news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Pemimpin Redaksi tvOnenews.com, Ecep S Yasa menyelesaikan Cape Town Marathon.
Sumber :
  • Istimewa

Cape Town Marathon

Saya akhirnya menyelesaikan 8 seri kompetisi elit marathon dunia akhir pekan lalu, sebuah perjalanan  yang merangkum seluruh laku “spiritual” saya pada kota kota di lima benua di dunia: Eropa, Asia, Amerika, Australia dan Afrika.
Kamis, 28 Mei 2026 - 06:45 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com-SAYA akhirnya menyelesaikan 8 seri kompetisi elit marathon dunia akhir pekan lalu, sebuah perjalanan  yang merangkum seluruh laku “spiritual” saya pada kota kota di lima benua di dunia: Eropa, Asia, Amerika, Australia dan Afrika.

Saya memandangi lagi medali Cape Town Marathon yang dikalungkan ke dada oleh seorang marshall setelah mencapai garis finish, sebuah logam berwarna kuning dengan garis biru melingkari tulisan Capa Town Marathon. Saya juga memiliki medali Seven Star yang dikeluarkan oleh Abbot World Marathon Majors, sebuah medali yang menyatukan 7 seri kompetisi elit marathon dunia. Ada banyak jenis marathon. Ada marathon yang hanya tentang waktu, ada juga cerita marathon yang hanya tentang medali. Tetapi, ada juga marathon yang terasa seperti melintasi perjalanan batin, sangat dalam. Dan di ajang lomba Cape Town Marathon, saya termasuk yang merasakan marathon sebagai perjalanan bathin.

Minggu pagi, waktu Cape Town. Saya dan ribuan pelari lainnya bergerak bersama sambil mulai merasakan hangat matahari yang mulai menyinari laut Atlantik. Saat bersamaan, warga lokal berdiri di pinggir jalan sambil menari, bernyanyi, dan memberi semangat dengan energi khas Afrika Selatan. Suara drum, musik lokal, dan sorakan anak-anak menciptakan pengalaman berlari yang begitu hidup.

Bagi saya, Cape Town Marathon bukan sekadar lomba lari 42,195 kilometer. Menjejak Cape Town, kita serasa menjejak kota sekaligus panggung raksasa tempat alam, sejarah, budaya, dan semangat manusia bertemu dalam satu lintasan.

Ketika langkah pertama para pelari termasuk saya di dalamnya dimulai di kawasan Green Point, kita tidak hanya sedang mengejar personal best. Kita seperti sedang berlari melewati cerita panjang tentang Afrika Selatan.

Di sisi kiri, samudera Atlantik mengirim udara dingin yang tajam. Di kejauhan, siluet megah Table Mountain berdiri setia seperti penjaga kota. Setiap kilometer di Cape Town terasa sinematik. Tidak banyak marathon di dunia yang mampu memberi sensasi seperti ini. “Sungguh menjadi momen terbaik yang tidak bisa dibeli dengan medali,” ujar seorang pelari Indonesia.

Beberapa hari di Cape Town membuat saya sadar betul bahwa jika hendak marathon di Cape Town berarti kita harus berdamai dengan alam. Itu adalah cara terbaik, ikhlas menjalani marathon.

Kenapa? Karena kota ini terkenal dengan “Cape Doctor”, angin kencang khas Cape Town yang kadang menjadi lawan terbesar pelari. Sebab kekhawatiran seperti tahun 2025 lalu kembali muncul dipikiran para pelari, marathon sempat dibatalkan karena angin ekstrem demi alasan keselamatan. Namun justru di situlah daya tariknya.

Cape Town mengajarkan bahwa marathon bukan hanya soal melawan waktu, tetapi juga berdamai dengan alam.

Cape Town sendiri adalah salah satu kota paling bersejarah di Afrika. Kota pelabuhan ini menjadi titik penting perjalanan kolonial Eropa, perdagangan dunia, hingga perjuangan melawan apartheid.

Ketika saya melewati area pusat kota dan kawasan bersejarah, yang terasa saya seolah sedang membaca buku sejarah sambil berlari. Ada nuansa emosional yang sulit dijelaskan: rasa kecil di hadapan sejarah, namun sekaligus merasa hidup sepenuhnya.

Salah satunya, sejarah tentang ulama Indonesia yang paling terkenal di Cape Town, Syekh Yusuf Al-Makassari yang saya berkesempatan ziarah ke Makam Keramat Syekh Yusuf sebelum berlari.

Berziarah ke Makam Syekh Yusuf Al-Makassari
Sumber :
  • Ecep S. Yasa

Sambil berlari, saya membayangkan bagaimana hebatnya sosok Syekh Yusuf yang seorang ulama, sufi, dan pejuang dari Makassar yang diasingkan oleh Belanda ke Afrika Selatan pada tahun 1694 karena melawan VOC. Pada setiap lintasan marathon di Cape Town, saya seperti menemukan jejak dakwah Syekh Yusuf—tokoh penting dalam perkembangan Islam di Afrika Selatan.

