news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Praktisi Jaminan Sosial Mohamad Rhesa Adisty.
Sumber :
  • Istimewa

Bonus Demografi Tanpa Jaminan Sosial Adalah Bom Waktu

Bonus demografi tanpa jaminan sosial adalah bom waktu. Dan bom itu tidak hanya mengancam mereka yang miskin.
Selasa, 15 September 2026 - 13:05 WIB
Reporter:
Editor :

Ada kelompok pekerja yang sering luput dari pembicaraan tentang jaminan sosial: mereka yang merasa hidupnya baik-baik saja.

Mereka punya pekerjaan. Menerima gaji setiap bulan. Anak sekolah. Mungkin masih mencicil rumah dan kendaraan. Sesekali makan di restoran, berlibur, atau membeli gawai baru.

Mereka tidak merasa miskin, tetapi juga belum cukup kaya untuk merasa aman. Inilah wajah sebagian kelas menengah pekerja Indonesia.

Masalahnya, rasa aman itu bisa menipu.

Satu kali terkena pemutusan hubungan kerja, sakit berkepanjangan, kecelakaan, atau kehilangan pencari nafkah dapat mengubah keadaan sebuah keluarga dengan cepat.

Tabungan yang semula disiapkan untuk pendidikan anak atau uang muka rumah tiba-tiba harus dipakai untuk bertahan hidup. Di situlah kita menemukan ironi pembangunan.

Kita sedang menikmati bonus demografi ketika jumlah penduduk usia produktif sangat besar. Namun, pada saat yang sama, sebagian pekerja yang menjadi penopang ekonomi justru menghadapi ketidakpastian pekerjaan dan pendapatan.

Berdasarkan SUPAS 2025, penduduk berusia 60 tahun ke atas sudah mencapai 11,97 persen. Indonesia mulai memasuki masyarakat yang menua.

Artinya, bonus demografi bukan pesta yang berlangsung selamanya. Mereka yang hari ini bekerja dan membayar cicilan adalah mereka yang kelak membutuhkan penghasilan ketika tidak lagi bekerja.

Pertanyaannya kemudian bukan sekadar: berapa banyak orang yang bekerja? Tetapi: berapa banyak yang benar-benar terlindungi?

Pekerjaan Ada, Rasa Aman Belum Tentu

Selama ini, kita cenderung menganggap pekerjaan sebagai tiket menuju rasa aman. Selama ada gaji setiap bulan, kehidupan dianggap terkendali.

Padahal bagi banyak keluarga kelas menengah, jaraknya tidak selalu sejauh itu.

Gaji mungkin cukup untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga sudah memiliki banyak tujuan: cicilan rumah, biaya pendidikan anak, kendaraan, kesehatan, hingga persiapan masa depan.

Ketika penghasilan berhenti, pengeluaran tidak serta-merta ikut berhenti. Gaji boleh berhenti. Tagihan tidak.

Karena itu, kelas menengah memiliki kerentanan yang khas. Mereka mungkin tidak segera jatuh miskin ketika kehilangan pekerjaan, tetapi mereka juga belum tentu memiliki bantalan yang cukup untuk bertahan lama.

Berita Terkait

1
2 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

05:17
01:10
05:30
04:07
01:09
00:52

Viral