news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi kemarau dan kekeringan..
Sumber :
  • Antara

Analisis BMKG: Kemarau 2026 Diprediksi Menyerupai Karakteristik El Nino 2023

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa intensitas kekeringan pada musim kemarau 2026 tidak akan seekstrem fenomena El Nino yang terjadi pada tahun 1997. 
Selasa, 4 Agustus 2026 - 15:48 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa intensitas kekeringan pada musim kemarau 2026 tidak akan seekstrem fenomena El Nino yang terjadi pada tahun 1997. 

Padahal, saat ini status El Nino telah terdeteksi masuk dalam kategori kuat.

Dalam acara Dialog Nasional yang digelar Kementerian PPN/Bappenas di Jakarta pada Selasa (4/8), Pelaksana Harian Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Fachri Radjab menjelaskan bahwa berdasarkan komparasi data peluang hujan bulanan, kondisi kemarau tahun ini secara umum masih lebih baik dibandingkan tahun 1997.

Meski demikian, BMKG memberikan catatan khusus untuk periode September hingga November 2026. 

Sejumlah wilayah seperti Pulau Jawa, Kalimantan, dan Papua justru berpotensi mengalami kekeringan yang lebih intens dibandingkan periode yang sama pada 1997.

Fachri memaparkan bahwa pada bulan Agustus, tingkat kekeringan belum melampaui kondisi tahun 1997. Namun, memasuki bulan September hingga November, probabilitas kekeringan meningkat tajam hingga 80-90 persen, terutama di wilayah Kalimantan dan Papua.

Menurut perhitungan BMKG, puncak musim kemarau tahun ini akan terkonsentrasi pada Agustus dan September. 

Sebanyak 54 persen wilayah di tanah air diperkirakan mencapai titik terkeringnya pada bulan Agustus, sementara wilayah lainnya menyusul pada bulan September.

Jika dibandingkan dengan rekam jejak El Nino dalam 1,5 dekade terakhir (2015, 2019, dan 2023), Fachri menyebutkan bahwa pola kemarau 2026 cenderung lebih mirip dengan situasi yang terjadi pada tahun 2023.

Walaupun diprediksi tidak separah tahun 1997, pemerintah diminta untuk tidak lengah terhadap risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). 

Meningkatnya kekeringan pada lahan akan berbanding lurus dengan kemunculan titik panas (hotspot). 

Hingga 2 Agustus 2026, BMKG telah mengidentifikasi setidaknya 5.690 titik panas di berbagai penjuru Indonesia.

"Ini juga perlu kita antisipasi mengingat bulan Agustus dan September kita sudah masuk ke puncak musim kemarau. Artinya potensi hotspot juga akan semakin meningkat," ujar Fachri.

Fenomena El Nino kuat ini paling berdampak pada daerah-daerah di sisi selatan garis khatulistiwa, mencakup Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Papua bagian selatan.

Sebagai langkah pencegahan, BMKG terus melakukan mitigasi melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). 

Berita Terkait

1
2 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:09
25:30
06:26
01:30
02:16
00:56

Viral