Kembali Dibuka, Antrean Panjang Terjadi di Bandara Soetta
Tangerang, tvOnenews.com - Sebanyak 2.961 penerbangan terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau dan sebaran abu vulkanik dalam dua hari terakhir.
Dari jumlah tersebut, 2.339 merupakan penerbangan domestik dan 622 penerbangan internasional.
Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, yang sebelumnya ditutup sementara, mulai kembali melayani penerbangan sejak Selasa (8/9/2026) setelah hasil pemantauan menunjukkan kondisi ruang udara lebih aman.
Pembukaan operasional dilakukan secara bertahap setelah hasil paper test menunjukkan tidak ditemukan abu vulkanik yang membahayakan keselamatan penerbangan.
Selain Soekarno-Hatta, sejumlah bandara lain juga mulai kembali beroperasi, di antaranya Halim Perdanakusuma, Husein Sastranegara, Pondok Cabe, dan Budiarto.
Namun, beberapa bandara masih ditutup, termasuk Radin Inten II, Taufik Kiemas, dan Salakan.
Sementara itu, di Terminal 1B Bandara Soekarno-Hatta, aktivitas penumpang kembali meningkat. Calon penumpang mulai memadati area check-in untuk melanjutkan perjalanan yang sebelumnya tertunda akibat penutupan bandara.
Salah satu penumpang, Noval, mengaku sempat terdampak pembatalan penerbangan menuju Padang pada Minggu (6/9/2026).
Setelah melakukan penjadwalan ulang, ia mendapat kepastian untuk kembali terbang pada Selasa.
Noval mengatakan sempat mempertimbangkan perjalanan melalui jalur darat jika penerbangan kembali tidak dapat dilakukan.
Pemerintah mencatat dampak gangguan penerbangan selama dua hari mencapai sekitar 341.000 penumpang. Di Bandara Soekarno-Hatta sendiri terdapat 996 penerbangan terjadwal dengan estimasi 154.000 penumpang pada Selasa.
Pakar vulkanologi ITB dan IAGI, Mirzam Abdurrahman, mengatakan keputusan membuka kembali penerbangan harus dilakukan secara hati-hati meski hasil paper test telah negatif.
Menurut Mirzam, penelitian terhadap sampel abu vulkanik pada 6 dan 7 September menunjukkan ukuran partikel semakin halus. Kondisi tersebut menjadi salah satu indikasi energi erupsi mulai menurun.
Meski berukuran sangat kecil, abu vulkanik tetap berbahaya bagi pesawat karena dapat menggores komponen mesin, menyebabkan korosi, hingga meleleh akibat temperatur tinggi dan menyumbat sistem pendinginan mesin.
Mirzam juga menyebut sejumlah indikator aktivitas Gunung Anak Krakatau menunjukkan tren penurunan, mulai dari kegempaan, temperatur, jenis gas, hingga ukuran partikel abu vulkanik.
Kolom erupsi dan tinggi lava fountain juga disebut semakin rendah. Namun, kondisi tersebut belum dapat menjadi tanda bahwa erupsi telah sepenuhnya berakhir.
Ia meminta masyarakat tetap waspada dan mengikuti informasi resmi terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau. Pemerintah juga perlu terus memantau kondisi ruang udara sebelum membuka seluruh bandara yang masih terdampak.
Sementara itu, calon penumpang diimbau memeriksa status penerbangan melalui kanal resmi maskapai sebelum berangkat ke bandara karena jadwal penerbangan masih dapat berubah mengikuti perkembangan kondisi abu vulkanik.