- Antara
Rupiah Menguat ke Rp 17.980 saat Pemerintah Berupaya Tangani Inflasi dan BI Tegaskan Independensi
Jakarta, tvOnenews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 18.041 pada Kamis, 16 Juli 2026. Posisi rupiah itu menguat 23 poin dari kurs sebelumnya di level 18.064 pada perdagangan Rabu, 15 Juli 2026.
Sementara perdagangan di pasar spot pada Jumat, 17 Juli 2026 hingga pukul 09.02 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.980 per dolar AS. Posisi itu menguat 6 poin atau 0,03 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.986 per dolar AS.
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pemerintah sedang mempersiapkan langkah-langkah fiskal dan pasar untuk mengendalikan inflasi, khususnya pada komoditas pangan yang volatil dan meningkatnya biaya industri.
"Sejumlah langkah mitigasi dilakukan untuk menjaga laju inflasi, terutama dari komponen harga pangan bergejolak atau volatile food serta sejumlah biaya produksi yang berpotensi mendorong kenaikan harga barang," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Jumat, 17 Juli 2026.
Pemerintah juga akan melakukan penanganan terhadap komponen volatile food agar tidak memberikan tekanan terhadap inflasi. Selain itu, pemerintah juga memperhatikan kenaikan harga kemasan yang turut berdampak pada produk makanan.
Selain itu, Bank Indonesia (BI) mengklaim independensinya diakui oleh lembaga pemeringkat global. Hal itu menyusul laporan S&P Global Ratings (S&P) terkait peringkat utang dan outlook Indonesia. Sebelumnya, independensi BI menjadi salah satu aspek yang disorot oleh dua lembaga pemeringkat, yakni Moody's dan Fitch Ratings.
S&P Global Ratings masih mempercayai independensi lembaga moneter Indonesia. BI masih bisa mengambil keputusan untuk menaikan tingkat suku bunga acuan (BI-Rate) menjadi 5,75 persen. Independensi BI itu juga didukung oleh kebijakan otoritas fiskal yang berkelanjutan.
Alhasil, otoritas moneter bisa mengambil kebijakan yang positif bagi ekonomi Indonesia. BI juga terus berkomitmen untuk memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran, dalam memperkuat stabilitas dan turut mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.