Mngkin karena Itulah, makam Syekh Yusuf awalnya berada di daerah Macassar, dekat Cape Town, dan sampai sekarang menjadi tempat ziarah umat Muslim. Nama daerah “Macassar” diyakini berasal dari Makassar, kampung asal Syekh Yusuf.

Nama lain yang terlintas adalah Imam Abdullah Qadi Abdus Salam yang dikenal sebagai “Tuan Guru”, ulama besar berasal dari Tidore, yang juga saya datangi makamnya. Setiap langkah marathon, saya membayangkan bagaimana gigihnya Tuan Guru mendirikan madrasah dan masjid pertama bagi komunitas Muslim di Cape Town setelah diasingkan Belanda.

Tak heran, pengaruh kedua ulama ini sangatlah besar dalam sejarah Islam Afrika Selatan, bahkan Nelson Mandela pernah menghormati jasa Syekh Yusuf sebagai tokoh spiritual dan pejuang anti-penjajahan.

Saya tahu negara negara di Afrika adalah sahabat lama Indonesia. Kita pernah menyatukan mereka di Kongres Asia-Afrika di Bandung pada 1955. Kedekatan ini diingatkan lagi ketika Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Cape Town mengadakan jamuan makan siang bertajuk carbo-loading lunch bagi peserta asal Indonesia.“Partisipasi pelari Indonesia di Cape Town mencerminkan semangat disiplin, persahabatan, dan kebanggaan membawa nama Indonesia di ajang internasional,” kata Konsul Jenderal RI Tudiono.

Lomba lari Cape Town Marathon pertama kali hadir pada 1994, lalu berkembang menjadi event besar dunia yang kini bercita-cita menjadi bagian dari Abbott World Marathon Majors—bergabung dengan marathon legendaris seperti Boston Marathon, London Marathon, dan Tokyo Marathon. Cape Town menjadi kandidat pertama dari Afrika untuk masuk jajaran elite tersebut.

Bagi pelari, ada kebanggaan tersendiri ketika mengikuti marathon yang sedang “naik kelas” menuju panggung terbesar dunia. Atmosfernya terasa berbeda. Kita bisa merasakan ambisi besar kota ini untuk menunjukkan bahwa Afrika juga memiliki marathon kelas dunia.

Yang membuat Cape Town istimewa adalah kombinasi lintasan pemandangan luar biasa. Banyak pelari menyebut rute Cape Town sebagai salah satu course paling indah sekaligus paling berat di dunia. Jalannya naik-turun panjang, namun tidak membosankan.

Ketika tubuh mulai lelah setelah kilometer 30, mata justru terus dimanjakan oleh panorama laut, bangunan modern kota, dan gunung yang selalu hadir di cakrawala.

Bagi pelari internasional, Cape Town adalah pengalaman marathon yang komplet. Setelah race selesai, kota ini menawarkan pemulihan terbaik yang bisa dibayangkan: kopi hangat di tepi pantai, sunset di Camps Bay, wisata ke Robben Island, hingga perjalanan ke Cape Peninsula.

Banyak marathon besar dunia hanya memberi pengalaman lomba. Bagi saya, Cape Town memberi pengalaman hidup. Di dunia elite running, Cape Town mulai semakin diperhitungkan. Nama-nama besar dari Kenya, Ethiopia, dan Afrika Selatan rutin hadir. Pelari seperti Stephen Mokoka pernah mencetak rekor lintasan di sini, sementara Eliud Kipchoge bahkan memilih Cape Town sebagai bagian penting perjalanan marathonnya di Afrika. 

Kehadiran elite dunia membuat aura kompetitif marathon ini semakin kuat. Tetapi menariknya, Cape Town tetap terasa hangat untuk pelari amatir. Tidak ada jarak antara elite dan pelari biasa. Semua orang datang dengan alasan yang sama: ingin menaklukkan diri sendiri.

Berlari di Cape Town juga terasa berbeda karena lanskap emosionalnya. Afrika Selatan adalah negeri dengan luka sejarah yang panjang, tetapi juga simbol rekonsiliasi dan harapan.  Ketika kita berlari di kota ini, ada rasa bahwa marathon menjadi metafora perjalanan bangsa tersebut—jatuh, bangkit, dan terus bergerak maju.

Dan mungkin itulah mengapa banyak pelari mengatakan Cape Town bukan sekadar race destination. Ia adalah pengalaman spiritual bagi seorang marathoner. Karena di sini, setiap langkah terasa lebih dalam. Kita tidak hanya berlari mengejar finish line. Kita berlari di ujung benua, ditemani laut, gunung, sejarah, dan mimpi besar dunia lari Afrika.

Dan ketika akhirnya melewati garis finish di bawah sorakan ribuan orang, ada satu perasaan yang sulit dilupakan: Bahwa Cape Town bukan hanya marathon yang selesai dijalani. Cape Town adalah marathon yang tinggal lama di hati pelari. Ecep Suwardaniyasa

 
 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

02:43
05:11
01:51
04:58
02:44
05:38

Viral