- tvOnenews.com/Wildan M.
Rupiah Terancam Anjlok Rp18.000 di Akhir Pekan, Data Ekonomi AS Bikin Dolar Perkasa Lagi
Jakarta, tvOnenews.com - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan, setelah sempat menunjukkan penguatan pada perdagangan sebelumnya.
Mata uang rupiah kini berbalik melemah tajam dan diperkirakan menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) sebelum penutupan pekan.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah kali ini dipicu oleh menguatnya indeks dolar AS menyusul rilis sejumlah data ekonomi Amerika yang lebih baik dari perkiraan pasar.
“Ini sesuai prediksi rupiah melemah. Pelemahannya cukup tajam, ya, di 47 poin. Saat ini diperdagangkan rupiah di Rp17.990. Kemungkinan besar di akhir pekan ini rupiah akan menyentuh level Rp18.000,” kata Ibrahim, saat dihubungi dalam keterangan suara, Jumat (26/6/2026).
Menurut Ibrahim, sentimen utama berasal dari serangkaian indikator ekonomi AS yang memperkuat keyakinan pelaku pasar bahwa ekonomi Negeri Paman Sam masih cukup solid.
“Apa yang menyebabkan rupiah melemah? Ya, memang ada beberapa data ya yang cukup menguatkan indeks dolar. Ya, salah satunya adalah data di Amerika sendiri, karena tadi malam pun juga banyak sekali data yang dirilis di Amerika yang kita tahu bahwa data tersebut juga sangat menentukan terhadap fluktuasi harga indeks dolar,” ujarnya.
Ia menjelaskan, revisi final produk domestik bruto (PDB) kuartal pertama menunjukkan hasil yang lebih baik. Selain itu, pasar tenaga kerja juga memberikan sinyal positif dengan penurunan angka pengangguran.
“Ya, yang pertama adalah tentang PDB kuartal pertama yang direvisi, ya, dan final. Dan ini pun juga cukup bagus. Kemudian data pengangguran, ya, yang itu pun juga menurun. Kemudian indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti. Ini pun juga cukup bagus,” katanya.
Rangkaian data tersebut mendorong penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang dunia.
“Ini yang membuat dolar terjadi gap up ya, sehingga dolar menguat cukup tajam,” ujar Ibrahim.
Ia menilai pasar kini mulai mengantisipasi kemungkinan Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga acuan sebanyak dua kali sepanjang 2026. Ekspektasi tersebut menjadi faktor yang memperbesar arus dana menuju aset berbasis dolar.
“Karena target dolar sendiri kemungkinan besar di 102,600. Nah, sehingga wajarlah kalau seandainya dolar ini menguat karena spekulasi tentang Bank Sentral Amerika yang akan kembali menaikkan suku bunga di tahun 2026 dua kali, ya, bulan Juli atau September, kemudian di bulan Desember,” katanya.
Spekulasi tersebut juga didorong oleh inflasi Amerika Serikat yang masih menunjukkan tren meningkat, termasuk kenaikan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar.
“Nah, itu pun juga melihat dari data inflasi ya, di Amerika yang terus naik. Kemudian harga-harga pokok ya, termasuk gasoline pun juga mengalami kenaikan, walaupun Presiden Trump sudah menunjuk Jaksa Agung untuk melakukan investigasi tentang kenaikan harga,” ujar Ibrahim.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump tetap meyakini tekanan inflasi akan mereda setelah berakhirnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
“Dan Trump mengatakan bahwa pasca perang usai antara Amerika dan Iran, harga-harga akan kembali stabil, inflasi akan mendekati dua persen. Nah, itu pernyataan dari Trump. Itu dari segi eksternal,” katanya. (agr/muu)