- Pertamina
Antrean BBM Masih Terus Terjadi, Pengamat: Mobilitas Logistik Nasional Masih Andalkan Truk
Jakarta, tvOnenews.com — Terjadinya antrean BBM di sejumlah daerah diduga disebabkan karena distribusi barang secara nasional masih sangat bergantung pada transportasi angkutan darat.
Angkutan darat khususnya didominasi oleh kendaraan truk dengan fleksibilitas daya jangkau ke berbagai wilayah hingga titik akhir distribusi.
Pengamat transportasi Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Deddy Herlambang, mengatakan sejauh ini masih belum terdapat perubahan signifikan terhadap pola perjalanan logistik nasional.
"Sebagian besar mobilitas barang masih mengandalkan truk karena mampu memberikan layanan door-to-door," katanya saat dihubungi dari Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Besarnya ketergantungan pada transportasi jalur darat ini membuat kebutuhan energi seperti BBM menjadi sangat tinggi. Deddy menilai sejauh ini sarana distribusi BBM yang dimiliki Pertamina sebenarnya telah mendukung kebutuhan penyaluran secara nasional. Namun, kelancaran distribusi hingga titik layanan dipengaruhi juga dengan kondisi prasarana, konektivitas antarwilayah, serta faktor cuaca.
"Kalau sarana, saya percaya, Pertamina banyak truk-truk tangki. Tapi masalah prasarana perlu diperhatikan seperti jalan, jembatan, pelabuhan penyeberangan, jalan tol, penampungan BBM legal, dan lainnya," katanya.
Untuk itu, Deddy mengatakan, ketergantungan tersebut perlu diimbangi dengan pengelolaan perjalanan dan infrastruktur sesuai karakteristik kendaraan.
"Salah satunya (pengaturan) terkait perbedaan kapasitas jalan yang dilalui kendaraan angkutan barang," ujarnya.
Apa yang disampaikan Deddy ini secara tidak langsung telah memberikan gambaran besar mengapa masih marak terjadi antrean truk yang mengular di sejumlah SPBU di berbagai daerah.
Gambaran itu juga relevan untuk menilai kabar penyebab meninggalnya seorang sopir truk saat mengantre BBM di Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Banyak faktor penyebab, bukan semata-mata karena mengantri BBM, jarak perjalanan, infrastruktur jalan yang dilalui, hingga kondisi fisik pengemudi.
"Fenomena itu perlu dilihat secara menyeluruh karena kelancaran distribusi BBM juga berkaitan dengan infrastruktur, pola perjalanan, konektivitas wilayah, serta tata kelola BBM bersubsidi,"ujar Deddy.
Penguatan ketepatan sasaran, kata dia, menjadi sangat penting juga untuk menjaga keberlanjutan distribusi. Di sisi lain, BPH Migas juga sudah menyatakan pengawasan penyaluran BBM subsidi terus diperkuat, termasuk melalui pengendalian QR Code dan pengawasan dari terminal hingga SPBU.