Akses air bersih menjadi bagian penting perdamaian dan pembangunan
“Oleh karena itu, reformasi PBB bukanlah perdebatan prosedural, ini adalah perdebatan air, dan ujian apakah tatanan internasional masih berfungsi untuk mayoritas umat manusia,” kata Tata.
Ia bahkan menilai legitimasi PBB dapat dipertanyakan apabila gagal menghadirkan solusi nyata terhadap persoalan air global.
“Karena PBB yang tidak dapat memberikan air, tidak dapat secara kredibel mengklaim untuk memberikan perdamaian atau pembangunan,” lanjutnya.
Dushanbe Water Conference Jadi Forum Strategis Dunia
Dushanbe Water Conference 2026 merupakan forum internasional yang digagas Pemerintah Tajikistan bersama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Forum tersebut menjadi bagian dari upaya global mempercepat implementasi Water Action Agenda dan target Sustainable Development Goals (SDGs) 2030, khususnya SDG 6 terkait akses air bersih dan sanitasi.
Konferensi dibuka langsung Presiden Tajikistan Emomali Rahmon dan dihadiri perwakilan dari 110 negara serta 75 organisasi internasional.
Salah satu tokoh Indonesia yang turut hadir yakni Utusan Sekjen PBB untuk Isu Air Retno L.P. Marsudi.