news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Lamine Yamal.
Sumber :
  • REUTERS/Pablo Morano

Chant Islamofobia Bergema di Laga Spanyol Vs Mesir, Reaksi Lamine Yamal yang Seorang Muslim Taat Akhirnya Terungkap

Laga Spanyol vs Mesir dinodai aksi rasisme dan chant Islamofobia yang menyasar Lamine Yamal. Bintang muda Barca itu keluar lapangan dengan wajah tertunduk lesu.
Rabu, 1 April 2026 - 15:26 WIB
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Pertandingan persahabatan antara Spanyol dan Mesir yang digelar sebagai bagian dari persiapan menuju Piala Dunia justru berubah menjadi sorotan negatif. Alih-alih menjadi ajang pemanasan yang penuh sportivitas, laga ini ternoda oleh ulah sebagian penonton di tribun Stadion RCDE Barcelona.

Sejak sebelum kickoff dimulai, suasana sudah memanas akibat cemoohan terhadap lagu kebangsaan Mesir. Situasi semakin memburuk ketika sejumlah suporter melontarkan chant bernada Islamofobia sepanjang pertandingan berlangsung.

Teriakan seperti “Siapa pun yang tidak melompat adalah Muslim” menggema di stadion dan memicu kecaman luas. Aksi tersebut tidak hanya menyasar para pemain Mesir, tetapi juga pemain muda Spanyol, Lamine Yamal, yang diketahui beragama Islam.

Insiden ini menjadi bahan perbincangan hangat dalam program El Larguero di Cadena SER. Salah satu jurnalis, Javier Herráez, mengungkapkan kondisi Yamal usai pertandingan dengan mengatakan: 

“Saya melihat Lamine Yamal pergi, karena di zona campuran ini kita bisa melihat wajah para pemain, dan Lamine keluar dari belakang dan dengan cepat memasuki area yang kita kenal di sini untuk para pemain, wajahnya tertunduk, ditemani oleh seorang petugas keamanan," ujar Javier Herráez dikutip dari Cadena Ser, Rabu (1/4/2026).

Kekecewaan mendalam dirasakan pemain berusia 18 tahun tersebut yang justru menjadi simbol masa depan tim nasional Spanyol. 

“Dia bermain untuk Spanyol dan dia seorang Muslim. Jadi, mereka menghina Lamine Yamal, yang saat ini dalam istilah sepak bola, adalah pembawa bendera kita. Bayangkan apa yang dipikirkan anak itu pada usia 18 tahun yang bermain untuk tim nasional Spanyol dan mendengar nyanyian di tribun seperti 'siapa pun yang tidak melompat adalah seorang Muslim'," ucapnya.

Pengamat sepak bola Axel Torres menilai bahwa perilaku tersebut mencerminkan penolakan terhadap keberagaman dalam tim sendiri. Sementara Miguel Martín Talavera menduga tindakan itu muncul dari kurangnya edukasi dan hanya bertujuan untuk merendahkan lawan.

Yang paling disorot adalah minimnya tindakan tegas dari pihak keamanan stadion terhadap pelaku. 

“Sangat jelas siapa yang melakukannya. Sepuluh atau lima belas personel keamanan datang, menurunkan beberapa bendera, menertawakan semua orang, menjalankan pertandingan sesuka hati mereka, dan tidak terjadi apa-apa," kata Javier Herráez.

Berita Terkait

1
2 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

04:40
01:53
05:11
08:13
08:38
02:28

Viral