- tvOnenews.com - Ilham Giovanni
Akui Gagal Persembahkan Juara untuk Persija, Diki Soemarno Resmi Mundur dari Jabatan Ketua Umum The Jakmania
Jakarta, tvOnenews.com - Momen emosional datang dari Ketua Umum The Jakmania, Diky Soemarno, yang resmi berpamitan setelah enam tahun memimpin kelompok suporter terbesar Persija Jakarta tersebut.
Dalam pernyataan terbukanya melalui akun X Infokom Jakmania, Diky menyampaikan rasa bangga sekaligus penyesalan terdalam karena belum mampu membawa Persija meraih gelar juara selama masa kepemimpinannya.
Diky mengenang awal perjalanannya dengan penuh makna. Ia datang dengan tekad menjaga “rumah” bernama The Jakmania, yang menurutnya bukan sekadar komunitas suporter, melainkan bagian dari kehidupan yang membentuk dirinya.
“Enam tahun lalu saya datang dengan satu keyakinan sederhana. Bahwa saya ingin menjaga rumah ini sekuat yang saya bisa. Rumah bernama The Jakmania,” ujar Diky.
Selama dua periode menjabat, Diky menilai banyak hal telah dilalui bersama. Ia menyebut keberhasilan menjaga eksistensi Jakmania di masa sulit pascapandemi sebagai salah satu pencapaian penting.
Selain itu, pembenahan organisasi, sistem keanggotaan yang lebih tertata, hingga memperluas kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi bagian dari perjalanan yang ia banggakan.
“Kita menjaga Jakmania tetap hidup di masa-masa sulit setelah pandemi. Kita membuat organisasi ini lebih tertata dengan sistem keanggotaan dan identitas yang lebih jelas,” katanya.
Namun di balik berbagai pencapaian tersebut, Diky tak menampik ada satu target besar yang belum terwujud, yakni membawa Persija kembali menjadi juara liga. Ia pun secara terbuka meminta maaf kepada seluruh Jakmania atas kegagalan tersebut.
“Tapi saya tahu, semua itu tetap tidak akan pernah terasa cukup karena ada satu hal yang belum berhasil saya berikan, yaitu membawa Persija juara. Dan untuk itu, saya minta maaf sebesar-besarnya kepada seluruh Jakmania,” ungkapnya penuh penyesalan.
Diky menyadari bahwa dalam dunia sepak bola, trofi adalah tolok ukur utama. Ia pun mengakui bahwa kegagalannya mempersembahkan gelar akan selalu menjadi luka yang ia bawa ke depan.
“Sebesar apapun usaha yang sudah dilakukan, pada akhirnya yang paling diingat dalam sepakbola adalah piala. Saya gagal membawa Persija kembali menjadi juara liga di masa kepemimpinan saya,” lanjutnya.
Tak hanya soal prestasi, Diky juga merefleksikan perjalanan kepemimpinannya yang penuh dinamika. Ia mengakui tidak sempurna dan mungkin telah membuat banyak pihak kecewa.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa semua yang dilakukan selalu dilandasi rasa cinta kepada Persija dan Jakmania.
“Saya bukan ketua umum yang sempurna. Saya sering salah, sering gagal. Tapi percayalah, tidak pernah sekalipun saya menjalankan amanah ini tanpa rasa cinta kepada Persija dan Jakmania,” tegasnya.
Menutup pernyataannya, Diky berharap Jakmania ke depan bisa menjadi organisasi yang lebih kuat, dewasa, dan tetap menjadi rumah bagi seluruh pecinta Persija. Ia menegaskan bahwa kepemimpinan bisa berganti, tetapi eksistensi Jakmania harus tetap terjaga.
“Nama ketua umum akan datang dan pergi. Tapi Jakmania harus tetap hidup, tetap besar, dan tetap berdiri untuk Persija,” tutupnya.
Kepergian Diky Soemarno menandai akhir satu era di tubuh Jakmania. Kini, harapan baru pun muncul agar kepemimpinan selanjutnya mampu membawa energi segar, termasuk mewujudkan mimpi besar yang selama ini belum tercapai, yakni melihat Persija kembali mengangkat trofi juara.