- antara
Rupiah Tertekan Rp17.547 di Penutupan Perdagangan, Harga Minyak Dunia Jadi Bom Waktu APBN
Jakarta, tvOnenews.com - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan. Mata uang rupiah ditutup melemah 36 poin ke level Rp17.547 per dolar AS pada perdagangan Kamis (10/9/2026), setelah sebelumnya sempat tertekan hingga 40 poin.
Rupiah melemah dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.511 per dolar AS.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut pada perdagangan Jumat (11/9/2026). Ia memperkirakan pergerakan rupiah akan fluktuatif, tetapi berakhir melemah.
“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp17.540 - Rp17.590,” kata Ibrahim saat dihubungi tvOnenews.com, Kamis (10/9/2026).
Menurut Ibrahim, salah satu risiko yang perlu dicermati bukan hanya berasal dari pergerakan pasar valuta asing, tetapi juga tingginya harga minyak dunia. Kondisi tersebut berpotensi menjadi tekanan tambahan terhadap stabilitas ekonomi nasional, meskipun pemerintah sebelumnya mengisyaratkan kondisi anggaran negara masih aman.
“Meskipun pemerintah mengisyaratkan anggaran negara berada dalam posisi aman, risiko fiskal akibat tingginya harga minyak dunia tetap membayangi stabilitas perekonomian,” ujarnya.
Harga minyak mentah yang tinggi dapat menciptakan tekanan berlapis. Ketika harga minyak dunia naik, pemerintah berpotensi harus mengalokasikan anggaran lebih besar untuk menjaga harga energi domestik melalui subsidi dan kompensasi, terutama untuk BBM dan LPG.
“Tingginya harga minyak mentah memicu kekhawatiran utama pada beberapa sektor diantaranya, kenaikan harga minyak secara otomatis meningkatkan alokasi anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi (BBM dan LPG),” kata Ibrahim.
Persoalannya, tekanan terhadap APBN dapat semakin besar apabila peningkatan belanja subsidi tidak diimbangi dengan kenaikan penerimaan negara. Dalam kondisi tersebut, ruang fiskal pemerintah berpotensi menyempit dan risiko pelebaran defisit di atas target semakin terbuka.
“Jika penerimaan negara tidak mampu mengimbangi lonjakan pengeluaran subsidi, risiko pelebaran defisit anggaran di atas target meningkat,” ujarnya.
Tekanan harga minyak juga dapat menjalar langsung ke pasar valuta asing. Kebutuhan impor minyak yang semakin mahal berarti kebutuhan dolar AS meningkat. Jika pasokan dolar tidak mampu mengimbangi permintaan, rupiah berpotensi kembali mendapatkan tekanan.