- ANTARA
Selat Hormuz Dibuka, Pengamat: Harga Minyak Turun Potensi Redam Tekanan Inflasi Global
Jakarta, tvOnenews.com - Kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang membuka kembali Selat Hormuz memunculkan optimisme baru di pasar global.
Setelah sempat dihantui risiko gangguan pasokan energi dunia, pelaku pasar kini justru memperkirakan harga minyak mentah akan bergerak turun dan kembali mengikuti fundamental pasar yang saat ini mengalami kelebihan pasokan.
Pengamat Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, pembukaan Selat Hormuz menjadi faktor penting yang berpotensi mengubah arah pergerakan harga energi dalam beberapa bulan ke depan.
Menurut Ibrahim, pasar langsung merespons positif perkembangan tersebut. Harga minyak yang sebelumnya sempat bergerak tinggi akibat kekhawatiran terhadap pasokan global kini mulai mengalami koreksi.
“Tetapi kita lihat bahwa informasi tersebut membuat harga minyak mentah mengalami penurunan saat ini. Harga minyak mentah itu sudah di bawah 80, tepatnya di 79 dolar per troy ounce dan kemungkinan besar akan terus mengalami pelemahan ya mendekati di level 75,” kata Ibrahim saat dihubungi, Selasa (16/6/2026).
Ia menilai pelemahan harga minyak berpotensi berlanjut karena kondisi pasar saat ini sebenarnya mengalami kelebihan pasokan.
Di satu sisi, kebutuhan minyak global diperkirakan berada di kisaran 100 juta barel per hari. Namun di sisi lain, produksi dunia telah mencapai lebih dari 103 juta barel per hari.
“Kenapa? Karena kita melihat bahwa sebenarnya kebutuhan untuk minyak ini adalah 100 juta barel per hari, tetapi terjadi oversupply karena produksi minyak secara global itu adalah 103,1 juta barel per hari,” jelas Ibrahim.
Dengan berakhirnya krisis di Selat Hormuz, menurutnya harga minyak tidak lagi ditopang oleh faktor ketegangan geopolitik dan akan kembali bergerak mengikuti kondisi fundamental pasar.
“Artinya pada saat krisis Selat Hormuz ini selesai, dibuka kembali, ya kemudian harga minyak mentah ini akan mengikuti harga fundamental yaitu di bawah 75 dolar per troy ounce yang membuat masyarakat investor ini kembali melakukan pembelian terhadap emas dunia maupun logam mulia,” ujarnya.
Lebih jauh, Ibrahim menilai dampak terbesar dari turunnya harga minyak justru akan dirasakan pada sektor ekonomi yang lebih luas. Penurunan biaya energi diperkirakan akan menekan biaya transportasi dan logistik yang selama ini menjadi komponen penting pembentuk inflasi.
“Nah, kita tahu bahwa penurunan harga minyak mentah dunia ini pun juga mengurangi biaya transportasi ya, biaya logistik, sehingga apa? Sehingga turunan dari minyak mentah mengalami penurunan sehingga berdampak terhadap turunnya inflasi,” katanya.
Jika tren tersebut berlanjut, inflasi global diperkirakan akan semakin terkendali. Kondisi itu dapat memberikan ruang lebih besar bagi bank sentral utama dunia, khususnya Federal Reserve Amerika Serikat, untuk mulai melonggarkan kebijakan moneternya.
“Nah, turunnya inflasi secara global ini akan membuat Bank Sentral Amerika dalam bulan Juni ini, ya kemungkinan besar minggu ini atau minggu besok akan melakukan pertemuan, kemungkinan akan merevisi dan masih mempertahankan suku bunga,” ujar Ibrahim.
Namun untuk periode berikutnya, ia memperkirakan arah kebijakan suku bunga AS akan berubah dari menahan menjadi menurunkan suku bunga acuan.
“Tetapi di bulan-bulan berikutnya bukan menaikkan suku bunga tetapi akan menurunkan suku bunga acuannya. Karena apa? Karena stabilnya harga minyak mentah di bawah 75 dolar per barel,” tegasnya.
Sebelumnya, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengumumkan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan damai setelah melalui perundingan intensif.
Kesepakatan tersebut dijadwalkan ditandatangani secara resmi di Jenewa, Swiss, pada 19 Juni mendatang.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mengonfirmasi tercapainya kesepakatan tersebut dan mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz serta pencabutan blokade Angkatan Laut AS. (agr/muu)