- REUTERS Carlos Barria
Ketika Kaki Kiri Messi Mencetak Revolusi: Sejarah, Filsafat, Seni dan Agama
Oleh: Cendhy Vicky V, Football Enthusiast
tvOnenews.com - Piala Dunia 2026 telah usai. Spanyol keluar sebagai juara. Argentina gagal mempertahankan mahkotanya. Lionel Messi menangis. Jutaan pendukungnya ikut larut dalam kesedihan.
Namun, air mata itu sesungguhnya bukan semata-mata karena kekalahan.
Kesedihan terbesar justru datang dari kesadaran bahwa turnamen tersebut hampir pasti menjadi panggung kompetitif terakhir Lionel Messi bersama tim nasional Argentina. Piala Dunia bukan sekadar kompetisi empat tahunan; ia adalah mahkamah tertinggi sepak bola. Ketika peluit panjang dibunyikan di akhir pertandingan itu, publik dunia seolah menyaksikan sebuah babak sejarah ikut ditutup.
Pemain dengan nama lengkap Lionel Andres Messi Cuccittini, memang masih mengenakan seragam Inter Miami di Major League Soccer. Namun, kompetisi di Amerika Serikat tidak lagi menghadirkan intensitas yang sama dengan kerasnya liga-liga elite Eropa ataupun turnamen antarnegara. Sejumlah laporan terbaru bahkan menyebut bahwa ia hanya akan menjalani beberapa pertandingan perpisahan bersama Albiceleste—julukan timnas Argentina, sebelum benar-benar mengakhiri pengabdiannya.
Sesungguhnya, tidak ada lagi yang perlu dibuktikan!
Piala Dunia 2022 telah diraih. Finalissima berhasil dimenangkan. Copa America telah berkali-kali diangkat. Hampir seluruh gelar individu maupun kolektif yang mungkin dimenangkan seorang pesepak bola telah berada di lemari trofinya. Seolah-olah Messi telah menamatkan sepak bola itu sendiri.
Barangkali karena itulah, tahun 2026 terasa seperti the last dance yang sesungguhnya. Sebuah perjamuan terakhir antara seorang maestro dengan panggung yang selama dua dekade menjadikannya pusat perhatian dunia.
Bahkan lebih mengharukan lagi, sepanjang seremoni penyerahan trofi di MetLife Stadium, New Jersey, salah satu nama yang paling sering menggema dari tribun bukanlah para juara baru, melainkan “Messi”.
Teriakan para pendukung itulah yang membuat penulis seperti tersambar petir.
Sebagai penggemar Barcelona sekaligus Lionel Messi, rasanya berdosa apabila momen tersebut dibiarkan berlalu tanpa refleksi. Esai ini lahir bukan sebagai nostalgia semata, melainkan sebagai ungkapan terima kasih kepada seorang pemain yang telah mengubah cara dunia menikmati, memahami, sekaligus menghayati sepak bola.
Tulisan ini juga bukan sekadar pembahasan mengenai statistik, jumlah gol, atau koleksi trofi. Tapi yang hendak dibicarakan di sini adalah sesuatu yang lebih mendasar: bagaimana Lionel Messi menjelma menjadi sebuah peristiwa sejarah yang mengubah wajah sepak bola modern.
Cruyff-Guardiola-Messi dan Hegel-Marx-Che Guevara
Sebagai pemain yang masih aktif sampai saat ini, prestasi Messi baik pribadi, level klub hingga timnas sudah sangat luar biasa. Terbilang mustahil untuk dikejar oleh satu pemain sepanjang karier. Apalagi mengingat sepak bola modern yang makin ketat dan sulit. Di luar statistik pribadi yang amat banyak dan panjang, yang tidak mungkin dapat ditulis hanya dengan sederhana, pemain yang lahir di kota Rosario ini, telah menjadi simbol revolusi sepak bola modern.
Pemain yang khas dengan nomor punggung 10 ini, telah mempengaruhi dunia sepak bola dengan luar biasa. Bayangkan dengan skill individual yang dahsyat ia mampu memecahkan hampir semua rekor. Koleksi gol, assist, tendangan bebas, dan trofi sekaligus. Di mana pada era sebelumnya rekor-rekor tersebut harus “dibagikan” ke banyak pemain hebat dari klub dan negara seluruh dunia.
Messi dengan julukan dari ESPN “the most decorated player in the history of the world's most popular sport”, adalah manusia perbatasan dalam dunia sepak bola. Di samping skill individual, Messi ditangan pelatih Pep Guardiola (saat melatih Barcelona 2008-2012), juga merevolusi sepak bola. Ideologi, mazhab, dan strategi sepak bola yang dulunya hampir setiap negara besar sepak bola (seperti Inggris, Belanda, Italia, dan Jerman), memiliki gaya khas yang unik.
