- ANTARA/Anadolu/py/am.
Spiral Api di Teheran: Sejarah yang Kembali Berulang
Kini, perubahan konstelasi aktor terjadi, tetapi pola keterlibatan kekuatan besar pada urusan dalam negeri Iran terasa tak asing—sekutu lama, panggung baru. Bagi Israel, serangan ini adalah upaya mempertahankan superioritas keamanan regional dan mencegah lawan mengembangkan kapasitas strategis yang dianggap mengancam eksistensinya. Bagi Amerika Serikat, ia menegaskan komitmen terhadap sekutu di Timur Tengah di tengah persaingan global dengan China dan Rusia.
Dalam konteks ini, pemikiran Ali Syariati relevan: sejarah bukan garis lurus, melainkan spiral yang kembali ke titik serupa pada level kesadaran berbeda. Konflik lama dapat bangkit kembali dengan wajah baru, namun tetap membawa memori kolektif yang menancap dalam tubuh masyarakat. Dalam narasi Iran revolusioner, perlawanan terhadap tekanan eksternal—termasuk intervensi dan dominasi kekuatan besar—telah menjadi bagian dari identitas nasional.
Istilah “Setan Besar” untuk Amerika Serikat dan “Setan Kecil” untuk Israel muncul dari pengalaman historis revolusi Iran. Sebutan itu bukan hanya retorika; ia mencerminkan gambaran musuh kolektif yang memaksa konsolidasi identitas sosial melalui bahasa simbolik. Di bawah pemerintahan Khomeini, istilah yang disampaikan pada 1979 ini menjadi ikon perlawanan terhadap dominasi asing dan dukungan terhadap hak kedaulatan bangsa. Dalam pidato dan khutbah Jumat di era Khamenei, narasi serupa terus direproduksi sebagai bagian dari ketahanan mental nasional terhadap ancaman eksternal.
Syahidnya Khamenei dan Dinamika Kepemimpinan Iran
Kepergian Khamenei membuka babak baru dalam struktur politik Iran. Pemimpin spiritual tertinggi—Wali Faqih—dipilih oleh Majelis Khobregan atau Assembly of Experts, sebuah lembaga ulama yang dipilih melalui pemilu nasional dan memiliki mandat konstitusional untuk memilih maupun mengawasi Pemimpin Tertinggi. Konstitusi Iran mensyaratkan bahwa seorang Wali Faqih harus memiliki kapasitas ijtihad tingkat tinggi, reputasi moral yang bersih, serta kebijaksanaan politik dan sosial, serta mampu menjaga diri dari perbuatan tercela.
Ketika Khomeini wafat pada 1989, Majelis Ahli memilih Ali Khamenei sebagai penggantinya, meski ia belum menyandang status marja’ tertinggi saat itu. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan spiritual Iran adalah hasil pertimbangan kolektif institusional, bukan monarki agama atau garis keturunan. Sistem ini memungkinkan masyarakat Iran menjalankan taqlid—mengikuti otoritas keagamaan tertinggi—namun tetap mempertahankan ruang bagi diskursus intelektual dan berpikir kritis di kajian akademik maupun keagamaan.