- Instagram - FA Singapura
FIFA Jatuhkan Sanksi Denda hingga Larangan Bermain Seumur Hidup kepada Singapura dan Malaysia Jika Terbukti 'Main Mata' Demi Jegal Timnas Indonesia
Setiap individu yang terbukti secara langsung maupun tidak langsung memanipulasi pertandingan terancam larangan terlibat dalam seluruh aktivitas sepak bola minimal lima tahun serta denda sekurang-kurangnya 100 ribu dolar AS.
Sanksi tersebut bahkan dapat menjadi jauh lebih berat apabila kasusnya dianggap serius oleh badan yudisial FIFA.
Hukuman bisa diperpanjang dan dalam kasus tertentu pelaku dapat dijatuhi larangan seumur hidup dari seluruh aktivitas yang berhubungan dengan sepak bola.
Hukuman tidak hanya berpotensi menimpa pemain, pelatih, atau ofisial yang terbukti terlibat karena federasi tempat mereka bernaung juga dapat terkena konsekuensi.
Pasal yang sama membuka kemungkinan pertandingan dinyatakan forfeit atau asosiasi terkait dinyatakan tidak memenuhi syarat untuk mengikuti kompetisi lain demi menjaga integritas kompetisi.
Dengan demikian, apabila secara hipotetis terdapat bukti bahwa pihak dari Singapura dan Malaysia sama-sama membuat kesepakatan untuk mengatur jalannya pertandingan, konsekuensinya dapat mengenai kedua kubu.
FIFA Disciplinary Committee mempunyai kewenangan untuk menyelidiki sekaligus mengadili tindakan yang terjadi di dalam maupun di luar lapangan terkait dugaan manipulasi pertandingan.
Ada pula kewajiban khusus bagi pemain maupun ofisial untuk melaporkan apabila mengetahui adanya pendekatan terkait manipulasi pertandingan.
Mereka yang mengetahui adanya rencana tersebut tetapi tidak melaporkannya kepada FIFA dapat terkena larangan beraktivitas di sepak bola sedikitnya dua tahun dan denda minimal 15 ribu dolar AS.
Regulasi FIFA ASEAN Cup 2026 juga mewajibkan seluruh asosiasi peserta dan anggota delegasinya mematuhi prinsip fair play serta seluruh regulasi FIFA yang berlaku.
Dengan demikian, FIFA Disciplinary Code tetap menjadi dasar hukum yang dapat digunakan apabila terjadi pelanggaran integritas dalam turnamen tersebut.
Namun, skor besar atau performa buruk sebuah tim tidak dengan sendirinya membuktikan adanya pengaturan pertandingan.
FIFA tetap membutuhkan bukti yang dapat menghubungkan tindakan pemain atau ofisial dengan kesengajaan untuk memengaruhi hasil maupun jalannya pertandingan.
Bukti tersebut dalam praktik kasus manipulasi dapat berupa komunikasi antarpihak, transaksi keuangan, kesaksian, informasi dari pelapor, data pertandingan hingga pola taruhan yang mencurigakan.