Terinspirasi dari Cruyff, di tangan Pep dan di kaki Messi (pada saat di Barcelona 2008-2012), sepak bola mengalami kemajuan pesat. Terutama pada visi “pengetahuannya”. Sepak bola selangkah lebih dekat dengan sains. Dengan sesuatu yang harus bisa dijelaskan dari teori dan statistik.
Lewat Tiki-Taka, setiap pemain harus mampu ‘bekerja sama’ dengan utuh, rapi dan dalam satu ritme atau harmoni. Tidak ada satupun pemain yang berleha-leha meski sedang tidak memegang bola.
Memang taktik ini cukup kental perspektif struktur sosialisnya. Mengapa? Karena posisi asli dari pemain hampir melebur dalam pertandingan. Bek bisa menjadi pemain sayap. Gelandang tengah bisa menjadi second striker. Dan striker utama bisa menjadi “fake / shadow striker”. Semua melebur. Dan satu-satunya “dictator proletariat” adalah Pep yang berdiri di pinggir lapangan, yang selalu mengawasi.
Memang hubungan Cruyff, Pep dan Messi memiliki dialektika historisnya tersendiri. Hubungan ketiga figur (yang berbeda era itu Pep sebagai figur transisi) melampaui ikatan pelatih dan pemain. Mungkin analogi hubungan yang tepat adalah seperti Hegel (lewat The Phenomenology of Spirit-nya), Marx (lewat Das Capital-nya) dan Che Guevara. Cruyff sebagai fondasi filsafatnya. Pep sebagai peramu dari berbagai disiplin filsafat dengan “Das Tiki-Taka-nya”. Serta Messi menjadi figur “Che Guevara” yang membawa panji revolusi di panggung drama “90 menit” itu.
Pelekatan Che Guevara sebagai analogi Messi jelas tepat. Setidaknya dalam empat alasan. Pertama Messi dan Che lahir di kota yang sama. Yakni Rosario Argentina. Kedua hubungannya ke Marx dan Hegel serta Guardiola dan Cruyff adalah satu garis ideologi. Ketiga, Messi dan Che adalah simbol revolusi yang berhasil pada visinya masing-masing. Dan keempat jika Che berhasil menjelajahi Amerika Latin dalam The Motorcycle Diaries (1993). Messi telah berhasil mengeksploitasi setiap jengkal lapangan hijau itu. Plus menamatkan sepak bola. Sanad (hubungan) mereka tak terbantahkan.
Dengan berhimpunnya ketiga figur itu, Tiki-Taka menjadi mesin yang membuat lawan, sebagai pesepak bola professional, menjadi teralienasi (terasing). Keterasingan lawan membuat mereka seperti pemain amatir yang baru belajar bermain si kulit bundar itu.
Di kaki kiri Messi, sebagai kaki terkuatnya, yang paling penting bukanlah bagaimana mencetak gol. Tetapi ide tersebut di “breakdown” dengan struktur yang sangat rapi. Dengan tujuan, bagaimana bola digiring dengan dialektika historis taktik. Dan mematerialisasikan ruang dan peluang. Sehingga tesis individual dan “antitesis” taktik berpadu menjadi sintesis gol paling mematikan di kaki kiri Messi.
Sebagai “agent of change” lapangan hijau yang sukses besar, ganjaran atas kegemilangan itu, membawa Messi berhasil meraih banyak rekor dan trofi individu yang menakjubkan. Bahkan raihan pribadinya melewati total gol satu klub sepanjang musim-musim itu.
La Pulga dan Renaisans Kanvas Hijau
La Pulga—Si Kutu, julukan Messi, adalah atlet yang lahir pada fajar baru (renaisans) dan persimpangan sejarah. Ia hadir ketika sepak bola sedang mengalami perubahan paradigma yang sangat mendasar: dari permainan yang bertumpu pada bakat individual menuju olahraga yang semakin ditentukan oleh organisasi taktik, ilmu pengetahuan, dan analisis data.
Pada era paradigma lama, identitas seorang pemain dibangun terutama oleh kemampuan individualnya. Publik datang ke stadion untuk menyaksikan dribel yang tak terduga, umpan yang mustahil dibayangkan, atau gol-gol yang lahir dari momen improvisasi. Setiap pertandingan menyimpan misterinya sendiri. Di sinilah sepak bola tampil sebagai seni pertunjukan, tempat kreativitas individu menjadi pusat perhatian.
Namun, memasuki abad ke-21, lanskap itu perlahan berubah. Perkembangan ilmu kepelatihan, sport science, analisis video, hingga statistik membuat sepak bola bergerak menuju bentuk yang semakin sistematis. Pertanyaan paling mendasar bukan lagi siapa pemain paling berbakat, melainkan bagaimana sebuah tim dapat menguasai ruang, mempertahankan bola, dan menciptakan peluang secara konsisten melalui organisasi permainan.
