- Antara
Polisi Ungkap Pelajar MAN 3 Padang Tak Terpapar Jaringan Teroris, Belajar Rakit Bom Otodidak dari Medsos
Jakarta, tvOnenews.com - Polisi mengungkap fakta baru dibalik pelajar berinisial R (17) yang meledakan bom rakitan di MAN 3, Kelurahan Balai Gadang, Koto Tengah, Kota Padang, pada Selasa (14/7) lalu.
Kabid Humas Polda Sumatera Barat, Kombes Pol Susmelawati Rosya mengatakan, hasil pemeriksaan, yang bersangkutan diketahui tidak terpapar jaringan terorisme.
“Kejadian ini tidak ada hubungannya dengan jaringan-jaringan terorisme seperti yang kita bayangkan,” ujar Rosya, kepada wartawan, Kamis (16/7).
Kemudian, Rosya menuturkan, saat ini pihaknya akan melakukan rehabilitasi terhadap anak R, agar tidak terpapar jaringan terorisme.
“Jadi, kita juga butuh merehab (pemulihan) supaya merehabilitasi psikologis si anak ini agar tidak terpapar lebih jauh. Saat ini, Kapolres sudah berkoordinasi dan berkolaborasi dengan OPD setempat untuk pemulihan dan rehabilitasi korban. Ini yang sedang menjadi prioritas utama,” ungkapnya.
Sementara itu, Rosya menerangkan, yang bersangkutan mengaku merakit bom secara otodidak dengan melihat video di media sosial.
“Berdasarkan pengakuan dari yang bersangkutan, dia belajar secara mandiri atau otodidak dari YouTube, Instagram, dan internet. Dia belajar mandiri secara autodidak dan itu sudah disampaikannya,” jelasnya.
“Sampai saat ini, belum ada informasi terkait adanya pihak atau orang lain yang membimbingnya. Dari hasil pemeriksaan terhadap pelaku, memang dia itu mengaku belajar autodidak secara mandiri sendiri dari bulan Ramadan kemarin (April) sampai sekarang,” Sambungnya.
Adapun bahan baku pembuatan bom rakitan tersebut diketahui yang bersangkutan membuat sendiri.
“Kemarin dia (alatnya) bikin sendiri gitu, seperti dicampur-campur sendiri gitu,” ungkapnya.
Sebelumnya, Kabid Humas Polda Sumatera Barat, Kombes Pol Susmelawati Rosya mengatakan, korban merupakan korban bullying. Diduga sering menjadi objek ejekan rekan-rekannya.
“Iya betul korban bullying, karena tekanan psikologi sering jadi objek ejekan teman-temannya ya dia berbuat seperti itu. Dia (pelaku) merasa dirinya kerap menjadi objek bully sama teman-temannya, jadi masalah psikologis yang mendalam karena menjadi korban bullying,” kata Susmelawati, kepada wartawan, Selasa (14/7).
Sementara itu, Susmelawati menyebutkan, terduga pelaku melancarkan aksinya lantaran hendak membalas rekan-rekannya yang melakukan pembullyan.
“Yang jelas korban bullying ya, karena ibu ke lapangan tadi kan tekanan psikologis sehingga dia membalas anak-anak teman sekolahnya,” ucapnya.
Kemudian, Susmelawati mengatakan, saat ini pihaknya lebih fokus kepada pengamanan dan pemulihan anak dahulu.
“Atensi juga takut si anak terpapar, mwka dibawa sore ini ke polresta untuk pemeriksaan selanjutnya. Kita fokus pemulihan anak karena si anak melakukan itu bukan jaringan seperti yang kita pikirkan ya, dan kita melakukan pemulihan ke arah lain takut terpapar lebih parah,” jelasnya. (ars/dpi)