- instagram pssi
Innalillahi, Legenda Timnas Indonesia Riono Asnan Meninggal Dunia, Ini Jejak Karier dan Prestasinya
tvOnenews.com - Sepak bola Indonesia kembali kehilangan salah satu sosok penting dalam sejarahnya. Legenda Timnas Indonesia, Riono Asnan, dikabarkan meninggal dunia pada Rabu, 4 Maret 2026.
Kabar duka ini menyelimuti dunia sepak bola nasional, terlebih bagi para pencinta klub legendaris Surabaya yang pernah menjadi rumah besar bagi sang pemain.
Kepergian mantan bek tangguh yang juga pernah berperan sebagai gelandang ini diumumkan secara resmi oleh Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) melalui akun media sosial mereka.
Dalam unggahannya, federasi sepak bola Indonesia tersebut menyampaikan belasungkawa atas wafatnya sosok yang pernah menjadi bagian dari skuad Garuda pada akhir 1970-an hingga awal 1980-an.
“Turut berduka atas berpulangnya Riono Asnan, bek tengah dan gelandang Timnas Indonesia 1979-1983,” tulis PSSI dalam unggahan resminya.
Berdasarkan data dari Transfermarkt, Riono Asnan lahir di Surabaya pada 15 Januari 1958. Ia menghembuskan napas terakhir pada usia 68 tahun, meninggalkan jejak panjang dalam perjalanan sepak bola nasional.
Perjalanan Karier Riono Asnan Bersama Persebaya
Nama Riono Asnan tak bisa dipisahkan dari klub kebanggaan Kota Pahlawan, Persebaya Surabaya. Karier sepak bolanya berkembang bersama klub tersebut sejak usia muda.
Riono memulai perjalanan dari tim junior Persebaya. Berkat kemampuan bertahan yang solid dan kecerdasan membaca permainan, ia berhasil menembus skuad senior.
Di masa itu, Riono dikenal sebagai pemain serbabisa yang mampu bermain sebagai bek tengah maupun gelandang bertahan.
Salah satu momen penting dalam karier awalnya terjadi pada ajang Piala Soeratin 1979. Saat itu, Riono menjadi bagian dari skuad Persebaya yang berhasil melaju hingga partai final.
Dalam pertandingan puncak tersebut, ia dipercaya tampil sebagai starter di posisi bek.
Hubungan emosional Riono dengan Persebaya juga tercermin dari kutipan legendarisnya yang sangat dikenal oleh suporter klub tersebut, yakni “Darahku Ijo,” sebuah ungkapan yang menegaskan kecintaannya terhadap tim berjuluk Bajul Ijo.
Namun perjalanan kariernya tidak hanya berhenti di Surabaya. Setelah beberapa tahun membela Persebaya, Riono sempat melanjutkan karier bersama klub Galatama, Niac Mitra, selama dua musim.
- Tangkapan layar facebook
Membela Timnas Indonesia di Era 1980-an
Penampilan konsisten bersama klub membuat Riono Asnan mendapatkan panggilan untuk memperkuat Timnas Indonesia. Ia tercatat menjadi bagian dari skuad Garuda pada periode 1979 hingga 1983.
Salah satu turnamen internasional yang diikutinya adalah SEA Games 1981. Saat itu, Riono dipanggil untuk memperkuat Timnas Indonesia setelah tampil bersama klub Tunas Inti pada periode 1980–1982.
Selain itu, ia juga masuk dalam skuad Timnas Indonesia yang berlaga di ajang Kualifikasi Piala Dunia 1982. Tim nasional kala itu berada di bawah arahan pelatih legendaris Indonesia, Endang Witarsa.
Kehadiran Riono dalam tim memberikan stabilitas di lini belakang. Kemampuannya membaca serangan lawan serta kepemimpinannya di lapangan menjadikannya salah satu pemain yang cukup diperhitungkan pada era tersebut.
Dari Pemain Hingga Pelatih
Menjelang akhir kariernya sebagai pemain, Riono Asnan sempat membela klub BPD Jateng. Di klub ini pula ia mulai menapaki jalan baru sebagai pelatih.
Saat masih aktif bermain, Riono juga merangkap sebagai asisten pelatih dan membantu pelatih kepala saat itu, Joko Malis. Pengalaman tersebut menjadi awal perjalanan panjangnya di dunia kepelatihan.
Setelah gantung sepatu, ia dipercaya menangani sejumlah klub di Indonesia. Beberapa tim yang pernah ia latih antara lain PSIS Semarang, Persijap Jepara, Persiku Kudus, Persik Kediri, hingga Persid Jember.
Dedikasi panjangnya di sepak bola Indonesia membuat Riono dikenang sebagai salah satu figur yang berkontribusi baik sebagai pemain maupun pelatih.
Kini, di tengah bulan Ramadan 2026, dunia sepak bola nasional harus melepas salah satu putra terbaiknya.
Kepergian Riono Asnan meninggalkan kenangan dan warisan penting bagi generasi pesepak bola Indonesia berikutnya. (udn)