- tvOne
Prof Sufmi Dasco dan Jembatan Aspirasi Demokrasi
Meski demikian, dalam suasana politik yang sering kali dipenuhi prasangka dan saling curiga, penting untuk memberikan penghargaan terhadap praktik-praktik politik yang mendorong keterbukaan. Demokrasi membutuhkan kritik, tetapi demokrasi juga membutuhkan apresiasi ketika para pemegang kekuasaan menunjukkan sikap yang sesuai dengan semangat demokrasi itu sendiri.
Mahasiswa memiliki hak untuk menyampaikan tuntutan. DPR memiliki kewajiban untuk mendengarkan. Ketika kedua peran itu bertemu dalam ruang dialog yang terbuka, sesungguhnya yang sedang diperkuat bukan posisi satu pihak terhadap pihak lain, melainkan kualitas demokrasi Indonesia secara keseluruhan.
Karena itu, langkah Prof. Sufmi Dasco Ahmad menemui mahasiswa patut dipandang sebagai contoh bahwa politik tidak selalu harus dijalankan dari balik meja dan prosedur formal. Terkadang, politik yang paling bermakna justru lahir dari keberanian untuk keluar menemui rakyat, mendengar kegelisahan mereka, dan mengakui bahwa suara publik adalah bagian yang tak terpisahkan dari proses pengambilan keputusan.
Pada akhirnya, demokrasi yang kuat bukanlah demokrasi yang bebas dari kritik, melainkan demokrasi yang mampu mengubah kritik menjadi percakapan, percakapan menjadi kebijakan, dan kebijakan menjadi solusi. Di titik itulah gestur sederhana menemui mahasiswa memperoleh makna yang jauh lebih besar: ia menjadi pengingat bahwa kekuasaan yang baik adalah kekuasaan yang tetap mau mendengar.
Dalam konteks itulah, langkah Prof. Sufmi Dasco Ahmad layak diapresiasi. Bukan semata karena ia hadir di tengah demonstrasi, melainkan karena ia menunjukkan bahwa di tengah kompleksitas persoalan bangsa, dialog tetap menjadi jalan terbaik untuk menjembatani perbedaan. Demokrasi pada akhirnya bukan tentang siapa yang paling keras bersuara, melainkan tentang kesediaan semua pihak untuk saling mendengar demi kepentingan yang lebih besar: kemajuan Indonesia.