news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi Dibalik Canggihnya Artificial Intelligence (AI) Real-Time, Ada Ancaman Kebocoran Data yang Mengintai.
Sumber :
  • Gambar ilustrasi AI

Stella Christie Ungkap AI Makin Rakus Energi, Indonesia Justru Punya Peluang Besar

Wamendikti Stella Christie mengungkap besarnya konsumsi energi AI dan melihat peluang Indonesia melalui potensi energi terbarukan.
Minggu, 20 September 2026 - 14:16 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti) Stella Christie mengungkap besarnya kebutuhan energi artificial intelligence (AI) yang terus meningkat. Menurutnya, perkembangan AI tidak hanya membutuhkan chips atau semikonduktor, tetapi juga pasokan energi dalam jumlah sangat besar.

Stella menunjukkan data mengenai konsumsi listrik pusat data atau data center untuk kebutuhan AI di Amerika Serikat (AS). Ia menggambarkan tingginya kebutuhan energi tersebut dengan menunjukkan kapasitas sejumlah data center yang mencapai 10 hingga 11 gigawatt.

Hal itu disampaikan Stella dalam video yang diunggah melalui akun Instagram pribadinya. Video tersebut dilihat pada Minggu, 20 September 2026.

"Teman-teman, AI itu rakus luar biasa. Seberapa rakusnya? Ini data center di Amerika Serikat, lihat. 11 gigawatt, 10 gigawatt, kalau dikumpulin semuanya itu, pada saat ini AI data center menggunakan 155 triliun watt hours," kata Stella.

Menurut Stella, konsumsi listrik untuk kebutuhan AI tersebut tidak berhenti pada angka saat ini. Kebutuhan energi diperkirakan terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun mendatang.

Konsumsi Listrik AI Disebut Setara Negara di Eropa

Stella kemudian memberikan gambaran mengenai besarnya konsumsi energi AI dengan membandingkannya terhadap penggunaan listrik sejumlah negara di Eropa.

Ia menyebut pada 2030, konsumsi listrik AI diperkirakan mencapai 465 triliun watt hours. Besarnya angka tersebut, kata Stella, akan membuat kebutuhan energi AI setara dengan konsumsi listrik negara-negara tertentu.

"2030 akan naik ke 465 triliun watt hours. Kalau susah ngebayangin ya, bayangin begini. Tahun lalu, pemakaian listrik energi, AI, itu sama dengan satu negara Latvia selama satu tahun. Tahun ini estimasinya sama dengan Romania," ujarnya.

Stella melanjutkan, kebutuhan energi tersebut akan terus meningkat hingga menyamai konsumsi listrik negara-negara Eropa dengan penggunaan energi yang jauh lebih besar.

"Tahun depan Czechia yang negaranya lebih kecil, tapi pemakaiannya lebih intensif. Dan 2028 itu sama dengan Italia, seluruh Italia harus bekerja keras menghasilkan listrik untuk AI. 2029 sama dengan Inggris Raya, dan setelah itu tidak ada lagi negara di Eropa yang bisa menyamai penggunaan listrik dari AI. Kita harus ke Kanada, begitu besarnya," lanjut Stella.

Perbandingan tersebut digunakan Stella untuk menggambarkan betapa besar energi yang dibutuhkan untuk menopang perkembangan teknologi AI.

Bukan Hanya Listrik, AI Juga Membutuhkan Air

Selain konsumsi listrik, Stella menyoroti penggunaan air dalam pengembangan dan operasional AI. Menurut dia, kebutuhan energi yang besar juga berkaitan dengan penggunaan sumber daya lainnya.

Stella menyebut pada tahun sebelumnya, terdapat air dalam jumlah besar yang digunakan untuk kebutuhan AI hingga mengalami penguapan.

"Bukan saja listriknya rakus luar biasa, tahun lalu itu air minum untuk 1,2 juta orang terevaporasi. Lenyap dari bumi ini dipakai oleh AI," kata Stella.

Karena itu, Stella menilai energi menjadi salah satu faktor yang sangat penting dalam perkembangan AI. Ia menekankan bahwa kebutuhan utama AI bukan hanya perangkat keras berupa chips maupun semikonduktor.

"Nah, jadi kesimpulannya yang membatasi AI atau yang sangat diperlukan AI itu adalah energi. Bukan chips, bukan semikonduktor," ujarnya.

Stella Melihat Peluang untuk Indonesia

Di tengah besarnya kebutuhan energi AI tersebut, Stella justru melihat adanya peluang bagi Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki pasokan energi yang cukup banyak, termasuk potensi energi baru terbarukan atau EBT.

Stella menyebut sejumlah sumber energi terbarukan yang dimiliki Indonesia, seperti tenaga surya, angin, dan panas bumi. Ia menyoroti secara khusus potensi panas bumi Indonesia yang disebut memiliki cadangan terbesar kedua di dunia.

"Ini menarik buat kita Indonesia karena jadi peluang. Kenapa peluang? Karena kita punya energi. Terutama lagi energi terbarukan. Surya, angin sudah tahu, tapi mungkin kalian belum tahu bahwa panas bumi kita adalah cadangan terbesar nomor dua di dunia. Tapi belum kita optimalkan," kata Stella.

Selain panas bumi, Stella juga menyinggung temuan mengenai potensi hidrogen alami di Indonesia. Menurut dia, cadangan hidrogen alami tersebut sangat besar dan berpotensi menjadi salah satu yang terbesar di dunia.

"Dan baru-baru ini kita menemukan bahwa cadangan hidrogen alami kita sangat besar kemungkinan salah satu terbesar di dunia. Penemuan baru. Jadi kita ada kesempatan," ujarnya.

Stella kemudian mengajak untuk melihat perkembangan AI dari dua sisi. Di satu sisi, tingginya konsumsi energi dan air menjadi tantangan yang perlu diperhatikan. Namun di sisi lain, kondisi tersebut dapat menjadi peluang bagi Indonesia karena memiliki sumber energi yang beragam.

"Dan saya mau, kita bahas yuk. Menyeramkan AI itu karena rakusnya luar biasa terhadap energi dan air, atau kita bahkan bisa jadi juara, karena kita punya peluang, kita punya banyak energi," pungkas Stella.

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:38
03:39
04:40
22:09
07:46
08:33

Viral