- REUTERS/Jose Luis Gonzalez
Kartel Narkotika Meksiko Tewas, Kota Tuan Rumah Piala Dunia 2026 Lockdown Usai Kerusuhan
Jakarta, tvOnenews.com - Kesiapan FIFA untuk menyelenggarakan Piala Dunia 2026 terganggu dengan situasi mencekam di salah saatu kota tuan rumah di Meksiko.
Guadalajara dilaporkan menaikkan status kota menjadi lockdown setelah berada dalam kondisi darurat menyusul operasi militer yang menewaskan pemimpin kartel besar negara tersebut.
Operasi yang menargetkan Nemesio Ruben Oseguera Cervantes berujung pada kematiannya pada Minggu waktu setempat. Oseguera Cervantes yang dikenal luas dengan julukan “El Mencho” merupakan pemimpin organisasi narkotika bernama Kartel Jalisco New Generation (CJNG).
Dilansir dari laman Inside World Football, dampak dari tewasnya El Mencho berlangsung cepat dan meluas. Sejumlah ruas jalan diblokir, kendaraan dibakar, dan ketegangan meningkat di berbagai titik kawasan metropolitan Guadalajara.
Situasi ini langsung memicu kekhawatiran besar terhadap kesiapan Meksiko sebagai tuan rumah ajang sepak bola terbesar di dunia. Terlebih, Guadalajara dijadwalkan menjadi salah satu kota penyelenggara Piala Dunia 2026 yang digelar bersama Amerika Serikat dan Kanada.
Gubernur Negara Bagian Jalisco, Pablo Lemus, mengambil langkah tegas dengan menghentikan berbagai aktivitas publik. Transportasi umum, kegiatan belajar tatap muka, serta acara besar dihentikan sementara hingga Minggu dan Senin.
Kompetisi sepak bola domestik pun terdampak. Laga derby Liga MX Femenil antara Chivas dan Club América di Estadio Akron resmi ditunda demi alasan keamanan.
Pemerintah Amerika Serikat juga mengeluarkan imbauan kepada warganya di sekitar Guadalajara. Mereka diminta untuk tetap berada di tempat aman dan membatasi aktivitas di luar ruangan.
Estadio Akron dijadwalkan menjadi lokasi empat pertandingan fase grup Piala Dunia 2026. Dua laga besar yang paling dinanti adalah Meksiko vs Korea Selatan pada 18 Juni serta Uruguay vs Spanyol pada 26 Juni.
Namun stadion tersebut sejak awal sudah menghadirkan tantangan tersendiri bagi suporter. Tidak tersedia akses transportasi umum secara langsung seperti metro atau kereta ringan menuju stadion, sehingga mayoritas penonton mengandalkan bus Mi Macro Periferico dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 15 hingga 20 menit.
Akses transportasi daring juga kerap dibatasi saat hari pertandingan berlangsung. Dengan kebijakan zona steril yang biasanya diterapkan FIFA di sekitar stadion, kondisi keamanan dan mobilitas kini menjadi sorotan serius.