Posisi-posisi yang dahulu bersifat kaku mulai kehilangan batasnya. Bek sayap ikut membangun serangan. Gelandang bertahan menjadi pengatur tempo. Penyerang turun jauh menjemput bola. Bahkan penjaga gawang dituntut menjadi pemain pertama dalam proses pembangunan serangan (build-up).
Sepak bola modern menghapus sekat-sekat lama. Setiap pemain dituntut memahami permainan secara utuh, bukan sekadar menjalankan tugas sesuai posisi yang tercantum di papan formasi. Ironisnya, justru ketika ruang improvisasi semakin menyempit, Messi tampil sebagai pengecualian.
Ia tetap mampu melakukan dribel yang tampak mustahil. Ia melewati dua, tiga, bahkan empat pemain tanpa kehilangan keseimbangan. Namun, keistimewaannya bukan sekadar pada kemampuan menggiring bola. Tapi yang jauh lebih mengagumkan adalah kemampuannya membaca ruang beberapa detik sebelum ruang itu benar-benar tercipta.
Seolah-olah Messi tidak bermain di waktu yang sama dengan pemain lain. Ia selalu lebih dahulu melihat kemungkinan. Apa yang bagi pemain lain masih berupa kekosongan, bagi Messi telah menjadi jalur operan atau ruang tembak. Karena itu, banyak orang menganggap Messi seperti memiliki naluri yang nyaris profetik. Bukan dalam arti mampu meramal masa depan, melainkan karena ia membaca permainan lebih cepat daripada siapa pun di lapangan.
Pep Guardiola pernah mengungkapkan hal itu dalam dokumenter Manchester City: Together: Champions Again! (2022). “Do you know why Messi is the best player I've ever seen? Because he is a competitor. He's an animal. Messi passes the ball and goes in like a machine. He smells the goal.”
Ungkapan “he smells the goal” bukan sekadar pujian hiperbolik. Guardiola sedang menjelaskan bahwa Messi memiliki intuisi yang tidak dapat sepenuhnya diajarkan melalui latihan. Ia mengetahui ke mana bola akan datang bahkan sebelum orang lain menyadarinya.
La Pulga juga merupakan pemain dengan distribusi bola yang luar biasa. Akurasi umpannya, kemampuan mengatur tempo, serta kecerdasan membaca pergerakan rekan setim membuatnya sanggup memainkan hampir seluruh fungsi kreatif di lapangan.
Dalam banyak kesempatan, ia bahkan memperlihatkan kualitas sebagai seorang playmaker yang tidak kalah mengesankan dibandingkan Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Paul Scholes, ataupun Andrea Pirlo. Di sinilah letak keistimewaannya. Messi tidak sekadar menjalankan sistem Tiki-Taka. Ia menyempurnakannya.
Apollo dan Dionysos di Kaki Kiri Messi
Untuk memahami posisi Messi dalam sejarah sepak bola modern, filsafat Friedrich Nietzsche menawarkan sebuah lensa yang menarik. Dalam The Birth of Tragedy (1872), Nietzsche menjelaskan bahwa kebudayaan Yunani bertumpu pada dua kekuatan yang saling melengkapi: Apollonian dan Dionysian.
Apollo melambangkan keteraturan. Ia adalah simbol bentuk, rasionalitas, keseimbangan, proporsi, serta harmoni. Sebaliknya, Dionysos merupakan simbol gairah, spontanitas, keberanian, kekacauan kreatif, dan ledakan daya hidup yang menolak dibatasi oleh aturan-aturan yang mapan.
Kedua kekuatan itu tidak saling meniadakan. Justru dari ketegangan di antara keduanya lahirlah karya-karya agung. Sepak bola Barcelona era Guardiola adalah representasi yang sangat jelas dari semangat Apollonian.
Seluruh permainan dibangun melalui struktur yang nyaris matematis. Jarak antarpemain diperhitungkan. Ruang dikendalikan. Tempo diatur. Penguasaan bola menjadi prinsip utama. Setiap pemain memahami fungsi kolektifnya. Tiki-Taka, dengan demikian, bukan hanya strategi bermain. Ia merupakan sebuah tata bahasa sepak bola yang menjunjung tinggi keteraturan.
Namun, sistem sehebat apa pun akan kehilangan daya hidup apabila hanya mengandalkan mekanisme.
Di titik inilah Messi menghadirkan unsur Dionysian. Ia menghadirkan ketidakpastian. Ia merusak pola yang terlalu mapan. Ia menemukan celah yang sebelumnya tidak terlihat. Dribel-dribelnya tampak melawan logika. Pergerakannya sering kali tidak dapat diprediksi. Ia membawa kekacauan ke dalam sistem lawan tanpa pernah kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Karena itu, banyak penggemar lawan merasa seolah Barcelona hanya bermain dengan satu pemain: Messi.
