- tvOnenews.com/Abdul Gani Siregar
KSP Dudung Tantang Publik: Kalau Ada Dapur MBG Milik Saya, Silakan Cek, Saya Kasih Hadiah
Jakarta, tvOnenews.com - Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Dudung Abdurachman membantah keras tudingan yang mengaitkan dirinya dengan kepemilikan titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang belakangan menjadi sorotan di tengah kasus hukum yang menjerat mantan pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN).
Dudung menegaskan dirinya tidak pernah memiliki maupun mengelola dapur MBG. Ia bahkan menantang siapa pun yang dapat membuktikan tudingan tersebut dengan menawarkan hadiah.
“Kalau Pak Dudung punya dapur, silakan cek, saya kasih hadiah nanti. Jadi enggak ada sama sekali saya punya dapur ya,” kata Dudung di Kantor Staf Presiden, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (10/6).
Nama Dudung sebelumnya ikut disebut-sebut dalam berbagai spekulasi yang berkembang terkait dugaan adanya pihak-pihak yang memiliki titik dapur MBG melalui jaringan tertentu.
Menanggapi hal itu, Dudung menjelaskan bahwa keterlibatannya hanya sebatas membantu mempertemukan pengurus pesantren dengan mantan Kepala BGN Dadan Hindayana.
Menurut Dudung, beberapa bulan lalu sejumlah pengurus pesantren mendatanginya untuk meminta bantuan agar pesantren mereka dapat ikut menjadi bagian dari program MBG.
Permintaan itu muncul karena pesantren memiliki ribuan santri yang dinilai layak menjadi penerima manfaat program tersebut.
“Ada berita Pak Dudung katanya punya titik melalui Pak Dadan. Saya informasikan, jadi beberapa bulan yang lalu, mungkin tujuh, enam bulan yang lalu, saya kan dekat dengan pesantren," tutur Dudung.
Ada pengurus-pengurus pesantren itu ada Abah Junaidi, ada Ustaz Iskandar, itu menyampaikan kepada saya bahwa ada program memang pesantren ya, untuk sebagai sasaran penerima manfaat. Karena di pesantren itu kan ada santrinya empat ribu, ada yang lima ribu, sehingga bisa ditetapkan sebagai titik untuk dapurnya,” tambahnya.
Atas dasar itu, Dudung mengaku hanya menyampaikan informasi kepada Dadan mengenai keberadaan pesantren yang secara administratif dinilai siap mengikuti program MBG.
Setelah itu, komunikasi lebih lanjut dilakukan langsung oleh pihak pesantren dan BGN tanpa keterlibatannya.
“Nah, realisasinya tidak ada. Akhirnya saya sampaikan Pak Dadan, ‘Oh silakan Pak nanti hubungi Pak Arif Nurahman staf saya’. Akhirnya silakanlah mereka berhubungan,” katanya.
“Mereka berhubungan saya sudah tidak mengerti apa-apa,” sambung Dudung.
Dudung mengatakan dirinya bahkan tidak mengetahui perkembangan lebih lanjut dari proses tersebut.
Ia baru kembali menanyakan kelanjutan program saat Dadan berkunjung ke Kantor Staf Presiden beberapa waktu lalu.
“Waktu Pak Dadan ke sini beberapa Minggu yang lalu, saya tanya Pak Dadan gimana itu? rupanya sampai sekarang prosesnya pun belum selesai, bangunnya dapurnya pun belum terbangun. Saya tanya Abah Junaidi dan sebagainya. Cuma karena saya yang minta tolong kepada Pak Dadan itulah yang kemudian akhirnya bunyi seakan-akan Pak Dudung punya dapur,” kata Dudung.
Menurutnya, fakta bahwa dapur yang dimaksud bahkan belum terbangun menunjukkan dirinya tidak memiliki kepentingan maupun keterlibatan dalam pengelolaan proyek tersebut. Karena itu, ia meminta publik tidak menggiring opini yang tidak sesuai dengan fakta.
Untuk menegaskan bantahannya, Dudung kembali melontarkan tantangan terbuka kepada siapa saja yang dapat membuktikan dirinya memiliki dapur MBG.
“Sekali lagi ya, kalau ada yang menemukan dapurnya Pak Dudung, saya kasih hadiah,” pungkasnya. (agr/dpi)