news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Kepala Bakom Muhammad Qodari.
Sumber :
  • Abdul Gani Siregar-tvOne

Pemerintah Genjot Jaringan Gas Rumah Tangga demi Pangkas Ketergantungan LPG

Pemerintah mempercepat pengembangan jaringan gas rumah tangga sebagai strategi besar untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG yang masih sangat tinggi.
Rabu, 5 Agustus 2026 - 13:47 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com – Pemerintah mempercepat pengembangan jaringan gas (jargas) rumah tangga sebagai strategi besar untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG yang masih sangat tinggi.

Kepala Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah RI M. Qodari menegaskan program jargas bukan sekadar proyek penyediaan infrastruktur energi, tetapi menjadi solusi atas persoalan struktural tingginya impor LPG akibat keterbatasan produksi dalam negeri.

Menurut Qodari, kebutuhan LPG nasional untuk memasak mencapai sekitar lima juta metrik ton setiap tahun.

Namun, kemampuan produksi domestik baru mencapai sekitar 1,4 juta ton sehingga sebagian besar kebutuhan masih harus dipenuhi melalui impor.

“Teman-teman untuk diketahui bahwa kebutuhan gas kita untuk memasak itu satu tahun lima juta metrik ton, tetapi produksi dalam negeri adalah 1,4 juta ton ya kalau ini kita bicara LPG. Artinya, yang bisa diproduksi hanya sekitar 30 persen kurang, dan karena itu sisanya diimpor,” ujar Qodari dalam konferensi pers di Kantor Bakom, Jakarta Pusat, Rabu (5/8/2026).

Ia menjelaskan jaringan gas rumah tangga memanfaatkan gas bumi yang berbeda dengan LPG.

Jika LPG tersusun dari propana dan butana, jargas menggunakan gas bumi berupa metana dan etana yang cadangannya jauh lebih melimpah di Indonesia.

“Nah, LPG itu materinya berbeda dengan jargas, karena jargas ini adalah gas bumi. Gas bumi ini adalah metana dan etana, sementara LPG adalah propana dan butana,” kata dia.

Qodari menilai kondisi tersebut menjadi alasan kuat pemerintah mengalihkan pemanfaatan energi rumah tangga ke gas bumi karena sumber dayanya lebih tersedia di dalam negeri.

“Memang ketersediaan dalam negeri kita, potensi alam kita itu untuk gas alam ya, metana dan etana ini jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan dengan LPG. Mungkin sekitar tiga per empat dari ketersediaan gas di Indonesia adalah kategori gas bumi atau metana dan etana, sehingga sebetulnya memang yang potensial itu adalah metana dan etana,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengakui pengembangan gas bumi masih menghadapi tantangan utama pada aspek distribusi.

Karena itu, pembangunan jaringan gas menjadi instrumen penting agar pasokan gas bumi dapat langsung dinikmati masyarakat.

“Walaupun memang ada tantangan dalam distribusi. Nah, ini yang coba diatasi dengan antara lain jaringan gas,” ucapnya. (agr/nsi)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

02:18
05:03
02:41
01:41
05:24
03:37

Viral