Pakar Vulkanologi: Perlu Pemeriksaan Menyeluruh Untuk Pesawat yang Terkena Abu Vulkanik
Jakarta, tvOnenews.com - Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau menunjukkan tren menurun, tetapi sebaran abu vulkanik masih menjadi ancaman bagi penerbangan dan kesehatan masyarakat.
Pemerintah pun belum membuka seluruh bandara terdampak sebelum kondisi benar-benar dinyatakan aman.
Di Bandara Radin Inten II Lampung, operasional penerbangan masih ditutup. Sebanyak 29 penerbangan pada Senin (7/9/2026) dibatalkan dengan lebih dari 5.000 penumpang terdampak.
Calon penumpang memilih berbagai opsi, mulai dari meminta pengembalian tiket, melakukan reschedule, mengubah jadwal penerbangan, hingga melanjutkan perjalanan melalui jalur darat dan laut dari Lampung menuju Bandara Soekarno-Hatta.
Pengelola Bandara Radin Inten II juga masih membersihkan sisa abu vulkanik di area bandara.
Pembersihan dilakukan untuk mencegah abu kembali beterbangan dan masuk ke mesin pesawat ketika operasional penerbangan dibuka.
Pakar vulkanologi ITB dan IAGI, Mirzam Abdurrahman, mengatakan proses pembersihan tidak cukup dilakukan pada badan pesawat.
Area apron, runway, hingga bagian pesawat, terutama mesin, harus diperiksa secara menyeluruh.
Menurutnya, abu vulkanik berbahaya ketika masuk ke mesin pesawat pada kecepatan dan temperatur tinggi.
Selain dapat menyebabkan goresan, abu juga dapat meninggalkan material bersifat asam yang berpotensi menyebabkan korosi.
Karena itu, pembersihan pesawat membutuhkan metode dan bahan khusus, termasuk deterjen untuk menghilangkan sisa material asam.
Mirzam menjelaskan luasnya sebaran abu vulkanik Anak Krakatau dipengaruhi tiga faktor utama, yakni energi letusan, arah angin, dan jenis abu.
Energi letusan menentukan seberapa tinggi kolom erupsi. Jika kolom abu mencapai ketinggian jalur penerbangan yang umumnya berada sekitar 9-12 kilometer, abu dapat mengganggu lalu lintas pesawat.
Faktor angin juga berpengaruh karena arah angin dapat berbeda pada setiap ketinggian. Kondisi itu membuat abu yang berada di lapisan atmosfer berbeda dapat bergerak ke arah yang berbeda pula.
Sementara itu, jenis abu Anak Krakatau relatif ringan sehingga mudah terbawa ke atmosfer dan menyebar dalam jarak jauh.
Untuk mengurangi dampak abu, pemerintah melakukan sejumlah langkah, termasuk penyiraman jalan agar abu tidak kembali beterbangan dan persiapan modifikasi cuaca.
Mirzam mengatakan pembukaan bandara perlu dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi sebaran abu terkini, termasuk bandara yang berada lebih dekat dengan Gunung Anak Krakatau.
Di sisi lain, aktivitas vulkanik Anak Krakatau menunjukkan sejumlah indikator yang cenderung menurun. Meski demikian, Mirzam mengingatkan kondisi tersebut tidak berarti erupsi telah berhenti sepenuhnya.
Ia meminta masyarakat tetap mengikuti arahan PVMBG terkait zona bahaya, menggunakan perlindungan yang sesuai saat beraktivitas, serta mengikuti arahan evakuasi jika kondisi berubah menjadi darurat.
Menurut Mirzam, masyarakat juga dapat ikut mengamati perubahan kondisi di lingkungannya sebagai pelengkap informasi dari lembaga resmi.
Namun, kewaspadaan tetap diperlukan karena aktivitas gunung api dapat kembali meningkat sewaktu-waktu.