- istimewa
Mengenal Sosok Gus Syahid Mubarok: Pesantren Tumbuhkan Kepedulian Sesama
Pemerintah memiliki tanggung jawab melalui kebijakan dan program pembangunan, sementara masyarakat dapat mengambil bagian melalui berbagai bentuk kontribusi sesuai kemampuan masing-masing.
Keduanya tidak harus ditempatkan sebagai dua pihak yang berseberangan. Justru, kerja sama antara pemerintah, masyarakat, lembaga pendidikan, pesantren, komunitas, dan keluarga dapat memperkuat upaya membangun kualitas generasi muda.
Keteladanan Bukan Soal Jabatan
Sosok Gus Syahid, tampaknya menunjukkan: kebermanfaatan bagi masyarakat tidak selalu harus dimulai dari jabatan formal.
Mendampingi anak berangkat sekolah, mengajarkan mengaji, membantu masyarakat memahami persoalan hukum, atau sekadar menyediakan waktu untuk mendengarkan persoalan warga merupakan bentuk kontribusi yang dapat dilakukan dari lingkungan terdekat.
Bagi generasi muda, nilai seperti ini penting untuk diperkenalkan. Keberhasilan seseorang bukan hanya dapat dilihat dari pencapaian pribadi, tetapi juga dari kemampuannya memberikan manfaat kepada orang lain.
Generasi Muda harus Peduli
Cerita dari Pondok Pesantren Al Husaini memberikan satu pesan sederhana: perubahan dapat dimulai dari kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Generasi muda Sukoharjo tidak harus menunggu menjadi tokoh atau memiliki posisi tertentu untuk berbuat sesuatu.
Belajar dengan sungguh-sungguh, menghormati orang tua dan guru, membantu teman, menjaga lingkungan, menghargai perbedaan, dan mau terlibat dalam kegiatan sosial merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan sejak sekarang.
Mari membangun Sukoharjo bukan hanya dengan mengejar kemajuan, tetapi juga dengan menjaga manusia yang ada di dalamnya. Belajar untuk menjadi lebih baik.
Peduli untuk menjadi lebih bermanfaat. Bersama untuk menjaga kerukunan.
Karena masa depan masyarakat bukan hanya ditentukan oleh kebijakan dan pembangunan, tetapi juga oleh generasi yang tumbuh dengan ilmu, kepedulian, dan karakter yang kuat. (muu)