- REUTERS/Eloisa Sanchez
Atlet Adalah Pahlawan Nasional: Alasan Mengapa Timnas Korea Selatan Dihujat usai Tereliminasi dari Piala Dunia 2026
Lalu, istilah tersebut pertama kali digunakan untuk merujuk pada orang Korea (dengan prestasi membanggakan) adalah ketika Kyunghyang Shinmun menyematkannya kepada sosok Park Chan Ho di tahun 1997 lalu. Park Chan Ho sendiri dikenal sebagai salah satu legenda olahraga bisbol dari Korea Selatan.
Jurnal yang sama juga menjelaskan tentang bagaimana sosok Hwang Young-cho, peraih medali emas maraton Olimpiade Musim Panas 1992 dan Asian Games 1994, sebagai sosok "pahlawan nasional".
Tak hanya prestasinya yang membanggakan, tapi juga bagaimana Hwang Young-cho sangat mewakili "orang Korea", baik itu secara fisik maupun sikapnya.
Dengan demikian, ketika seorang atlet atau tim nasional mengenakan seragam kebanggaan, mereka memikul ekspektasi jutaan orang.
Kegagalan di panggung sebesar Piala Dunia tidak dianggap sebagai "bagian dari permainan" semata. Ketika performa mereka di lapangan tidak sebanding dengan ekspektasi nasionalis tersebut, kekecewaan publik pun dengan mudah berubah menjadi hujatan yang menuntut pertanggung jawaban.
Beban sejarah dan ekspektasi yang tinggi
- koreaherald, aljazeera, newstraittimes
Kemarahan suporter juga berakar dari rekor emas yang pernah ditorehkan Korea Selatan di masa lalu. Korea Selatan telah lama memposisikan diri sebagai kekuatan utama sepak bola Asia.
Pencapaian legendaris saat menembus babak semifinal Piala Dunia 2002 menjadi tolok ukur standar bagi tim nasional. Sejak saat itu, publik bak selalu menuntut Taegeuk Warriors untuk tampil dominan dan mampu menaklukkan tim-tim kuat dunia.
Sepanjang keikutsertaan mereka di Piala Dunia, Korea Selatan juga sudah pernah mencatatkan sejumlah rekor membanggakan dengan menumbangkan tim-tim kuat. Sebut saja seperti saat mereka menumbangkan Jerman (Piala Dunia 2018) dan Portugal (Piala Dunia 2022).
Ketika mereka gagal melaju melewati fase grup, seperti yang terjadi di edisi 2026 ini, publik merasa tim nasional telah mengalami kemunduran yang tidak dapat diterima. Kegagalan ini dianggap sebagai noda yang mencoreng sejarah panjang keberhasilan mereka.
Pada akhirnya, hujatan yang diterima Timnas Korea Selatan bukanlah semata-mata karena kebencian, melainkan manifestasi dari kecintaan yang terluka.
Harapan yang terlalu besar terhadap standar prestasi yang telah ditetapkan di masa lalu membuat masyarakat Korea Selatan sulit menerima realita ketika tim kebanggaannya harus angkat koper lebih awal. (ism)