Ungkapan itu tentu berlebihan. Namun, hiperbola tersebut memperlihatkan betapa dominannya pengaruh Messi dalam pertandingan. Jose Mourinho, pelatih yang terkenal dengan pendekatan pragmatisnya, pernah mengakui ancaman tersebut. “If you are one against one with Messi, you are dead.”
Kalimat itu bukan sekadar bentuk kekaguman. Messi adalah pengakuan bahwa ada situasi-situasi ketika organisasi pertahanan terbaik sekalipun dapat dihancurkan oleh kreativitas seorang individu.
Messi tidak menolak sistem. Ia menghidupkannya. Ia tidak merusak harmoni. Ia justru membuat harmoni itu bernyawa.
Karena itulah hubungan antara Messi dan Tiki-Taka tidak pernah bersifat subordinatif. Ia bukan sekadar produk dari sistem Guardiola, sebagaimana sering disederhanakan oleh sebagian pengamat.
Sebaliknya, Guardiola dan Messi saling menyempurnakan. Tanpa The Philosopher—julukan Pep, Tiki-Taka mungkin tidak mencapai bentuknya yang paling matang. Tanpa Messi, Tiki-Taka mungkin tidak pernah mencapai keindahan estetikanya yang paling tinggi. Keduanya adalah dua sisi dari revolusi yang sama. Dan revolusi itu mengubah sejarah sepak bola modern.
Messi sebagai Ubermensch: Ketika Seni dan Kehendak, Menjadi Satu
Jika Tiki-Taka merupakan pengejawantahan semangat Apollonian, maka kreativitas Messi adalah ledakan Dionysian yang membuat sistem itu tetap hidup. Namun, hubungan keduanya tidak berhenti pada pertentangan antara keteraturan dan spontanitas. Dalam diri Messi, kedua kutub itu justru bertemu dan melahirkan bentuk baru yang lebih utuh.
Pada titik inilah Nietzsche kembali menawarkan perspektif yang menarik.
Dalam Thus Spoke Zarathustra (1883–1885), Nietzsche memperkenalkan gagasan Ubermensch—manusia yang sanggup melampaui dirinya sendiri. Konsep ini kerap disalahpahami sebagai manusia yang lebih kuat atau lebih berkuasa dibandingkan orang lain. Padahal, yang dimaksud Nietzsche jauh lebih subtil. Ubermensch adalah manusia yang mampu menciptakan nilai-nilainya sendiri; ia tidak sekadar tunduk pada tradisi, tetapi juga tidak memberontak demi pemberontakan itu sendiri. Ia mencipta.
Untuk menjelaskan proses tersebut, Nietzsche menggunakan tiga tahap perkembangan simbolis manusia.
Tahap pertama adalah unta (camel). Unta melambangkan manusia yang memikul beban dan menerima kewajiban sebagai sesuatu yang harus dijalankan. Dalam bahasa alegoris Nietzsche, tahap ini berkata, “Aku harus.” Ia patuh pada aturan, tradisi, dan tuntutan yang datang dari luar dirinya.
Dalam sepak bola, tahap ini dapat dianalogikan sebagai pemain yang menjalankan instruksi pelatih secara disiplin. Ia bermain sesuai peran yang diberikan dan memenuhi ekspektasi yang dibebankan kepadanya.
Tahap kedua adalah singa (lion). Singa berkata, “Aku mau.” Ia mulai menolak belenggu lama dan memperjuangkan kebebasannya sendiri. Keberanian menggantikan kepatuhan.
Jika dianalogikan kepada Messi, tahap ini adalah ketika ia tidak lagi sekadar mengejar kemenangan, melainkan mulai menentukan caranya sendiri untuk menang. Ia tidak sekadar memenuhi sistem; ia mulai memberi arah kepada sistem itu sendiri.
Namun, bagi Nietzsche, tahap tertinggi bukanlah singa. Tahap tertinggi adalah anak (child). Anak melambangkan kreativitas, permainan, rasa ingin tahu, dan kemampuan menciptakan dunia baru tanpa dibebani masa lalu. Anak berkata, “Ya.” Ia menerima kehidupan sebagai ruang penciptaan.
Pada tahap inilah Ubermensch menemukan bentuknya. Sulit menolak kesan bahwa Messi telah mencapai tahap simbolis tersebut. Di lapangan, ia bermain dengan kesungguhan seorang profesional, tetapi sekaligus dengan kegembiraan seorang anak yang sedang menemukan permainan baru. Setiap sentuhan bola tampak lahir dari rasa ingin tahu yang tak pernah selesai. Ia tidak sekadar mengulang pola yang telah berhasil sebelumnya; ia terus mencari kemungkinan baru.
Di balik semua itu bekerja apa yang disebut Nietzsche sebagai Will to Power—kehendak untuk berkuasa. Istilah ini juga sering disalahartikan sebagai hasrat menguasai orang lain. Sesungguhnya, yang dimaksud Nietzsche adalah dorongan paling dasar untuk terus bertumbuh, melampaui diri sendiri, dan menciptakan kemungkinan-kemungkinan baru.
