news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Pengendara sepeda motor memakai masker yang dibagikan anggota Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Lampung Selatan di Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, Senin (7/9)..
Sumber :
  • Antara

Atasi Debu Vulkanik Anak Krakatau, BMKG Targetkan Pembersihan Udara dalam Dua Hari

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tengah melakukan percepatan pembersihan debu vulkanik sisa erupsi Gunung Anak Krakatau. 
Senin, 7 September 2026 - 16:35 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tengah melakukan percepatan pembersihan debu vulkanik sisa erupsi Gunung Anak Krakatau

Melalui operasi modifikasi cuaca, BMKG memproyeksikan kualitas udara di wilayah terdampak dapat membaik dalam waktu satu hingga dua hari ke depan.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, mengungkapkan bahwa pihaknya menerapkan dua strategi berbeda yang bergantung pada kondisi perawanan di atmosfer.

“Dengan adanya dua metode ini, harapannya dalam 1-2 hari ke depan, ini soal debu vulkanik Gunung Anak Krakatau bisa kita selesaikan dengan catatan tidak ada letusan-letusan baru yang menyemprotkan,” ungkap Seto di Jakarta, Senin (7/9).

Seto merinci, teknik pertama akan diterapkan jika kondisi langit sedang cerah atau minim awan.

Dalam kondisi ini, pesawat akan menyemprotkan cairan khusus ke udara untuk menjatuhkan partikel debu secara paksa.

“Kalau tidak ada awan, pesawat ini akan menyemprot. Dia membuat bahan spray di atmosfer atau udara, supaya debu vulkaniknya menurun,” jelasnya.

Cairan yang digunakan merupakan campuran air dan surfaktan. Seto menjelaskan bahwa surfaktan berperan krusial untuk mengikat debu vulkanik agar massanya menjadi lebih berat dan cepat jatuh ke bumi.

“Karena yang kita semprotkan ini adalah air plus surfaktan. Jadi adalah wadah tertentu yang mampu mengikat debu, sehingga dia akan jatuh,” tambah Seto.

Namun, jika di atmosfer ditemukan pertumbuhan awan, BMKG akan beralih ke metode penyemaian untuk merangsang terjadinya hujan agar debu vulkanik luruh bersama air hujan.

“Nah, nanti kalau sudah ada awan tumbuh, bahannya kita ganti menjadi air, tapi kita campur dengan bahan semai. Dia akan mengaktivasi awan jadi menjatuh,” tutur Seto.

Untuk mendukung kelancaran operasi ini, BMKG mengerahkan armada pesawat yang didatangkan khusus dari Kalimantan. 

Operasi tersebut dikendalikan melalui dua titik strategis, yakni Semarang dan Kertajati, guna menjangkau wilayah terdampak termasuk Jakarta.

“Kita datangkan pesawat dari Kalimantan, kita datangkan pesawat ke Semarang,” kata Seto. 

Ia juga menegaskan bahwa pusat koordinasi dilakukan “Dari posko, Semarang, dan Kertajati.”

Meski optimis, BMKG tetap mewaspadai potensi adanya letusan susulan dari Gunung Anak Krakatau yang bisa menambah beban material vulkanik di udara. 

Selain itu, Seto juga memaparkan kondisi iklim nasional yang saat ini masih dibayangi fenomena El Nino yang kuat.

Menurutnya, tekanan kekeringan akibat El Nino dan musim kemarau akan mencapai puncaknya pada akhir bulan ini dan diprediksi mulai melandai pada Oktober mendatang.

“Jadi paling berat memang sampai dengan akhir September. Kemudian perlahan-lahan eskalasi ini akan melemah dimulai dengan bulan Oktober,” pungkasnya. 

Kondisi diperkirakan akan semakin membaik pada November seiring masuknya musim penghujan secara merata. (ant/dpi)
 

 
 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

05:27
06:54
04:52
03:44
08:04
05:59

Viral