- tvOnenews.com - Taufik Hidayat
Kiper Timnas Indonesia Emil Audero Diam-Diam Sampaikan Penyesalan ke Media Italia, Kenapa?
Jakarta, tvOnenews.com - Penjaga gawang baru Timnas Indonesia, Emil Audero, menyampaikan kepada media Italia bahwa dirinya memiliki sebuah penyesalan.
Pada jeda internasional Maret lalu, skuad Garuda bermain menghadapi Australia dan Bahrain pada lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2026.
Audero masuk dalam skuad untuk pertama kalinya setelah dinaturalisasi sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) pada Maret lalu.
- instagram/emil_audero
Namun, sang penjaga gawang kelahiran Lombok belum mendapatkan kesempatan debut bersama Timnas Indonesia.
Maarten Paes masih diberi kepercayaan tampil secara reguler oleh Patrick Kluivert, sebagaimana pendahulunya di Timnas Indonesia, Shin Tae-yong.
Audero diperkirakan akan melakoni debutnya pada 5 Juni 2025 mendatang, dengan menghadapi China karena Paes akan absen akibat akumulasi kartu kuning.
Sekembalinya ke Italia, sang kiper berusia 28 tahun bermain secara reguler untuk klubnya, Palermo, dengan tampil berturut-turut dalam tiga laga beruntun pada kasta kedua Liga Italia, Serie B.
Namun, dalam laga terkininya melawan Bari, Palermo menderita kekalahan dengan skor 1-2 pada 11 April 2025.
Kekalahan tersebut sangat disesali oleh Emil Audero karena laga itu membuatnya sangat tersakiti karena hasil pertandingan tersebut.
- tvOnenews.com - Ilham Giovanni
“Kekalahan yang menyakitkan di Bari? Ya kira-kira demikian. Itu adalah kekalahan yang mungkin, mengingat bagaimana jalannya pertandingan, bisa jadi imbang. Kami tentu tidak senang dengan itu, kami marah,” kata Audero, sebagaimana dilansir dari media Italia, Live Sicilia.
“Namun, pada akhirnya, kami harus menatap ke depan, kami memiliki laga penting di depan yang harus kami perlakukan sebagai final dan kami harus meraih sebanyak mungkin poin,” sambungnya.
Gol kemenangan Bari tercipta pada menit ke-89 dan Audero pun mengaku sangat menyesali gol yang diciptakan oleh Lorenco Simic.
“Penyesalannya adalah tidak bisa bergerak di klasemen, karena sebuah poin selalu lebih baik ketimbang tidak sama sekali,” lanjut mantan kiper Juventus dan Inter Milan itu.
“Selalu demikian, karena dalam jangka panjang, itu berarti. Jadi kami tentunya tidak senang. Kami hebat dalam cara kami untuk bangkit,” tandasnya.