- tvOneNews
Kronologi Siswa SD di Lampung Tengah Meninggal Dunia Diduga setelah Tersedak Kelengkeng Menu MBG
"Tanpa membuang waktu dan tanpa menunggu kendaraan dinas maupun ambulans, para guru langsung membawa Reyhan ke Puskesmas terdekat," jelasnya.
Reyhan saat itu dibawa menuju Puskesmas Poncowarno. Adapun jarak antara sekolah dan puskesmas sekitar 500 meter.
Reyhan kemudian mendapat penanganan medis darurat. Akan tetapi, siswa kelas 3 SD ituu mau tak mau harus dirujuk menuju RS Kartini Kalirejo agar bisa ditangani lebih lanjut.
"Sayangnya setibanya di ruangn perawatan medis rumah sakit, nyawa bocah berusia 9 tahun itu sudah tidak dapat diselamatkan lagi oleh tim medis," ucapnya.
Reyhan sempat mendapat pemeriksaan oleh petugas medis di ruang UGD. Namun, nyawa korban tidak tertolong sehingga dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit.
Jenazah Siswa SD Dibawa ke Rumah Duka
Korban yang dinyatakan meninggal dunia pun dibawa ke rumah duka. Proses pemakaman berlangsung sekitar pukul 11.00 WIB di tempat pemakaman setempat.
"Prosesi pemakaman dihadiri oleh jajaran Muspika, termasuk Camat, Kapolsek Kalirejo, Kepala Kampung, serta jajaran guru dan warga sekitar," tuturnya.
Guru Sempat Imbau Siswa Jangan Langsung Konsumsi MBG
Lebih lanjut, Heri menyampaikan bahwa, pihak sekolah sebenarnya telah memberikan imbauan. Para siswa jangan langsung terburu-buru mengonsumsi makanan MBG yang baru dibagikan oleh pihak SPPG.
Pada saat itu kebetulan sekolah tengah menggelar kegiatan ekstrakurikuler. Pihak guru pendamping juga telah melakukan pengawasan, namun hal tersebut tidak berlangsung secara terus-menerus.
"Guru pendamping sudah mengawasi dan mengimbau agar makanan dikonsumsi nanti. Namun namanya anak-anak, dengan jumlah puluhan anak dan pengawas terbatas, begitu melihat kelengkeng, mereka senang," paparnya.
Heri menyampaikan bahwa, kejadian ini tentu menjadi tamparan bersama. Peristiwa siswa SD meninggal dunia diduga akibat tersedak biji kelengkeng jangan dianggap sebuah musibah semata dan langsung tuntas.
Ia berpenndapat setidaknya harus ada pembenahan. Hal ini bertujuan agar kejadian sepele namun berbahaya yang serupa tidak terulang lagi ke depannya.
"Ini benar semua takdir dari Allah, garis hidup anak yang enggak mungkin bisa dihindari. Besar harapan kami menjadikan ini pembenahan dan koreksi diri masing-masing. Jangan dianggap ini semata musibah terus berlalu, takutnya nanti kejadian lagi," imbau Heri.