news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Indonesia Target Mandiri Sulfur 5,3 Juta Ton, MIND ID Olah Limbah Tembaga Emas untuk Industri Nikel dan Baterai.
Sumber :
  • istimewa - antaranews

Indonesia Target Mandiri Sulfur 5,3 Juta Ton, MIND ID Olah Limbah Tembaga Emas untuk Industri Nikel dan Baterai

Indonesia memiliki peluang strategis untuk mengembangkan produksi sulfur domestik seiring meningkatnya kebutuhan industri pengolahan nikel dan ekosistem baterai
Rabu, 24 Juni 2026 - 03:20 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Indonesia memiliki peluang strategis untuk mengembangkan produksi sulfur domestik seiring meningkatnya kebutuhan industri pengolahan nikel dan ekosistem baterai kendaraan listrik

MIND ID, sebagai holding pertambangan nasional, telah mengidentifikasi potensi pemanfaatan by-product tambang tembaga dan emas sebagai sumber sulfur alternatif yang dapat menopang kebutuhan industri hilirisasi nikel dalam negeri.

Direktur Perencanaan Pengolahan Sumber Daya Mineral MIND ID, Budi Santoso, mengungkapkan bahwa MIND ID bersama anggota holding sedang melakukan inventarisasi aktif terhadap potensi tersebut.

"Kita memiliki by product itu tembaga maupun emas itu ada iron oxide dan iron sulfate yang mestinya itu bisa kita proses, diolah, diekstrak untuk menjadi dan diambil sulfurnya maupun diambil dan dijadikan asam sulfat untuk memenuhi hal tersebut," ujar Budi dalam diskusi Mineral Kritis Indonesia di Tengah Krisis Energi Dunia di Jakarta, dikutip Selasa (24/6/2026).

Langkah ini merupakan bagian dari strategi MIND ID untuk memperkuat perannya sebagai penggerak hilirisasi mineral nasional, tidak hanya di sisi penambangan, tetapi juga dalam membangun rantai pasok bahan pendukung yang lebih mandiri.

Untuk diketahui, Sulfur merupakan komponen kritis dalam proses High Pressure Acid Leach (HPAL), teknologi utama yang digunakan untuk mengolah bijih nikel limonit menjadi produk antara, seperti mixed hydroxide precipitate (MHP) yang digunakan sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik. 

Adapun, skala kebutuhannya tergolong besar, dengan asumsi produksi satu ton MHP membutuhkan sekitar 11,7 ton sulfur.

Pertumbuhan industri HPAL di Indonesia berbanding lurus dengan meningkatnya kebutuhan sulfur nasional. 

Kondisi inilah yang menjadikan pengembangan sumber domestik sebagai agenda strategis, bukan sekadar pilihan efisiensi biaya.

Saat ini, lebih dari 70% kebutuhan sulfur untuk pengolahan nikel di Indonesia dipenuhi melalui impor, dengan sekitar 75%–80% di antaranya berasal dari kawasan Timur Tengah. Total impor sulfur nasional mencapai sekitar 5,3 juta ton per tahun.

"Kondisi sekarang, ternyata di Indonesia 70 persen lebih kebutuhan sulfur nikel itu didapatkan melalui impor dan surprisingly itu ada di area di mana saat ini sedang berkecamuk di Timur Tengah," ujar Budi.

Berita Terkait

1
2 3 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

09:17
15:03
01:27
01:19
06:15
01:21

Viral