Konflik Meluas, Timur Tengah Makin Memanas
Jakarta, tvOnenews.com - Konflik antara Amerika Serikat dan Iran dinilai masih berada dalam fase yang berpotensi memicu eskalasi lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Meski kedua negara masih mengedepankan jalur diplomasi, para analis menilai ketegangan tetap tinggi karena kepentingan geopolitik dan ekonomi yang saling bertabrakan.
Senior Analis Indifik Strategic Intelligence, Aisha Rasyidila Kusumasomantri, menilai negara-negara Teluk sejauh ini berupaya menghindari keterlibatan langsung dalam konflik.
Menurutnya, Arab Saudi, Qatar, dan sejumlah negara Teluk memilih membuka ruang diplomasi dengan tetap mengedepankan kepentingan nasional, terutama menjaga stabilitas ekonomi dan keamanan kawasan.
Ia menegaskan penutupan Selat Hormuz maupun Selat Bab el-Mandeb akan berdampak besar terhadap perdagangan global, pasokan energi, dan rantai pasok dunia.
Sementara itu, pakar geopolitik dan keamanan nasional Wibawanto Nugroho Widodo menilai konflik kini memasuki fase managed conflict, di mana kedua pihak masih menghindari perang terbuka, tetapi tetap menggunakan kekuatan militer, siber, informasi, ekonomi, dan diplomasi untuk mempertahankan pengaruh strategis di kawasan.
Menurutnya, risiko terbesar justru berasal dari kemungkinan salah perhitungan (miscalculation) yang dapat memicu perang lebih luas.
Wibawanto juga menekankan pentingnya peran negara-negara lain, termasuk Indonesia, untuk aktif mendorong penyelesaian melalui jalur diplomasi multilateral.
Menurutnya, Indonesia dapat memainkan peran sebagai bridge builder dan fasilitator perdamaian melalui forum-forum internasional seperti ASEAN dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), mengingat eskalasi konflik berpotensi memengaruhi harga energi, nilai tukar, serta perekonomian global.
Di sisi lain, Aisha menilai upaya mediasi yang selama ini dilakukan Oman, Qatar, dan Pakistan masih relevan, namun perlu diperkuat dengan dukungan negara-negara besar sebagai penjamin keamanan (security guarantor).
Ia juga menilai dinamika politik domestik di Amerika Serikat, Iran, dan Israel akan menjadi faktor penting yang menentukan keberlanjutan proses negosiasi maupun arah konflik ke depan.