Dalam pengertian ini, Messi tidak bermain demi sekadar mengumpulkan gol atau trofi.
Sebagaimana ilmuwan yang terus meneliti bukan hanya demi gelar akademik, atau seniman yang terus berkarya bukan semata mengejar popularitas, Messi memperlihatkan dorongan yang terus-menerus untuk menyempurnakan dirinya sendiri. Rekor yang ia pecahkan bukanlah tujuan akhir, melainkan konsekuensi dari proses kreatif yang tidak pernah berhenti.
Di sinilah keagungan Messi tidak lagi dapat dijelaskan hanya melalui statistik.
Delapan Ballon d'Or, ratusan assist, atau lebih dari sembilan ratus gol hanyalah jejak yang tertinggal dari sebuah perjalanan yang lebih besar. Tapi yang benar-benar mengesankan bukanlah angka-angka itu, melainkan cara angka-angka tersebut lahir.
Setiap dribel menghadirkan kemungkinan. Setiap operan membuka ruang. Setiap gol menyelesaikan sebuah komposisi. Bola di kaki Messi tidak lagi sekadar objek permainan. Ia berubah menjadi medium ekspresi.
Lapangan hijau menjelma kanvas. Pergerakan tanpa bola menjadi komposisi. Operan menjadi garis. Dribel menjadisapuan kuas. Gol menjadi klimaks sebuah simponi musik yang agung. Dan pertandingan menjadi pagelaran konser yang bersejarah.
Dalam pengertian ini, sepak bola kembali menemukan wataknya sebagai seni. Barangkali karena itulah banyak pertandingan Messi tidak dikenang hanya karena hasil akhirnya, tetapi juga karena keindahan proses yang mengantarkan hasil tersebut. Orang-orang masih mengingat golnya ke gawang Getafe. Atau penampilan magisnya di berbagai malam Liga Champions bukan semata karena bola masuk ke gawang, melainkan karena cara semuanya terjadi terasa melampaui kebiasaan.
Keindahan semacam itu sulit direduksi menjadi data. Ia lebih dekat kepada pengalaman estetis. Karena itu pula, Lionel Messi layak dipandang sebagai figur transisi yang sangat langka dalam sejarah sepak bola. Ia hadir ketika permainan ini bergerak menuju era yang semakin ilmiah, tetapi berhasil memastikan bahwa ilmu pengetahuan tidak mematikan imajinasi. Di tengah dominasi statistik, algoritma, dan organisasi taktik, Messi mengingatkan bahwa sepak bola tetap membutuhkan sesuatu yang tidak seluruhnya dapat dihitung: intuisi, kreativitas, dan keberanian untuk mencipta.
Jika Cruyff meletakkan fondasi filosofis, dan Guardiola membangun bangunan taktisnya, maka Messi adalah kehidupan yang mengisi bangunan tersebut. Ia membuktikan bahwa sistem yang paling rasional sekalipun tetap memerlukan sentuhan manusia agar tidak berubah menjadi sekadar mekanisme.
Dengan demikian, revolusi yang dibawa Messi sesungguhnya bukan hanya revolusi strategi. Ia adalah revolusi cara pandang.
La Pulga mengubah pemahaman bahwa sepak bola tidak harus memilih antara sains dan seni. Keduanya dapat berjalan bersama. Rasionalitas tidak harus mematikan kreativitas, sebagaimana kebebasan tidak harus menolak keteraturan. Di kaki kiri Messi, keduanya menemukan sintesis yang nyaris sempurna.
Ketika Lapangan Hijau Menjelma Ruang Sakral
Jika pada akhirnya Lionel Messi berhasil merevolusi cara dunia memahami sepak bola, maka pengaruh terbesarnya justru baru tampak ketika pertandingan usai. Sebab, ada sesuatu yang terus hidup jauh melampaui sembilan puluh menit di atas lapangan: sebuah makna yang perlahan menjadikan Messi bukan lagi sekadar atlet, melainkan simbol kebudayaan.
Sejarah menjelaskan mengapa Messi menjadi besar. Filsafat membantu kita memahami cara ia bermain. Namun, keduanya belum cukup menerangkan mengapa jutaan orang dari berbagai bangsa rela menangis untuk seorang pemain yang bahkan tidak mereka kenal secara pribadi.
Jawabannya terletak pada satu hal yang lebih mendasar: sepak bola bukan hanya olahraga. Dalam banyak masyarakat, terutama di Amerika Latin, sepak bola telah berkembang menjadi bahasa kolektif yang menyimpan ingatan, harapan, identitas, bahkan keyakinan. Ia bukan lagi sekadar pertandingan, melainkan ruang tempat masyarakat menegosiasikan dirinya sendiri.
