- Julio Trisaputra-tvOne
Rumah Dinasnya di KPAD Cijantung Diduga Jadi Tempat Judi Online, Ini Sosok Oknum Prajurit TNI yang Ditahan
Jakarta, tvOnenews.com - Sebuah rumah di Kompleks Perumahan Angkatan Darat (KPAD) Cijantung, Jakarta Timur, diduga dijadikan tempat judi online (judol).
Sebelumnya, video penggerebekan rumah ini diunggah dan viral lewat akun media sosial Instagram @nowdots dengan keterangan: “Kompleks Tentara Digerebek Polisi, Ditemukan Markas JudoI, 11 Operator Ditangkap”.
Dari video yang dilihat, sejumlah pria yang diduga sebagai operator tampak berada di ruangan yang di depannya adalah komputer yang digunakan dalam operasi judi online.
“Wah, ini ada yang enggak beres nih. Pantesan pagarnya tinggi. Wah, ini kayak judi online nih,” kata perekam video, dikutip Rabu (7/10/2026).
- Julio Trisaputra-tvOne
Berdasarkan keterangan yang tertulis dalam unggahan tersebut, penggerebekan dilakukan pada Minggu (4/10/2026) sekitar pukul 07.30 WIB.
Buntut kasus dugaan operasional judi online itu, Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen TNI Muhammad Nas mengatakan pihak Pomdam Jaya telah menahan satu oknum prajurit TNI.
"Rumah dinas itu yang ditempati oleh yang bersangkutan dan sudah ditahan dalam rangka pemeriksaan di Pomdam Jaya," ungkap Nas di Jakarta, Jumat (9/10/2026).
Adapun oknum prajurit TNI yang ditahan itu adalah Kepala Seksi Intelijen Garnisun Tetap (Kasi Intel Gartap) 1/Jakarta Letkol (Inf) Arman.
Hingga saat ini, Nas menyebut pihak Pomdam Jaya masih menelusuri apakah ada keterlibatan oknum prajurit TNI itu dalam pusaran kasus judi online.
Sebelumnya diberitakan, Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen TNI Donny Pramono mengatakan pengungkapan kasus operasional judi online di rumah dinas berawal dari adanya laporan.
Saat melakukan pemeriksaan di lokasi, ditemukan sejumlah komputer yang diduga digunakan untuk mengoperasikan sistem judi online.
Sebanyak 11 warga sipil yang terdiri atas enam laki-laki dan lima perempuan di rumah itu diamankan untuk diperiksa.
Selain itu, turut disita 32 unit komputer, 14 telepon seluler, dan sembilan KTP. (ant/nsi)