- ANTARA
Timnas Futsal Indonesia Cetak Sejarah Tembus Ranking 14 Dunia, Hector Souto Justru Bongkar Masalah Besar Soal Kompetisi
Jakarta, tvOnenews.com - Pelatih Timnas Futsal Indonesia, Hector Souto, memilih meredam euforia usai Skuad Garuda mencetak sejarah dengan menembus peringkat 14 dunia versi FIFA. Alih-alih larut dalam perayaan, pelatih asal Spanyol itu justru melontarkan kritik tajam soal fondasi futsal Indonesia yang dinilainya masih rapuh.
Menurut Hector Souto, pencapaian luar biasa Timnas Futsal Indonesia seharusnya menjadi alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan. Ia menilai keberhasilan tim saat ini belum didukung sistem kompetisi dan pembinaan yang benar-benar matang.
Dalam rilis ranking terbaru FIFA per Jumat (8/5/2026), Timnas Futsal Indonesia memang sukses mencatat sejarah baru. Skuad Garuda kini resmi menempati posisi ke-14 dunia dan masuk jajaran elite futsal Asia.
Pencapaian tersebut menjadi yang terbaik sepanjang sejarah futsal Indonesia. Kenaikan ranking itu juga menegaskan perkembangan pesat yang ditunjukkan Timnas Futsal Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
- Instagram @kelme.id
Meski demikian, Hector Souto menolak cepat puas dengan situasi saat ini. Ia menilai masih banyak pekerjaan rumah besar yang harus segera dibenahi jika Indonesia ingin terus bertahan di level tertinggi.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Souto mengaku bangga terhadap perjuangan para pemain Timnas Futsal Indonesia. Namun, ia juga tidak menutup mata terhadap berbagai kekurangan dalam tata kelola futsal nasional.
"Kita berhasil sampai di titik ini hampir tanpa sistem kompetisi yang terstruktur, tanpa sistem nasional yang nyata untuk deteksi talenta, dan hanya dengan turnamen-turnamen sporadis," tulis Souto.
Pernyataan tersebut langsung menjadi sorotan publik pecinta futsal Tanah Air. Souto secara terbuka menyinggung belum adanya sistem pembinaan yang kuat meski Timnas mampu meraih hasil luar biasa.
- FFI
Ia juga menyoroti banyaknya talenta muda berbakat di berbagai daerah yang gagal berkembang secara maksimal. Menurutnya, minimnya wadah kompetisi profesional membuat banyak pemain potensial kehilangan arah karier.
Souto menilai Indonesia sebenarnya memiliki modal besar untuk menjadi kekuatan utama futsal dunia. Namun, potensi itu harus diimbangi dengan pembinaan usia muda dan sistem kompetisi yang jelas serta berkelanjutan.
Keberhasilan Timnas Futsal Indonesia sendiri tidak datang secara tiba-tiba. Dalam lima bulan terakhir, Hector Souto sukses membawa perubahan besar terhadap performa Skuad Garuda.
Salah satu pencapaian paling fenomenal terjadi saat Indonesia meraih medali emas SEA Games 2025. Ketika itu, Timnas Futsal Indonesia tampil luar biasa dengan menghancurkan Thailand 6-1 di kandang lawan.
- Instagram - Timnas Futsal Indonesia
Tak hanya itu, Indonesia juga sukses menjadi runner-up Piala Asia 2026. Bahkan, Timnas mampu memaksa raksasa Asia, Iran, bermain hingga drama adu penalti di partai final.
Performa impresif lainnya terlihat ketika Indonesia berhasil menumbangkan sejumlah tim kuat Asia. Jepang dan Vietnam menjadi korban keganasan permainan Timnas Futsal Indonesia racikan Hector Souto.
Kini, Indonesia hanya berada di bawah Iran, Thailand, dan Jepang di level Asia. Posisi tersebut membuat Indonesia resmi menjadi salah satu kekuatan elite futsal Benua Asia.
Bagi Souto, ranking 14 dunia harus menjadi momentum untuk menyatukan seluruh elemen futsal nasional. Ia berharap federasi, klub, sekolah, hingga pemerintah dapat berjalan dengan visi yang sama demi kemajuan futsal Indonesia.
"Sekarang bayangkan apa yang bisa dicapai Indonesia jika kita benar-benar bersatu. Ini membutuhkan organisasi, struktur, dan kerja sistematis. Kita bisa!" kata Souto.
Pesan Hector Souto pun terdengar jelas di tengah kebanggaan publik atas prestasi Timnas Futsal Indonesia. Ia tidak ingin Garuda terbang tinggi dengan fondasi yang rapuh dan tanpa sistem yang kuat.
Perbaikan manajerial, kompetisi berjenjang, hingga pembinaan akar rumput dinilai menjadi harga mati. Sebab, tanpa sistem yang baik, posisi elite yang kini diraih Indonesia akan sulit dipertahankan dalam jangka panjang. (igp/fan)