- Tangkapan Layar YouTube Tahu Bulat
Kristomei Sianturi Sempat Ingin Jadi Insinyur, Begini Titik Balik yang Mengubah Jalan Hidupnya
“Bahkan ketika saya tes wawancara masuk SMA Taruna Nusantara, saya ditanya oleh seorang Laksamana bintang dua, Laksamana Muda Wahyo, SK, PhD, pada saat sebagai ketua tim tes wawancara. Saya ditanya, ‘Adik ini setelah lulus dari SMA akan meneruskan ke mana?’ Saya jawab, ‘Siap, Pak. Saya ingin kuliah.’ ‘Kuliah di mana?’ ‘Siap, saya ingin mengambil teknik penerbangan ITB.’ ‘Kenapa tidak masuk ke Akabri?’ ‘Siap, saya tidak suka ABRI.’ Nah, itu jawaban seorang Kristomei umur 15 tahun,” ungkapnya.
Kristomei menjelaskan bahwa ketidaktertarikannya terhadap militer saat itu muncul karena dirinya tidak memiliki pengetahuan mengenai kehidupan tentara.
“Saya tidak punya, tidak pernah punya lingkungan. ABRI itu kayak apa sih? Nggak tahu saya tentang itu. Pangkat aja nggak ngerti. Seorang lulusan SMP masuk ke SMA Taruna Nusantara saya hanya karena beasiswa gratis, nah saya gratisan. Dan saya merasa saya bisa bersaing, berkompetisi dengan semua siswa-siswa yang berasal dari Indonesia,” tuturnya.
Ia juga memiliki keinginan untuk membuktikan bahwa dirinya mampu bersaing dengan pelajar dari berbagai daerah.
“Saya ingin membuktikan bahwa saya dari kampung pun enggak kalah dengan anak-anak Jakarta,” katanya.
Lulus Teknik Mesin Undip, tetapi Memilih Jalan Militer
Meski memiliki cita-cita menjadi insinyur, Kristomei Sianturi akhirnya mulai mempertimbangkan pilihan lain selama menjalani pendidikan di SMA Taruna Nusantara. Lingkungan pendidikan tersebut memperkenalkannya pada kehidupan taruna dan membuka pandangan baru mengenai dunia militer.
Kristomei kemudian mengikuti seleksi Akabri sebagai alternatif. Pada saat yang sama, ia juga mengikuti seleksi perguruan tinggi negeri dan berhasil diterima di jurusan Teknik Mesin Universitas Diponegoro (Undip).
Situasi tersebut membuatnya berada di persimpangan pilihan. Di satu sisi, ia memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di bidang teknik sesuai rencana awal. Di sisi lain, proses seleksi militer yang telah dijalaninya juga membawanya menuju kesempatan menjadi seorang taruna.
Pada akhirnya, Kristomei memilih melanjutkan pendidikan militer. Keputusan tersebut menjadi awal perjalanan panjangnya di lingkungan TNI, meskipun sebelumnya ia tidak pernah membayangkan akan menekuni profesi sebagai tentara.