- Ajax
Legenda Ajax Amsterdam Kritik Maarten Paes, Kiper Timnas Indonesia Itu Dibilang Merepotkan, Kok Bisa?
tvOnenews.com - Penjaga gawang Timnas Indonesia, Maarten Paes, kembali menjadi bahan diskusi di Belanda setelah menjalani laga keduanya bersama Ajax Amsterdam di ajang Eredivisie musim 2025/2026.
Setelah debutnya berakhir imbang 1-1 melawan NEC Nijmegen, Paes kembali dipercaya tampil saat Ajax menghadapi PEC Zwolle pada pekan ke-25.
Pertandingan di MAC³PARK Stadion, Minggu (01/03/2026) malam WIB, ditutup dengan skor kacamata 0-0.
Secara statistik, Paes tampil solid. Ia mencatat dua penyelamatan krusial, dua diving save, dua saves in the box, 11 recoveries, serta satu kali sapuan.
- Ajax
Platform statistik FotMob bahkan memberinya rating 7,8, tertinggi di skuad Ajax pada laga tersebut.
Namun, performa impresif di bawah mistar tak sepenuhnya meredam kritik.
Di balik catatan clean sheet, Paes sempat melakukan beberapa kesalahan distribusi yang berpotensi fatal.
Beruntung bagi Ajax, lini depan Zwolle gagal memaksimalkan momen tersebut sehingga gawang tetap aman.
Dua analis ESPN Nederland, Kenneth Perez dan Marciano Vink, menilai masalah utama Ajax justru terletak pada hilangnya penguasaan bola yang terlalu sering.
Dalam analisis mereka, Paes disebut menjadi salah satu faktor yang memperparah situasi.
Perez secara blak-blakan melontarkan kritik pedas setelah melihat sejumlah cuplikan pertandingan.
"Mereka memiliki kiper yang paling merepotkan dalam sejarah," kata Perez dikutip dari Voetbal Primeur.
"Paes itu, dia memainkan bola-bola paling gila. Anda harus menjaganya dengan bersih, atau tidak menjaganya sama sekali," lanjut analis asal Denmark itu.
Pernyataan tersebut merujuk pada gaya distribusi Paes yang dinilai terlalu berisiko dalam membangun serangan dari belakang.
Filosofi permainan Ajax memang mengharuskan kiper aktif terlibat dalam sirkulasi bola, sebuah tradisi yang sudah mengakar sejak era Total Football dan terus dipertahankan hingga kini.
Sebagai catatan, dalam dua pertandingan terakhir, Ajax kerap kesulitan menghadapi pressing tinggi lawan.
Situasi ini memaksa Paes untuk mengambil keputusan cepat, baik dengan umpan pendek berisiko maupun bola panjang yang kadang kurang akurat.