- Instagram @kemenkes_ri
LPSK Turun Gunung Usut Kematian Dokter Icha, Temui Ayah Korban di NTT
Jakarta, tvOnenews.com – Kasus kematian dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni alias dokter Icha kini turut mendapat perhatian dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).
Lembaga tersebut mengaku telah mengirim tim ke Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk mendalami perkara yang belakangan menjadi sorotan publik.
Langkah itu dilakukan menyusul mencuatnya dugaan bahwa dokter Icha mengalami intimidasi sebelum ditemukan meninggal dunia pada 26 Juni 2026. Dugaan tersebut hingga kini masih didalami aparat kepolisian bersama Kementerian Kesehatan.
Wakil Ketua LPSK, Susilaningtyas, mengungkapkan timnya sudah berada di NTT sejak akhir pekan lalu untuk mengumpulkan informasi sekaligus menjalin komunikasi dengan keluarga korban.
"Terkait dengan hal ini (kasus kematian dokter Icha) Tim LPSK sudah turun minggu kemarin Tanggal 28 Juni lalu," katanya, Selasa, 30 Juni 2026.
Menurut dia, LPSK juga telah menemui ayah korban. Namun hingga kini, keluarga dokter Icha belum mengajukan permohonan perlindungan karena masih fokus menyelesaikan prosesi adat.
"Tim bertemu dengan ayah korban, tapi mereka belum ajukan permohonan ke LPSK, karena mau selesaikan dulu urusan adatnya," tutur dia.
Pengajuan permohonan tersebut dibutuhkan agar LPSK dapat melanjutkan proses asesmen untuk menentukan bentuk perlindungan yang dapat diberikan kepada pihak keluarga maupun saksi dalam perkara tersebut.
Sebelumnya diberitakan, dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni didiagnosis mengalami depresi berat setelah dibentak oleh tiga anggota DPRD Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, saat menangani pasien gigitan ular. Dua pekan kemudian, dokter muda yang akrab disapa dr. Icha itu meninggal dunia. Keluarga mendesak aparat penegak hukum segera bertindak.
Dokter muda itu meninggal dunia pada Jumat, 26 Juni 2026, di rumah orang tuanya di Perumahan RSS Baumata, Kabupaten Kupang setelah sebelumnya dirawat akibat mengalami depresi berat.
Di tengah isak tangis keluarga, sang ayah, Gabriel Pakaenoni, berdiri dengan suara bergetar dan menyampaikan satu kalimat yang langsung mengguncang nurani para pelayat: "Tiga anggota dewan itu telah mengakhiri hidup anak saya."
Almarhumah merupakan putri sulung Gabriel Pakaenoni, pensiunan pegawai negeri sipil, dan Nur, yang masih aktif sebagai aparatur sipil negara di lingkungan Pemerintah Provinsi NTT.
Pernyataan Gabriel itu merujuk pada insiden yang terjadi dua pekan sebelumnya, tepatnya 13 Juni 2026, ketika dr. Icha sedang berdinas di RS Leona, Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Saat itu, ia tengah menangani seorang anak korban gigitan ular.
Keluarga pasien yang datang bersama tiga anggota DPRD TTU membentak keras dengan mempertanyakan mengapa serum anti bisa ular (anti venom) belum diberikan. Menurut penuturan keluarga, dr. Icha telah menjelaskan bahwa seluruh tindakan medis dilakukan sesuai prosedur dan mengikuti arahan dokter spesialis. Namun penjelasan itu tidak diterima.
Ketiga anggota DPRD yang disebut terlibat adalah Therensius Lazakar (Partai Golkar), Norbertus Tubani (PKB), dan Veronika Lake (PDI Perjuangan). Mereka dilaporkan melontarkan kalimat yang merendahkan martabat sang dokter. Bahkan, Veronika Lake disebut menjadi sosok yang memprovokasi dua rekan legislator lainnya untuk memarahi dr. Icha di depan umum di ruang IGD.
"Dia mengaku lebih paham soal SOP bahwa dalam enam jam pertama penanganan harus sudah dilakukan dan memaksa dr. Icha mengikuti permintaan mereka," ungkap anggota keluarga.
Sesaat setelah kembali dari Kefamenanu, Ibu Kota Kabupaten TTU, paman almarhumah, Fabianus B. Banase, menyadari ada yang berbeda pada diri dr. Icha.
Perempuan muda yang baru merintis karier medisnya itu meluapkan perasaannya: "Bapak, saya pulang dari Kefa, ketemu tiga orang itu, saya trauma."
Kondisi psikologis dr. Icha terus memburuk. Ia kemudian menjalani pemeriksaan di Klinik Dewanta Mental Health Care dan didiagnosis mengalami depresi berat. Tak lama berselang, kabar duka pun datang. Keluarga tidak menyebutkan secara spesifik penyebab kematian, namun menegaskan bahwa kondisi psikologis dr. Icha merupakan akibat langsung dari insiden di RS Leona.
"Ketika tekanan dari luar berujung pada jatuhnya psikologis seorang dokter, siapa yang bertanggung jawab?" ungkap Fabianus.
Keluarga juga menyebut bahwa dr. Icha ditunjuk-tunjuk wajahnya di depan umum tanpa seorang pun yang membelanya.
Foe peace simbolon