- Istimewa
Mengurai Hegemoni dan Ketahanan: Perspektif Feminisme dalam Bingkai Konflik Iran-Amerika Serikat
Narasi ini bermasalah karena dua alasan fundamental. Pertama, ia memosisikan perempuan Iran sekadar sebagai korban pasif yang tidak berdaya (damsels in distress) yang hanya bisa diselamatkan oleh "pahlawan" dari Barat. Kedua, narasi penyelamatan ini sering kali bersifat hipokrit, karena kebijakan luar negeri yang sama—seperti sanksi yang mencekik—justru memperburuk kondisi kesejahteraan yang diklaim ingin mereka lindungi. Pendekatan ini mengabaikan fakta bahwa pembebasan perempuan tidak dapat diimpor melalui pemaksaan geopolitik atau blokade ekonomi.
Agensi dan Ketahanan Perempuan Iran
Menolak untuk direduksi menjadi pion dalam pertarungan negara-negara adidaya, perempuan Iran terus menunjukkan ketahanan dan agensi politik yang luar biasa. Gerakan sosial belakangan ini, seperti protes "Woman, Life, Freedom", menjadi bukti nyata bahwa perempuan Iran adalah aktor politik independen yang mampu mengorganisasi perlawanan massal dari dalam (Eskandari-Qajar, 2022).
Mereka berjuang di dua front yang berlawanan sekaligus: menentang kebijakan patriarkis dan restriktif dari pemerintah domestik mereka sendiri, sekaligus menanggung dan bertahan dari himpitan ekonomi akibat sanksi asing.
Perspektif feminisme lintas batas (transnational feminism) menekankan pentingnya mendengarkan suara perempuan Iran secara langsung, alih-alih mendikte apa yang terbaik bagi mereka dari luar. Solidaritas global harus dibangun atas dasar penghormatan terhadap perjuangan lokal mereka, bukan dengan menjadikannya amunisi untuk melegitimasi agresi atau tekanan asing.
Kesimpulan
Melihat konflik Iran-AS melalui kacamata feminisme memaksa kita untuk mendefinisikan ulang apa yang dimaksud dengan "keamanan". Keamanan sejati tidak diukur dari jumlah hulu ledak nuklir atau keberhasilan blokade ekonomi, melainkan dari keamanan manusia (human security) di tingkat individu.
Selama kebijakan luar negeri masih mengorbankan kesejahteraan dan nyawa kelompok rentan atas nama kepentingan negara, maka sistem internasional kita masih terjebak dalam hegemoni maskulin yang destruktif. Memahami agensi perempuan Iran dan menolak narasi penyelamatan yang imperialistik adalah langkah pertama yang krusial untuk menganalisis konflik ini secara lebih utuh dan manusiawi. (rpi)