- viva - nur faishal
Solusi Cerdas Ridwan Kamil saat 3000 Bonek Geruduk Bandung, Jawab Keraguan Persebaya di Piala Presiden 2022
Bandung, Jawa Barat - Kota Bandung pernah menjadi saksi perjuangan Bonek Mania. Januari 2017 silam, sebanyak 3.000 suporter asal Surabaya berbondong-bondong datang ke Kota Kembang. Tujuan mereka hanya satu, mendengar langsung komitmen federasi untuk mencabut pembekuan atas tim kebanggan mereka. Ridwan Kamil yang saat itu menjabat sebagai Wali Kota Bandung punya solusi cerdas.
Pihaknya membuka pintu Gor Padjadjaran Bandung dan Gor Takraw Lodaya sebagai tempat menginap ribuan suporter Bajul Ijo itu. Sebanyak 2000 orang menempati Gor Padjadjaran, sementara sisanya 500 orang bermalam di Gor Takraw Lodaya.
Yth Bonek dari Surabaya. Mohon jaga ketertiban selama kongres PSSI di BDG. Tempat berteduh kami siapkan di GOR Pajajaran & GOR Takraw Lodaya pic.twitter.com/mCM8LP1G7T
— Ridwan Kamil (@ridwankamil) January 5, 2017
“Teman-teman Bonek silakan datang ke Bandung. Saya cuman titip jaga ketertiban dan kebersihan. Kami percaya Bonek tidak akan mengganggu keamanan dan kenyamanan Kota Bandung,” ujar Emil sapaan akrab Ridwan Kamil.
Kedekatan hubungan emosional antara Bonek dengan Bobotoh/Viking suporter Persib begitu nampak pada momen perjuangan ini. Tak sedikit dari warga Bandung yang ikut memberikan dukungan moril kepada Bonek, beberapa bahkan nampak mengirimkan nasi bungkus hingga air mineral.
Dalam agenda Kongres Tahunan PSSI saat itu, Andi Peci salah satu pentolan Bonek menyebut pihaknya tidak akan menggelar aksi unjuk rasa di Bandung. “Kami hanya ingin mendengarkan janji PSSI yang akan disampaikan dalam kongres besok untuk memulihkan status Persebaya,” katanya, Sabtu (7/1/2018).
Sebelumnya Bonek menggelar aksi demonstrasi di Jakarta menuntut PSSI agar mencabut sanksi pembekuan atas tim mereka yang sebelumnya dilanda dualisme.
“Ini memang rangkaian perjuangan kami. Tapi di Bandung tidak ada rencana unjuk rasa, hanya ingin dengar komitmen PSSI,” terang Andi.
Benar saja, seluruh rangkaian perjuangan panjang Bonek Mania membersihkan nama Persebaya berbuah manis. Pada 8 Januari 2017, PSSI akhirnya mengumumkan pencabutan sanksi pembekuan Persebaya.
Green Force kembali bisa berlaga di kancah sepak bola Tanah Air. Tapi klub yang berdiri sejak 1927 itu harus memulai perjalanan mereka dari Liga 2.
Persebaya bersama manajemen barunya hanya butuh satu musim untuk mentas ke Liga 1. Mereka dipastikan lolos ke kasta tertinggi usai memenangi laga semifinal melawan Martapura FC di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, pada Sabtu (25/11/2017). Bandung lagi-lagi menjadi saksi kejayaan Bajul Ijo.
Berikutnya Persebaya melaju ke final dan berhadapan dengan PSMS Medan, Selasa (28/11/2017). Dengan penuh percaya diri, anak asuh Alfredo Vera itu unggul dengan skor 3-2 . Piala juara Liga 2 2017 kemudian langsung diarak dari Bandung menuju Surabaya.
PERSEBAYA JUARA LIGA 2
Sambutan meriah dari suporter menyambut tim Persebaya di Bandara Juanda, Sidoarjo (Rabu, 29/11/2017). Persebaya menang 3-2 atas PSMS Medan. Dengan status juara liga 2, Persebaya memperkuat kepantasan promosi untuk melaju ke liga 1#ONEMINUTETVONE pic.twitter.com/KcCc8rIMSd
— tvOneNews (@tvOneNews) November 30, 2017
Persebaya Kini Ragu Main di Bandung
Masuknya Persebaya dalam Grup C bersama Persib, Bhayangkara FC, dan Bali United membuat manajemen Bajul Ijo khawatir. Bukan soal prediksi sengitnya pertandingan, mereka khawatir Bonek sebagai suporter fanatik Persebaya akan berduyun-duyun datang dari berbagai penjuru memadati Kota Kembang selama fase grup Piala Presiden 2022.
Sebagaimana diketahui hubungan erat antara Bonek dan Bobotoh/Viking -suporter Persib, selalu memicu mobilisasi massa dalam jumlah besar. “Aku gak bisa bayangin kita 10 hari main di sana. Itu bisa bedol desa dari Surabaya pada ke Bandung. Dan selama itu pula ada potensi masalah Kamtibmas,” ungkap Manajer Persebaya Yahya Alkatiri.
Yahya menyebut pihaknya telah bersurat ke PT LIB selaku penyelenggara agar meninjau ulang tempat diselenggarakannya fase grup C. Dirinya berharap panitia dapat lebih luwes dalam menyikapi potensi tersebut mengingat ini merupakan kompetisi pramusim.
“Kami khawatir kalau ada apa-apa ini bisa berimbas ke liga juga,” tuturnya.
Manajemen Green Force mengusulkan agar timnya dipindah ke grup yang bermain di luar Pulau Jawa. Grup B menjadi satu-satunya yang dimainkan di luar Pulau Jawa: Kalimantan. Dalam grup tersebut terdapat Barito Putera selaku tuan rumah, Rans Nusantara FC, Persija Jakarta, dan Madura United FC.
“Tapi kalau memang Persebaya tetap di Grup C, kami mengusulkan tempatnya dipindah ke Surabaya. Kami minta kebijaksanaan LIB mengingat pertimbangan Kamtibmas,” tegasnya.
“Kami minta ada keputusan sesegera mungkin karena ini tanggal 11 sudah main,” tambahnya.
Sementara itu Direktur Persib Teddy Tjahjono menyebut pihaknya siap menjadi tuan rumah Grup C Piala Presiden 2022 kendati terdapat risiko Kamtibmas. “Soal Grup C, kita semua pasti ingin nonton ya. Persib tentu akan mencoba menampilkan yang terbaik. Dan selaku tuan rumah kami juga akan memberikan yang terbaik bagi semua tamu, termasuk Persebaya,” ujarnya dalam konferensi pers Piala Presiden 2022, Senin (6/6).
Apalagi, lanjut Teddy, amanah sebagai tuan rumah bukan merupakan yang pertama kalinya bagi Persib. “Kami punya pengalaman dan bukan hal baru. Jadi kami optimis sekali bisa menjadi tuan rumah yang baik bagi siapapun,” tandasnya.
Dalam ajang yang sama, Piala Presiden 2019. Persebaya pernah menumbangkan Persib Bandung dengan skor 2-3. Tim tuan rumah dipaksa menyerah di depan pendukungnya sendiri pada babak penyisihan Grup A di Stadion Sijalak Harupat Bandung, Kamis (7/3/2019). Jadi masih ragukah Persebaya untuk kembali menjemput kejayaan di Kota Bandung?. (amr)