- Kolase Istimewa & Antara
Masih Ingat Santriwati Hamil Lewat Mimpi? Terungkap Diduga Jadi Korban Kiai Cabul Pimpinan Ponpes Pekalongan
Ayah F, Slamet menjelaskan perubahan kondisi putrinya. Keluarga merasa curiga anaknya telah berhenti menstruasi sejak September 2025.
Kecurigaan keluarga mulai terjawab. Puncaknya terjadi saat F melahirkan seorang bayi laki-laki yang berlangsung di Klinik Imamah, Kecamatan Doro pada 13 Desember 2025.
Sang ayah mengaku terkejut atas kehamilan putrinya. Padahal F tidak pernah menunjukkan tanda-tanda kehamilan sedikit pun selama berbulan-bulan.
F juga membantah pernah menjalin hubungan asmara dengan laki-laki lain. Namun, ia telah merasa perutnya kerap membeas di waktu menjelang Maghrib hingga Isya.
Ayahnya menceritakan pengakuan dari F. Pasalnya sang anak pernah menempuh pendidikan di sebuah pondok pesantren yang beralamat di Buaran, Pekalongan.
Berdasarkan pengakuan putrinya, F kerap kali bermimpi saat masih berada di pesantren tersebut dan di rumahnya. Bahkan sebelum dikabarkan hamil, F juga sudah selalu mengalami mimpi serupa.
Hasil berhubungan badan melalui mimpi itu dinilai berkaitan dengan kehamilan F. Sang ayah merasa peristiwa ini sebagai bagian mukjizat.
Peristiwa ini pun mengguncang warga Pekalongan pada Mei 2026. Banyak sekali tidak mempercayai kehamilan seorang wanita tanpa berhubungan badan dengan laki-laki lain.
Keluarga hanya bisa pasrah atas kejadian ini. Namun, keluarga memutuskan agar bayi laki-laki dilahirkan F diserahkan kepada keluarga pengadopsi di Kabupaten Banjarnegara.
Penyerahhan tersebut melalui prosedur resmi. Alasannya akibat F mengalami tekanan sosial sehingga sangat berdampak pada kondisi psikis putrinya.
Terkini, pihak berwajib menggugurkan narasi santriwati "hamil lewat mimpi". Polres Pekalongan Kota melakukan tes DNA sebagai upaya pendekatan persuasif dan investigasi ilmiah.
Pada akhirnya, polisi resmi menangkap pemimpin Padepokan Padang Ati pada 27 Mei 2026. Kiai tersebut sebagai pengasuh sekaligus pimpinan ponpes yang pernah menjadi tempat F menimba ilmu.
Peristiwa penangkapan sempat tidak terkendali saat ponpes tersebut digeruduk oleh sekelompok massa dari organisasi masyarakat (ormas) Yakuza Maneges.
Kapolres Pekalongan Kota, AKBP Riki Yariandi menjelaskan pihaknya menangkap terduga pelaku didasari hasil laporan dari enam santriwati diduga menjadi tindak pidana asusila AKF.
"Kami juga membuka kemungkinan adanya tambahan korban lain mengingat jumlah dugaan korban yang belum berani melapor disebut mencapai lebih dari 25 orang," kata Riki.