- dok. Kementerian ESDM
Target Lifting 610 Ribu Barel Minyak per Hari Dinilai Jadi Pertahanan Daya Tawar di Pasar Global
Insentif fiskal, fleksibilitas skema kontrak dan penyederhanaan perizinan dinilai dapat menjadi daya tarik bagi investor untuk kembali menanamkan modal di sektor hulu migas Indonesia. Peningkatan produksi domestik juga berpotensi menekan ketergantungan terhadap impor minyak.
“Penerimaan negara dari migas dapat difungsikan untuk menjaga stabilitas makroekonomi Indonesia sekaligus mendanai infrastruktur energi terbarukan. Dan bila dikelola dengan baik, ini akan sangat menjanjikan dan prospektif,” katanya.
Menurut Bonti, keberhasilan pemerintah menahan bahkan membalikkan tren penurunan produksi minyak yang telah berlangsung selama bertahun-tahun akan menjadi indikator penting keberhasilan reformasi sektor hulu.
“Kemampuan menahan atau membalikkan tren penurunan produksi minyak yang berlangsung bertahun-tahun adalah bukti valid berjalannya reformasi struktural. Hal ini menandakan meningkatnya kepercayaan investor (capital inflow) dan berfungsinya koordinasi antara SKK Migas dan kementerian terkait,” kata Bonti.
Pakar ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi juga melihat target 610 ribu bph menghadapi tantangan berat. Salah satu persoalan utama adalah kondisi cadangan minyak nasional dan banyaknya lapangan yang telah memasuki usia matang.
Fahmy mengatakan produksi minyak Indonesia secara historis berada di kisaran 600 ribu bph dan cenderung menurun. Karena itu, mempertahankan produksi saja membutuhkan upaya ekstra, terlebih untuk mendorongnya hingga mencapai target pemerintah.
“Selama setahun memang berbagai upaya dilakukan secara mati-matian. Misalnya penggunaan teknologi dalam eksplorasi, kemudian memanfaatkan sumur-sumur tua, dan juga mendorong sumur rakyat,” kata Fahmy.
Menurut dia, tantangan terbesar bukan hanya mencapai angka lifting yang ditargetkan, melainkan memastikan produksi tersebut dapat dipertahankan. Konsistensi menjadi faktor penting karena penghentian program optimalisasi dapat kembali mempercepat penurunan produksi.
“Kalau upaya-upaya yang pernah dilakukan tadi tidak dilanjutkan, saya kira akan sulit untuk mencapai peningkatan atau bahkan mempertahankan produksi sekitar 608 ribu barel per hari,” ujarnya.
Di tengah tantangan produksi minyak, Fahmy melihat masih ada peluang besar dari sektor migas, terutama melalui pengembangan Blok Masela di Maluku. Percepatan proyek tersebut dinilai dapat menjadi salah satu sumber produksi migas nasional ke depan.