Argentina adalah contoh yang paling gamblang. Di negeri itu, sepak bola bukan hanya hiburan akhir pekan. Ia hadir dalam percakapan keluarga, ruang-ruang publik, sekolah, jalanan, hingga doa-doa yang dipanjatkan sebelum pertandingan. Kekalahan tim nasional dapat menghadirkan kesedihan yang terasa personal, sementara kemenangan mampu mengubah suasana sebuah bangsa dalam semalam.
Karena itu, tidak mengherankan apabila figur-figur besar sepak bola Argentina perlahan menempati ruang simbolik yang biasanya hanya diberikan kepada tokoh-tokoh kebudayaan atau keagamaan. Messi adalah salah satunya.
Kaki Kiri Tuhan
Di luar berbagai rekor resmi yang tercatat FIFA maupun lembaga statistik sepak bola dunia, Lionel Messi menyimpan sejumlah kisah yang memperlihatkan bagaimana masyarakat memaknai dirinya.
Menurut Marca, hampir setiap menit dalam pertandingan sepak bola pernah menjadi waktu Messi mencetak gol. Hanya menit pertama yang belum pernah ia taklukkan. Statistik tersebut memang menarik, tetapi bukan itu yang membuat namanya terus dikenang.
Pada tahun 2007, ketika Barcelona menghadapi Espanyol, Messi pernah mencetak gol menggunakan tangan kirinya. Gol itu segera mengingatkan publik pada salah satu momen paling legendaris dalam sejarah sepak bola: The Hand of God Diego Maradona ke gawang Inggris pada Piala Dunia 1986.
Hubungan simbolik antara Maradona dan Messi memang hampir tidak pernah berhenti dibicarakan. Keduanya bukan sekadar dua pemain besar. Mereka adalah dua generasi yang memikul harapan bangsa yang sama. Karena itu, berbagai metafora yang mengelilingi keduanya sering kali bergerak melampaui bahasa olahraga.
Menjelang semifinal Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Inggris, misalnya, Zlatan Ibrahimovic pernah ditanya mengenai prediksinya atas pertandingan tersebut. Dengan gaya khasnya, ia menjawab, “Inggris dulu kalah oleh tangan Tuhan. Sekarang mereka akan menghadapi kaki kiri Tuhan. Kau tahu bagaimana akhirnya.”
Kalimat itu tentu bukan analisis taktik. Ia adalah metafora. Namun, justru di situlah letak menariknya. Dalam sepak bola Amerika Latin, metafora sering kali memiliki kekuatan yang hampir sama besarnya dengan fakta.
Julukan “Tangan Tuhan”, “Dewa Sepak Bola”, atau “Kaki Kiri Tuhan” tidak dimaksudkan untuk menggantikan Tuhan dalam pengertian teologis. Sebaliknya, istilah-istilah tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat berusaha menjelaskan pengalaman yang terasa melampaui bahasa biasa.
Ketika seseorang memainkan sepak bola dengan cara yang tampak mustahil dijelaskan, bahasa sehari-hari menjadi terasa tidak memadai. Maka lahirlah metafora-metafora religius.
Sepak Bola sebagai Agama Kedua
Fenomena semacam itu tidak muncul secara kebetulan. Secara sosiologis, negara-negara Amerika Latin memang memiliki hubungan emosional yang sangat kuat dengan sepak bola. Di Argentina maupun Brasil, olahraga ini sering disebut sebagai “agama kedua” setelah agama yang dianut secara resmi.
Ungkapan tersebut tentu tidak berarti masyarakat mengganti keyakinan religiusnya dengan sepak bola. Tapi yang dimaksud adalah fungsi sosialnya.
Sebagaimana agama menghadirkan identitas, solidaritas, ritual, simbol, dan pengalaman emosional bersama, sepak bola pun menjalankan fungsi-fungsi serupa dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, simbol-simbol religius dan simbol-simbol sepak bola sering kali saling berjumpa tanpa dipandang sebagai sesuatu yang bertentangan.
Contoh paling menarik adalah keberadaan Iglesia Maradoniana—Gereja Maradona. Didirikan di Rosario pada tahun 1998 oleh Héctor Campomar, Alejandro Verón, dan Hernán Amez, komunitas ini awalnya lahir sebagai bentuk penghormatan kreatif kepada Diego Armando Maradona. Seiring waktu, ia berkembang menjadi komunitas internasional yang anggotanya tersebar di lebih dari seratus negara.
Tentu saja, Iglesia Maradoniana bukanlah agama dalam pengertian formal sebagaimana Katolik atau Islam.
Ia lebih tepat dipahami sebagai ekspresi budaya yang menggunakan simbol-simbol keagamaan untuk merayakan sosok yang dianggap telah memberi kebahagiaan dan identitas bagi jutaan orang Argentina.
Fenomena itu memperlihatkan satu hal penting.Dalam masyarakat tertentu, batas antara olahraga, mitologi, dan kebudayaan tidak selalu tegas. Tokoh-tokoh olahraga dapat berubah menjadi simbol yang mengikat memori kolektif sebuah bangsa.
