- Instagram @kemenkes_ri
Selain Akhiri Hidup, Apa Saja Dampak Dugaan Aksi Teror setelah dr Icha Diintimidasi 3 Anggota DPRD TTU di IGD?
Kupang, tvOnenews.com - Kasus kematian Dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr Icha kian mencuri perhatian publik. Peristiwa ini berawal adanya dugaan intimidasi di IGD RS Leona Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Sulawesi Utara (Sulut), Sabtu (13/6/2026).
dr Icha kala itu tengah bertugas di IGD RS Leona. Ia menangani seorang anak pasien korban gigitan bisa ular dan berujung diduga mendapat intimidasi dari tiga oknum anggota DPRD Kabupaten TTU.
Pihak keluarga meyakini dampak setelah terjadinya insiden tersebut sangat mempengaruhi tekanan psikologis dialami dr Icha. Kondisi ini justru memperburuk keadaan Dokter Icha.
Tekanan psikologis usai dugaan insiden intimidasi membuat Dokter Icha ditemukan tewas gantung diri. Dampak ini pun diungkap oleh paman korban, Fabianus Banase.
"Sejak kejadian itu, keponakan kami setiap hari mendapat pesan WhatsApp yang berasal dari nomor tidak jelas. Anak kami itu pun mengalami depresi berat," ungkap Fabianus saat dihubungi tvOne, Selasa (30/6/2026).
Dampak Aksi dan Pesan Teror WhatsApp kepada dr Icha
- Antara
Lebih lanjut, menurut Fabianus, kejadian saat berada di IGD baru menjadi awalan. Penyebab depresi beratnya diduga pasca ketegangan antara Icha dan tiga oknum tersebut.
Icha merasa aksi psikologis tersebut sangat mengganggu pergerakannya. Tidak hanya berupa fisik, tetapi aksi pesan teror juga membuat dirinya secara personal merasa hati-hati.
Pesan teror tersebut, kata Fabianus, Icha mengaku sempat tidak berani kembali ke TTU. Korban merasa tak sanggup akibat terus diancam oleh sejumlah anggota DPRD Kabupaten TTU tersebut.
"Dia tidak sanggup mau kembali ke TTU. Hal itu kalau tiga anggota DPRD itu belum dapat diberi sanksi dan hukuman apa-apa," terangnya.
Hingga akhirnya, kondisi Icha semakin lemah. Berdasarkan hasil pemeriksaan, kejiwaan korban mengalami depresi berat tanpa gejala psikotik disebabkan psikologis yang terguncang dan bisa mendorong seseorang melakukan percobaan bunuh diri.
Pihak keluarga semakin panik. Saat dijadwalkan hendak melakukan pemeriksaan lanjutan di RS Bhayangkara Kupang pada Jumat, 26 Juni 2026, sekitar pukul 16.00 WITA, Dokter Icha sudah ditemukan bunuh diri di rumah orang tuanya.