news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Iran Vs Mesir di Piala Dunia 2026.
Sumber :
  • REUTERS/Lisi Niesner TPX IMAGES OF THE DAY

Usai Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Pelatih Iran Desak FIFA Soal Kelakuan Tak Adil AS sebagai Tuan Rumah ‎

Menurut Amir Ghalenoei, Iran harus menghadapi berbagai kendala yang dinilai tidak wajar selama mengikuti Piala Dunia 2026.
Minggu, 28 Juni 2026 - 18:53 WIB
Editor :

‎Jakarta, tvOnenews.com - Pelatih Timnas Iran, Amir Ghalenoei, melontarkan kritik keras kepada Amerika Serikat (AS) setelah perjalanan Team Melli di Piala Dunia 2026 berakhir. Bahkan, ia meminta FIFA memastikan kejadian serupa tidak kembali dialami tim mana pun pada turnamen mendatang.

‎Menurut Amir Ghalenoei, Iran harus menghadapi berbagai kendala yang dinilai tidak wajar selama mengikuti Piala Dunia 2026. Situasi tersebut membuat perjuangan Mehdi Taremi dan kolega semakin berat, baik di dalam maupun di luar lapangan.

‎Perjalanan Iran memang diwarnai berbagai persoalan sejak sebelum pertandingan pertama dimulai. Team Melli tidak bisa menjalani aktivitas seperti peserta lain karena harus berpindah-pindah negara akibat kebijakan yang diterapkan oleh tuan rumah.

‎Awalnya FIFA menetapkan Iran bermarkas di Tucson, Arizona, Amerika Serikat. Namun, rencana tersebut berubah setelah pihak Amerika Serikat meminta Iran dipindahkan ke Tijuana, Meksiko.

‎Dampaknya, skuad Iran harus melakukan perjalanan dari Meksiko menuju Amerika Serikat pada hari pertandingan. Setelah laga berakhir, mereka juga diwajibkan langsung kembali ke Meksiko tanpa diperbolehkan menginap di wilayah AS.

‎Situasi tersebut membuat proses persiapan dan pemulihan kondisi fisik para pemain menjadi jauh lebih sulit dibandingkan kontestan lain. Iran pun merasa dirugikan karena harus menghadapi tantangan nonteknis sepanjang fase grup berlangsung.

‎Tak hanya persoalan logistik, Iran juga sempat mengajukan permohonan untuk mengenakan pita hitam ketika menghadapi Mesir. Permintaan itu diajukan karena pertandingan berlangsung bertepatan dengan peringatan hari Asyura.

‎Namun, keinginan tersebut tidak dikabulkan. Di sisi lain, pada hari pertandingan justru berlangsung parade PrideFest yang berafiliasi dengan kelompok LGBTQ di luar stadion tempat Iran menghadapi Mesir.

‎Kondisi tersebut membuat Amir Ghalenoei tidak bisa lagi menyembunyikan kekecewaannya. Pelatih berusia 63 tahun itu berharap FIFA mengambil langkah tegas agar perlakuan seperti yang dialami Iran tidak kembali terulang.

‎"Tuan rumah [dalam hal ini Amerika Serikat] tidak memperlakukan kami dengan baik," ujar Ghalenoei dilansir dari Al Jazeera, Minggu (28/6/2026).

‎"Saya mendesak FIFA tidak membiarkan tuan rumah memperlakukan tim dan pemain dengan cara yang sama di masa mendatang. Saya berharap Infantino benar-benar menindak perilaku seperti itu," tambahnya.

‎Terlepas dari berbagai kendala tersebut, Iran sebenarnya masih memiliki peluang lolos hingga pertandingan terakhir Grup G. Namun, hasil imbang melawan Mesir membuat Team Melli gagal menembus babak 32 besar karena kalah bersaing di klasemen peringkat ketiga terbaik.

‎Ghalenoei pun memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh pemainnya yang tetap mampu tampil kompetitif di tengah situasi yang menurutnya sangat berat. Ia menilai perjuangan para pemain Iran layak dikenang dalam sejarah sepak bola negaranya.

‎"Apa yang dilakukan para pemain muda ini, harus tercatat dalam sejarah karena negara tuan rumah memperlakukan kami dengan sangat tidak adil," kata Ghalenoei.

‎"Perilaku mereka terhadap kami sungguh mengerikan, dan kami berharap dunia menyadari hal itu. Terlepas dari semua masalah ini, kami mampu tampil baik, dan dunia bangga dengan rakyat Iran," tutupnya.

‎(igp/hfp)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

04:56
07:53
06:02
02:55
04:58
07:02

Viral