Dan setelah wafatnya Maradona, sebagian ruang simbolik tersebut perlahan diwariskan kepada Lionel Messi. Bukan tanpa alasan. Sebab Maradona adalah bapak baptis dari anak-anak Messi. Dan Messi adalah bapak baptis dari cucu Maradona. Dan Messi adalah sahabat karib dari Kun Aguero (mantan pemain Barcelona dan legenda Manchester City), menantu Maradona. Di sini nasab (hubungan kekeluargaan) mereka tak terbantahkan.
Ritual, Totem, dan Lapangan yang Menjadi Ruang Sakral
Mengapa sepak bola mampu melahirkan emosi sedemikian besar? Pertanyaan ini membawa kita kepada salah seorang sosiolog terbesar abad ke-20, Emile Durkheim. Dalam The Elementary Forms of Religious Life (1912), Durkheim menjelaskan bahwa agama bukan semata-mata persoalan Tuhan atau doktrin. Tapi yang paling mendasar dari agama adalah kemampuannya membangun pengalaman kolektif yang membedakan antara yang profan dan yang sakral.
Sakral adalah sesuatu yang ditempatkan di luar keseharian, dihormati bersama, dan dirayakan melalui berbagai ritual. Jika gagasan itu dipinjam untuk membaca sepak bola, kita akan menemukan banyak kemiripan. Stadion berubah menjadi ruang berkumpul. Lagu kebangsaan dinyanyikan layaknya liturgi. Jersey menjadi simbol identitas. Syal, bendera, dan warna klub memperoleh makna yang melampaui fungsi bendanya.
Sementara pertandingan menjadi sebuah ritual yang menyatukan ribuan, bahkan jutaan orang, dalam pengalaman emosional yang sama. Dalam konteks itu, Messi tidak lagi hanya hadir sebagai pemain. Ia menjelma menjadi sebuah totem—simbol yang menyatukan identitas kolektif masyarakat pendukungnya.
Totem bukanlah objek penyembahan, melainkan lambang yang membuat sebuah komunitas mengenali dirinya sendiri. Ketika ribuan orang meneriakkan nama Messi, yang sesungguhnya sedang mereka rayakan bukan hanya seorang pemain sepak bola, melainkan seluruh ingatan, harapan, dan kebanggaan yang dilekatkan kepadanya.
Karena itulah air mata Messi setelah kekalahan sering kali berubah menjadi air mata jutaan pendukungnya. Sebaliknya, senyum Messi setelah kemenangan terasa seperti kemenangan seluruh bangsa.
Hubungan semacam itu tidak dibangun hanya oleh statistik. Ia lahir dari pengalaman bersama yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Sepak Bola Menjadi Arena Pertarungan Kultural
Jika Durkheim membantu menjelaskan mengapa sepak bola memiliki dimensi yang menyerupai agama, maka Pierre Bourdieu membantu kita memahami mengapa olahraga dapat berubah menjadi arena kebudayaan.
Dalam esainya How Can One Be a Sports Fan? (1978) dan kemudian dalam The Logic of Practice (1990), Bourdieu menjelaskan bahwa olahraga tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu terhubung dengan struktur sosial, kelas, pendidikan, ekonomi, politik, hingga kebudayaan yang melingkupinya.
Sepak bola, dengan demikian, bukan sekadar permainan. Ia adalah arena (field), tempat berbagai bentuk modal—ekonomi, budaya, simbolik, maupun sosial—saling berinteraksi dan diperebutkan.
Seorang pemain tidak hanya membawa kemampuan teknis. Ia juga membawa sejarah keluarganya, lingkungan tempat ia tumbuh, nilai-nilai yang membentuknya, serta kebudayaan yang diwariskan kepadanya sejak kecil.
Messi merupakan contoh yang sangat jelas mengenai hal itu. Ia lahir di Rosario, kota yang telah lama hidup bersama sepak bola. Dan kebetulan adalah nama yang sama dengan benda sakral yang dikalungkan para pemeluk Katolik. Messi tumbuh di tengah masyarakat yang memandang permainan ini bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari identitas nasional. Ketika kemudian hijrah ke Barcelona, ia tidak kehilangan akar kebudayaannya. Sebaliknya, ia mempertemukan tradisi sepak bola Argentina yang penuh spontanitas dengan disiplin taktis Eropa yang sangat rasional.
Dari perjumpaan dua tradisi itulah lahir seorang pemain yang mampu menggabungkan intuisi dengan metodologi, improvisasi dengan organisasi, seni dengan ilmu pengetahuan.
Karena itu, keberhasilan Messi tidak dapat dijelaskan hanya melalui bakat. Ia adalah hasil dari pertemuan panjang antara manusia, sejarah, pendidikan sepak bola, kebudayaan, dan waktu.
Mengapa Messi The One and Only?
