news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Pojok KC - Kolase Foto pemudik menggunakan motor.
Sumber :
  • tim tvonenews

Pulang Mudik

Tak ada yang lebih nelangsa dari pada tersesat, tak bisa pulang, sendirian di tengah kota pada momen lebaran.
Senin, 8 April 2024 - 12:06 WIB
Reporter:
Editor :

Heroik. Mengharukan. Militansi tak hanya milik kelas bawah. Seorang kawan yang pulang dengan mobil misalnya mengunggah foto di laman media sosialnya: ia dan keluarganya makan dan sholat di pinggir jalan tol karena areal peristirahatan (rest area) yang tak sanggup menampung kendaraan pemudik. 

Walhasil mudik jadi ajang silaturahmi seluruh anak bangsa. Saat mudik, kesabaran dan empati tumbuh secara alamiah. Orang tidak marah kendati harus berjam-jam menanti roda transportasi bisa berjalan karena macet.

Pemahaman kita pada orang lain (liyan), orang yang berbeda dengan kita juga muncul. Bahkan, bila ada yang tertimpa kemalangan di jalan, tidak segan-segan antara satu dan lainnya saling membantu. Itulah solidaritas sosial tanpa dianjurkan, apalagi diinstruksikan atau dipaksa. Semua berjalan secara sukarela.

Mudik jadi instrumen penting mengatasi ketimpangan pertumbuhan ekonomi antardaerah. Kamar Dagang Industri (Kadin) Indonesia memperkirakan perputaran uang selama libur lebaran 2024 mencapai Rp157,3 triliun. Nilai ini dihasilkan dari perhitungan jumlah pemudik yang akan mencapai 193 juta.

Namun, paling penting adalah memahami fenomena mudik sebagai gejala profetik, spiritual dari pada hanya sekedar laku fisik. 

Hidup adalah perjalanan panjang keinginan untuk kembali. 

Dalam Al Quran disebutkan kita, setiap manusia, terikat “perjanjian primordial” untuk kembali pada sang penciptanya. Disebutkan ketika masih dialam ruhani, Allah memanggil kita untuk dimintakan persaksian bahwa Allah adalah Tuhan tempat kembali. 

Perjanjian ini mempengaruhi hidup kita, menentukan rasa bahagia dan sengsara dalam arti yang paling hakiki. Kini kita menyebut rasa ingin kembali itu adalah fitrah, dorongan terus menerus untuk kembali pada Tuhan memenuhi janji tersebut.

Mudik adalah simbolisme dari manifestasi, dari rasa rindu spiritual tersebut. Setelah sebulan penuh ditempa berbagai ibadah, dunia ruhaninya menjadi terang benderang. Pada puncak perjalanan ibadahnya ia mendambakan tempat untuk kembali. 

Tak ada yang lebih nelangsa dari pada tersesat, tak bisa pulang, sendirian di tengah kota pada moment lebaran. Walhasil, apapun imbalannya, tawaran gaji selangit, barang barang mewah atau berbagai kenyamanan dianggap tak sebanding dengan “pulang”.

Berita Terkait

1
2
3 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

00:58
05:02
16:09
01:12
01:57
03:26

Viral