news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Diejek Tidak Miliki Ayah, Tangisan Ibu Siswa Korban Perundungan Pecah

Rabu, 2 September 2026 - 11:02 WIB
Reporter:

Jakarta, tvOnenews.com - Seorang ibu di Kota Medan, Sumatera Utara, meminta keadilan setelah anak laki-lakinya yang berusia 8 tahun diduga menjadi korban perundungan di sekolah. Perundungan tersebut disebut terjadi berulang dan membuat korban enggan kembali belajar.

Ibu korban, Novi Indriani, mengatakan anaknya telah mengalami ejekan sejak duduk di kelas 2 sekolah dasar. Korban disebut beberapa kali diejek karena tidak memiliki ayah. Masalah tersebut sempat diselesaikan dengan guru, tetapi kembali terjadi ketika korban memasuki kelas 3.

Novi mengatakan anaknya kembali mendapat ejekan dari teman-teman sekelas setelah tahun ajaran baru dimulai. Korban disebut disoraki dengan perkataan yang menyinggung kondisi keluarganya. Situasi tersebut membuat korban merasa malu dan tertekan hingga menyatakan tidak ingin lagi bersekolah.

Persoalan kemudian berkembang setelah Novi mendatangi pihak sekolah untuk meminta penjelasan. Ia mengaku sempat bertemu dengan wakil kepala sekolah setelah wali kelas korban sedang cuti. 

Menurut Novi, setelah dirinya menyampaikan keluhan sambil menangis, anaknya justru kembali mendapat perlakuan yang membuatnya merasa dipermalukan di depan teman-temannya.

Novi juga mengaku anaknya pernah diminta untuk mencari sekolah lain. Ia mempertanyakan alasan pihak sekolah meminta anaknya pindah, sementara menurutnya korban justru membutuhkan perlindungan dan pendampingan.

Novi menyebut persoalan tersebut telah dilaporkan kepada Pemerintah Kota Medan, Dinas Pendidikan Kota Medan, serta lembaga perlindungan anak. Ia berharap laporan tersebut segera ditindaklanjuti agar anaknya dapat kembali memperoleh rasa aman untuk bersekolah.

Psikolog anak Irma mengatakan dampak perundungan tidak hanya berupa luka fisik, tetapi juga dapat menimbulkan trauma psikologis dalam jangka panjang. Menurut dia, kasus perundungan yang berulang menunjukkan adanya ekosistem yang tidak sehat sehingga membutuhkan penanganan secara menyeluruh.

Irma Gustiana menilai proses pemulihan psikologis korban membutuhkan waktu dan pendampingan yang konsisten. Orang tua dan lingkungan terdekat perlu memastikan anak merasa aman, sekaligus memenuhi kebutuhan dasarnya seperti makan, istirahat, dan dukungan emosional.

Novi mengatakan saat ini kondisi anaknya masih dalam pemulihan dan sempat mengalami demam. Ia berharap ada penyelesaian yang memberikan rasa keadilan sekaligus memastikan putranya dapat kembali belajar tanpa mengalami perundungan.

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:04
01:37
04:59
06:02
01:14
00:50

Viral