Pertanyaan ini sering terdengar sederhana. Namun, jawabannya jauh lebih rumit daripada sekadar menyebut bakat.
Lionel Messi hanya lahir sekali bukan karena dunia kehabisan pemain berbakat. Sepak bola akan selalu melahirkan talenta-talenta besar. Akan selalu ada pemain yang lebih cepat, lebih kuat, lebih tinggi, atau lebih atletis.
Tapi yang membuat Messi sulit diulang justru adalah konfigurasi sejarah yang melahirkannya. Ia lahir ketika sepak bola sedang bergerak dari permainan yang mengandalkan naluri individual menuju olahraga yang bertumpu pada ilmu pengetahuan, statistik, dan organisasi taktik.
Di tengah perubahan besar itu, Messi berhasil menjadi jembatan. Ia tidak menolak modernitas. Namun, ia juga tidak membiarkan modernitas menghilangkan jiwa permainan. Ia menerima disiplin tanpa kehilangan kebebasan. Ia tunduk pada sistem tanpa kehilangan kreativitas. Ia membuktikan bahwa keteraturan tidak harus mematikan imajinasi.
Sebagaimana karya seni besar tidak pernah lahir hanya karena kemampuan teknis senimannya, demikian pula Messi tidak muncul semata-mata karena latihan yang keras. Kejeniusannya merupakan hasil perjumpaan yang sangat langka antara lingkungan sosial, pendidikan sepak bola, pengalaman hidup, karakter pribadi, dan momentum sejarah yang tepat.
Dalam bahasa filsafat sejarah, figur seperti Messi dapat disebut sebagai sebuah singularitas—peristiwa yang hampir mustahil diulang karena seluruh syarat yang melahirkannya tidak mungkin hadir kembali dalam susunan yang persis sama.
Warisan yang Melampaui Trofi
Pada akhirnya, warisan terbesar Lionel Messi tidak terletak pada delapan Ballon d'Or, ratusan gol, ataupun puluhan trofi yang kelak hanya akan menjadi angka dalam arsip sejarah. Warisan sejatinya adalah perubahan cara kita memandang sepak bola.
Melalui dirinya, olahraga kembali dipahami sebagai ruang tempat seni, filsafat, sejarah, agama, dan kemanusiaan saling bertemu. Ia memperlihatkan bahwa sebuah pertandingan dapat menjadi karya estetis. Bahwa sebuah gol dapat dibaca sebagai ekspresi kreativitas. Bahwa sebuah stadion dapat berubah menjadi ruang tempat identitas kolektif dipertunjukkan. Dan bahwa seorang pemain dapat menjadi bagian dari sejarah kebudayaan, bukan hanya sejarah olahraga.
Barangkali karena itu, generasi mendatang tidak hanya akan bertanya berapa banyak gol yang pernah dicetak Lionel Messi. Mereka juga akan bertanya mengapa dunia pernah begitu terpesona kepada seorang lelaki bertubuh kecil dari Rosario.
Jawabannya tidak cukup ditemukan pada statistik. Tidak pula hanya pada lemari trofinya.
Jawabannya terletak pada kenyataan bahwa Messi telah mengubah cara manusia mengalami sepak bola. Ia membuat permainan yang paling populer di dunia kembali mengingat akar terdalamnya: bahwa sepak bola bukan sekadar tentang menang atau kalah, melainkan tentang imajinasi, harapan, dan pencarian makna.
Sebagaimana revolusi besar dalam sejarah manusia, pengaruhnya tidak berhenti ketika pelakunya meninggalkan panggung. Ia justru terus hidup melalui cara orang lain memandang dunia setelahnya. Demikian pula Lionel Andres Messi Cuccittini.
Ketika kelak ia benar-benar menggantung sepatunya, dunia mungkin kehilangan seorang pemain sepak bola. Akan tetapi, sejarah tidak kehilangan sebuah gagasan. Sebab, di kaki kiri lelaki kecil dari Rosario itu, sepak bola pernah menemukan bentuknya yang paling utuh: sebagai ilmu yang dikerjakan dengan disiplin, seni yang dipentaskan dengan keindahan, filsafat yang mengajarkan cara berpikir, dan kebudayaan yang menyatukan manusia melampaui batas bangsa, bahasa, maupun agama.
Mungkin karena itulah, Messi tidak pernah benar-benar menjadi milik Barcelona, Argentina, Paris Saint-German (PSG) atau Inter Miami semata.
La Pulga telah menjadi milik sejarah. Dan sebagaimana setiap peristiwa besar dalam peradaban manusia, sejarah hanya mempertemukan kita sekali dengan sosok seperti dirinya.
Penutup, dengan alasan dan deskripsi yang telah diuraikan semua tidak berlebihan memang kiranya membaptis Messi sebagai Greatest of All Time (GOAT). Sebagai pemain sepak bola dan sebagai atlet olahraga.