news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi BBM.
Sumber :
  • Freepik

Pertalite Rp10.000 Jadi Tameng Inflasi, Ekonom Bongkar Risiko Jika Harga BBM Subsidi Dilepas

Pemerintah memilih menahan harga Pertalite di tengah lonjakan harga minyak dunia yang telah menembus US$107 per barel.
Selasa, 15 September 2026 - 11:22 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com — Pemerintah memilih menahan harga Pertalite di tengah lonjakan harga minyak dunia yang telah menembus US$107 per barel.

Kebijakan mempertahankan harga BBM subsidi di level Rp10.000 per liter dinilai menjadi salah satu benteng untuk meredam tekanan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat.

Ekonom Universitas Negeri Manado (Unima) Robert R. Winerungan menilai, keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia untuk tidak menaikkan harga Pertalite merupakan langkah yang tepat. Menurutnya, membiarkan harga BBM subsidi mengikuti gejolak pasar global justru berisiko memicu kenaikan harga di berbagai sektor.

“Saya kira itu keputusan yang sangat bijak oleh pemerintah. Karena apabila pemerintah juga menaikkan harga Pertalite, maka inflasi bisa tidak terkendali,” kata Robert saat dihubungi, Selasa (15/9/2026).

Robert menjelaskan, BBM memiliki efek rambatan yang luas terhadap perekonomian. Kenaikan harga Pertalite tidak hanya akan meningkatkan pengeluaran masyarakat untuk transportasi, tetapi juga berpotensi mendorong kenaikan ongkos distribusi yang kemudian diteruskan ke harga barang dan jasa.

Karena itu, menurut dia, pemerintah tidak bisa sepenuhnya menyerahkan harga Pertalite kepada mekanisme pasar, terlebih BBM tersebut digunakan secara luas oleh masyarakat.

“BBM tidak naik saja harga-harga sudah naik, apalagi kalau BBM naik. Artinya, memang pemerintah tidak bisa begitu saja melempar harga Pertalite mengikuti harga pasar karena itu bisa berpotensi membebani masyarakat,” kata Robert.

Di sisi lain, kebijakan tersebut bukan tanpa konsekuensi. Ketika harga minyak dunia meningkat sementara harga Pertalite tetap Rp10.000 per liter, terdapat selisih antara harga yang dibayar masyarakat dan harga keekonomian yang harus ditanggung negara.

Robert mengakui kondisi tersebut berpotensi memperbesar beban subsidi dalam APBN. Namun, ia menilai biaya fiskal tersebut perlu dibandingkan dengan dampak ekonomi yang mungkin muncul jika harga Pertalite dinaikkan.

“Memang subsidi bisa membengkak. Tapi manfaatnya, inflasi kita tidak terlalu tinggi dan daya beli masyarakat sedikit banyak dapat dipertahankan,” ujarnya.

Menurut Robert, tekanan terhadap daya beli bahkan telah terlihat dari perubahan perilaku sebagian konsumen BBM. Masyarakat yang sebelumnya menggunakan BBM dengan oktan lebih tinggi mulai beralih ke Pertalite demi menekan pengeluaran.

Berita Terkait

1
2 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:10
05:30
04:07
01:09
00:52
03:33

Viral