- Kemendikdasmen
Revitalisasi SMPN 16 Medan Pascabanjir September 2025 Lalu Akhirnya Rampung, Mendikdasmen: Kegiatan Pembelajaran Sudah Berlangsung 100 Persen
Jakarta, tvOnenews.com - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti meninjau langsung kondisi SMPN 16 Medan, pascabanjir September 2025 lalu, yang saat ini telah rampung dilakukan revitalisasi.
Abdul mengatakan, pascarevitalisasi rampung pada Agustus 2026, para murid dan guru dapat kembali menjalankan pembelajaran secara langsung di ruang kelas.
“Pembangunan revitalisasi sekolah yang terdampak banjir ini selesai pada waktunya, bulan Agustus. Semua kegiatan pembelajaran sekarang sudah berlangsung 100 persen. Tidak perlu ada lagi yang melalui pembelajaran daring,” kata Abdul, kepada wartawan, Selasa (15/9/2026).
Abdul menjelaskan bahwa pemulihan satuan pendidikan terdampak bencana tidak berhenti pada perbaikan bangunan.
“Lingkungan belajar yang aman dan nyaman menjadi bagian penting agar guru dan peserta didik dapat kembali menjalankan aktivitas pendidikan tanpa kekhawatiran,” terangnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala UPT SMPN 16 Medan Taripar Rudi Sihaloho menerangkan pekerjaan revitalisasi dimulai sejak April 2026 dan saat ini bangunan telah ditinggikan.
“Revitalisasi dimulai dari bulan April 2026 dan pada bulan Agustus 2026 sudah selesai. Sebelumnya area sekolah ini rendah, sehingga dilakukan penimbunan dan ditinggikan supaya ke depan kalau ada hujan lebat tidak terkena banjir lagi,” ucapnya.
Wali Kota Medan Rico Waas menyampaikan apresiasi kepada Kemendikdasmen atas dukungan revitalisasi bagi SMPN 16 Medan.
“Tentunya fasilitas sekolah akan kita perbaiki juga dan mebel juga akan kami isi kembali. Tahun lalu sekolah ini termasuk yang cukup parah terdampak banjir, sehingga meja-meja belajar anak, banyak yang rusak,” tukas Rico.
Terkait hal ini, Rico menegaskan bahwa Pemerintah Kota Medan akan melanjutkan dukungan terhadap pemenuhan mebel agar peserta didik dapat belajar dengan lebih nyaman.
Menurutnya, revitalisasi SMPN 16 Medan merupakan salah satu bagian dari upaya pemerintah memastikan satuan pendidikan yang terdampak bencana dapat segera pulih dan kembali menjadi ruang belajar yang aman, sehat, nyaman, dan mendukung proses pembelajaran.
Hal tersebut juga dirasakan langsung oleh guru PKN UPT SMPN 16 Medan Patar Saputra Sihombing yang menerangkan bahwa banjir pada September 2025 menjadi pengalaman yang cukup berat bagi sekolah.
Sebab, ketinggian air yang mencapai lebih dari satu meter menyebabkan sejumlah fasilitas dan barang sekolah rusak.
“Awal mula terjadi banjir pada bulan September tahun lalu, tinggi air hampir lebih dari satu meter terendam banjir, jadi banyak yang terdampak. Kebetulan pada hari itu hari libur, sehingga banyak barang-barang yang terkena banjir dan hanya beberapa yang bisa diselamatkan,” ujar Patar.
Setelah revitalisasi, Patar menuturkan perubahan paling terasa bagi guru adalah munculnya rasa aman ketika hujan turun.
Sebelum revitalisasi, hujan deras kerap menimbulkan kekhawatiran karena sekolah berpotensi kembali terendam.
Perubahan kondisi sekolah juga dirasakan langsung oleh salah seorang murid kelas VIII, Alifah Dzakiroh.
Ia mengatakan banjir membuat kondisi ruang kelas dan fasilitas belajar rusak, sehingga proses pembelajaran menjadi kurang nyaman dan kurang fokus.
“Sebelum mendapatkan renovasi dan saat terjadinya banjir, kelas kami seperti kursi dan meja-mejanya ada yang rusak, sudah hancur juga. Jadi kalau kami belajar itu kurang fokus dan kurang nyaman. Setelah mendapatkan revitalisasi dari Kemendikdasmen, kami lebih nyaman lagi untuk belajar dan lebih fokus,” ungkap Alifah. (ars/nsi)