news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Singapura Vs Malaysia.
Sumber :
  • Instagram - FA Singapura

FIFA Jatuhkan Sanksi Denda hingga Larangan Bermain Seumur Hidup kepada Singapura dan Malaysia Jika Terbukti 'Main Mata' Demi Jegal Timnas Indonesia

Malaysia dan Singapura terancam sanksi berat FIFA jika terbukti mengatur pertandingan, mulai denda, larangan bermain, hingga diskualifikasi dari kompetisi.
Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:53 WIB
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Pertandingan Malaysia melawan Singapura di laga terakhir Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 masih menjadi perbincangan setelah Harimau Malaya menang telak dengan skor 6-0 di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung, Kamis (1/10/2026). 

Hasil mencolok itu melahirkan beragam spekulasi di media sosial karena Malaysia saat itu sedang terlibat persaingan sangat ketat dengan Timnas Indonesia untuk memperebutkan tiket menuju final.

Malaysia memang membutuhkan kemenangan dengan margin sebesar mungkin karena perolehan poin dan selisih gol mereka bersaing ketat dengan Timnas Indonesia. 

Malaysia terus mengejar gol dan berhasil mencetak tiga gol dalam 17 menit terakhir sebelum akhirnya tetap gagal lolos setelah Indonesia mengalahkan Bangladesh 9-2.

Timnas Indonesia Vs Bangladesh
Sumber :
  • tvOnenews.com - Ilham Giovanni

Timnas Indonesia akhirnya menjadi juara Grup A setelah sama-sama mengoleksi tujuh poin dan memiliki selisih gol +9 dengan Malaysia. 

Garuda berhak ke final karena unggul produktivitas gol, sementara Malaysia harus puas melanjutkan turnamen ke pertandingan perebutan tempat ketiga.

Di tengah situasi tersebut, muncul pertanyaan mengenai hukuman yang mungkin dijatuhkan FIFA apabila suatu saat terdapat bukti bahwa dua tim sengaja bekerja sama untuk memengaruhi hasil pertandingan. 

Jawabannya ternyata tidak main-main karena tindakan semacam itu dapat masuk ke dalam kategori manipulasi pertandingan atau match manipulation berdasarkan regulasi FIFA.

Logo FIFA
Sumber :
  • FIFA.com

FIFA menjelaskan manipulasi pertandingan sebagai tindakan memengaruhi atau mengubah secara tidak sah jalannya, hasil, maupun aspek lain dari suatu pertandingan melalui tindakan ataupun pembiaran. 

Motifnya juga tidak harus berkaitan dengan perjudian atau keuntungan finansial karena manipulasi demi memperoleh keuntungan olahraga, termasuk membantu suatu tim lolos dalam kompetisi, masuk dalam cakupan tersebut.

Artinya, praktik “main mata” bisa menjadi persoalan serius apabila terbukti terdapat kesepakatan untuk sengaja kalah, membiarkan lawan mencetak gol, bermain buruk dengan sengaja, atau tidak melakukan tindakan yang semestinya dilakukan. 

FIFA bahkan mencantumkan tindakan sengaja bertahan buruk atau sengaja memberikan keuntungan kepada lawan sebagai contoh perilaku yang dapat berkaitan dengan manipulasi pertandingan.

Ancaman hukumannya diatur dalam Pasal 20 FIFA Disciplinary Code yang berlaku pada 2026 dan masuk dalam FIFA Legal Handbook terbaru. 

Setiap individu yang terbukti secara langsung maupun tidak langsung memanipulasi pertandingan terancam larangan terlibat dalam seluruh aktivitas sepak bola minimal lima tahun serta denda sekurang-kurangnya 100 ribu dolar AS.

Sanksi tersebut bahkan dapat menjadi jauh lebih berat apabila kasusnya dianggap serius oleh badan yudisial FIFA. 

Hukuman bisa diperpanjang dan dalam kasus tertentu pelaku dapat dijatuhi larangan seumur hidup dari seluruh aktivitas yang berhubungan dengan sepak bola.

Hukuman tidak hanya berpotensi menimpa pemain, pelatih, atau ofisial yang terbukti terlibat karena federasi tempat mereka bernaung juga dapat terkena konsekuensi. 

Pasal yang sama membuka kemungkinan pertandingan dinyatakan forfeit atau asosiasi terkait dinyatakan tidak memenuhi syarat untuk mengikuti kompetisi lain demi menjaga integritas kompetisi.

Dengan demikian, apabila secara hipotetis terdapat bukti bahwa pihak dari Singapura dan Malaysia sama-sama membuat kesepakatan untuk mengatur jalannya pertandingan, konsekuensinya dapat mengenai kedua kubu. 

FIFA Disciplinary Committee mempunyai kewenangan untuk menyelidiki sekaligus mengadili tindakan yang terjadi di dalam maupun di luar lapangan terkait dugaan manipulasi pertandingan.

Ada pula kewajiban khusus bagi pemain maupun ofisial untuk melaporkan apabila mengetahui adanya pendekatan terkait manipulasi pertandingan. 

Mereka yang mengetahui adanya rencana tersebut tetapi tidak melaporkannya kepada FIFA dapat terkena larangan beraktivitas di sepak bola sedikitnya dua tahun dan denda minimal 15 ribu dolar AS.

Regulasi FIFA ASEAN Cup 2026 juga mewajibkan seluruh asosiasi peserta dan anggota delegasinya mematuhi prinsip fair play serta seluruh regulasi FIFA yang berlaku. 

Dengan demikian, FIFA Disciplinary Code tetap menjadi dasar hukum yang dapat digunakan apabila terjadi pelanggaran integritas dalam turnamen tersebut.

Namun, skor besar atau performa buruk sebuah tim tidak dengan sendirinya membuktikan adanya pengaturan pertandingan. 

FIFA tetap membutuhkan bukti yang dapat menghubungkan tindakan pemain atau ofisial dengan kesengajaan untuk memengaruhi hasil maupun jalannya pertandingan.

Bukti tersebut dalam praktik kasus manipulasi dapat berupa komunikasi antarpihak, transaksi keuangan, kesaksian, informasi dari pelapor, data pertandingan hingga pola taruhan yang mencurigakan. 

Karena itu, kesalahan pemain, pertahanan buruk atau jumlah gol yang tidak biasa hanya dapat menjadi bagian dari analisis dan bukan otomatis menjadi bukti bahwa sebuah pertandingan telah diatur.
 

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

08:50
02:47
06:54
06:16
06:20
07:15

Viral