- Freepik
Pertalite Rp10.000 Jadi Tameng Inflasi, Ekonom Bongkar Risiko Jika Harga BBM Subsidi Dilepas
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga BBM subsidi berpotensi semakin mempersempit ruang belanja masyarakat. Kelompok menengah dapat terdorong menurunkan konsumsi, sementara masyarakat berpenghasilan rendah menghadapi tekanan yang lebih besar karena biaya transportasi ikut meningkat.
“Kalau Pertalite naik, kelompok menengah akan semakin tertekan. Yang lebih kasihan lagi adalah masyarakat kelas bawah karena biaya transportasi akan naik dan sebagainya. Banyak efek turunannya apabila harga Pertalite naik,” kata Robert.
Pakar kebijakan publik Universitas Padjadjaran (Unpad) Bonti Wiradinata melihat, persoalan harga BBM tidak bisa hanya dihitung dari besarnya subsidi yang harus ditanggung negara. Menurutnya, pemerintah juga perlu mempertimbangkan stabilitas sosial, ekonomi, hingga geopolitik.
“Kita harus melihatnya dalam strukturnya, tidak hanya dari aspek ekonomi saja, tetapi juga stabilitas geopolitik, stabilitas ekonomi, dan sosial,” kata Bonti.
Bonti mengakui keputusan mempertahankan harga Pertalite memiliki risiko terhadap postur anggaran. Namun, di tengah tekanan harga energi global, ia menilai menjaga stabilitas masyarakat merupakan pertimbangan yang tidak kalah penting.
“Saya pikir kebijakan ini sudah tepat. Walaupun tentunya kebijakan yang tepat ini akan memiliki risiko terhadap postur anggaran,” kata Bonti.
Meski demikian, Bonti mengingatan kebijakan subsidi energi tidak seharusnya berlangsung tanpa batas. Jika tekanan geopolitik dan pasar energi global mulai mereda, pemerintah dinilai memiliki ruang untuk mengurangi subsidi energi secara bertahap pada tahun depan.
Menurut dia, perubahan peta energi global dapat menjadi faktor yang membuat harga BBM lebih stabil. Salah satu perkembangan yang disorotnya adalah meningkatnya eksploitasi sumber minyak baru oleh Amerika Serikat.
“Sekarang dengan Venezuela yang sudah mulai dieksploitasi oleh Amerika, ini juga menjadi game changer untuk peta energi global. Apakah kita akan mengambil langkah seperti itu? Artinya, pada tahun depan kondisi BBM mungkin bisa menjadi lebih stabil karena Amerika sudah memiliki sumber-sumber minyak baru sehingga kemungkinan krisis seperti saat ini dapat berkurang,” ucap Bonti. (agr/ree)