news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi BBM.
Sumber :
  • Freepik

LPG, BBM, hingga Tiket Pesawat Naik, Inflasi Indonesia Tembus 3,08 Persen

Secara tahunan, inflasi tercatat mencapai 3,08 persen, meningkat dibandingkan beberapa bulan sebelumnya dan mendekati batas atas target inflasi nasional...
Rabu, 3 Juni 2026 - 09:58 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Penyesuaian harga LPG non subsidi, BBM non subsidi, hingga avtur mendorong inflasi nasional pada Mei 2026 naik ke level 3,08 persen secara tahunan (year on year/yoy), meski masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Mei 2026 mengalami inflasi sebesar 0,28 persen secara bulanan (month to month/mtm). 

Secara tahunan, inflasi tercatat mencapai 3,08 persen, meningkat dibandingkan beberapa bulan sebelumnya dan mendekati batas atas target inflasi nasional.

Bank Indonesia menilai tekanan harga yang muncul masih terkendali di tengah gejolak harga energi dunia yang terus meningkat.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso mengatakan, inflasi yang tetap berada dalam sasaran merupakan hasil konsistensi kebijakan moneter serta sinergi pengendalian inflasi antara pemerintah dan bank sentral.

“Inflasi yang tetap terjaga dalam kisaran sasarannya ini merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter serta eratnya sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan Pemerintah (Pusat dan Daerah) dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID) serta penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional,” kata Ramdan dalam keterangan tertulis, Rabu (3/6/2026).

Tekanan terbesar datang dari kelompok administered prices atau harga yang diatur pemerintah. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 0,52 persen secara bulanan pada Mei 2026. 

Meski lebih rendah dibandingkan April 2026 yang mencapai 0,69 persen, kenaikan harga energi tetap menjadi faktor dominan yang mengerek inflasi.

Bank Indonesia mencatat inflasi kelompok administered prices terutama dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar rumah tangga, bensin, dan tarif angkutan udara.

“Inflasi kelompok administered prices terutama disumbang oleh komoditas bahan bakar rumah tangga, bensin, dan tarif angkutan udara seiring dengan penyesuaian harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) non subsidi, Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi, dan avtur akibat kenaikan harga energi global,” ujar Ramdan.

Secara tahunan, inflasi kelompok administered prices mencapai 2,07 persen, lebih tinggi dibandingkan realisasi April 2026 sebesar 1,53 persen. 

Kondisi ini menunjukkan tekanan dari sektor energi mulai merambat ke berbagai komponen biaya ekonomi, termasuk transportasi dan kebutuhan rumah tangga.

Meski demikian, Bank Indonesia tetap optimistis stabilitas harga dapat dijaga hingga tahun depan. Otoritas moneter meyakini koordinasi pengendalian inflasi yang terus diperkuat bersama pemerintah akan mampu meredam dampak lanjutan dari gejolak harga global.

“Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen pada 2026 dan 2027,” tandas Ramdan. (agr/muu)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

05:54
02:28
04:12
05:10
01:43
01:22

Viral